Perjuangan Dedi Kenalkan Kopi Excelsa dan Liberika dari Kalteng

Aduh itu kayak orang yang sudah putus asa. Saya coba ngolah kopi, goreng kopi, kok nggak enak. Lama prosesnya itu, hampir setengah tahunan. Sampai akhirnya saya coba, rasa kopinya itu kok hampir setara dengan kopi yang dijual orang yang sudah profesional

KBRN, Palangka Raya: Tanaman kopi cukup banyak ditemukan di daerah-daerah se-Kalimantan Tengah. Namun tidak banyak pengusaha yang mengolahnya menjadi kopi siap seduh.

Melihat beberapa tanaman kopi di aliran Sungei Kemangkus Kabupaten Gunung Mas yang dibiarkan begitu saja, Dedi Setiadi mencoba untuk mengolahnya.

Pria kelahiran Tumbang Jutuh Kabupaten Gunung Mas ini mengaku sebelumnya sudah mencoba mengembangkan berbagai usaha dari hasil tanah Kalteng seperti karet dan rotan namun semua usahanya gagal.

“Saya sempat sebelum kopi itu macam-macam. Saya  coba ke pesisir pantai di Kalteng ngeliat potensi laut. Ternyata potensi laut juga bagus. Cuma bagi saya itu terlalu jauh dari tempat saya berdomisili, dan juga keuangan saya belum mampu untuk sampai harus jangkau ke sana. Jadi saya pikir apa saja yang ada di sekitar kita dan ternyata yang saya lihat potensinya cukup bagus waktu itu adalah kopi,” ungkap Dedi beberapa waktu lalu.

Dedi mengaku usaha kopi adalah usaha terakhirnya untuk bertahan hidup. Pria 33 tahun ini memulai usaha kopi khas Kalimantan usai habis kontrak kerja di salah satu instansi pemerintahan di Kabupaten Gunung Mas.

Bermodalkan kegigihan dan mencari penghasilan untuk bisa bertahan hidup, Dedi menceritakan bahwa usaha yang dimulai pada 2015 silam penuh perjuangan dan air mata.

“Aduh itu kayak orang yang sudah putus asa. Saya coba ngolah kopi, goreng kopi, kok nggak enak. Lama prosesnya itu, hampir setengah tahunan. Sampai akhirnya saya coba, rasa kopinya itu kok hampir setara dengan kopi yang dijual orang yang sudah profesional. Dari situ lah akhirnya saya coba lagi. Awalnya itu bergelutnya pusing. Saya sudah nggak punya modal, mau buat kemasannya aja bingung. Di situ kalau kita ada kemauan pasti ada jalan,” ujarnya.

Dedi menceritakan bahwa minimnya modal tidak menghalanginya untuk melanjutkan usaha membuat kopi bubuk khas Kalteng. Setelah mendapat bantuan dari salah satu BUMN dalam Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) sebesar Rp 25 juta, Dedi menggunakannya untuk membeli mesin giling kopi.

Sementara, untuk membeli bahan baku dan membuat kemasan di awal usahanya, Dedi sampai harus mengutang baik dengan keluarga dan kerabat bahkan di Rumah Kemasan.

Namun jerih lelahnya berbuah manis. Salah satu toko oleh-oleh di Jalan Batam yakni Toko Singapore  bersedia membeli produknya sebanyak 100 bungkus. Sejak itulah, Dedi mulai percaya diri memasarkan produk olahan kopinya. Usaha kopi khas Kalimantan dalam kemasan ini diberinya nama Kaltfood.

Dedi mengatakan bahan kopi untuk produk-produk Kaltfood saat ini tidak hanya dipasok dari petani di Sungei Kemangkus Gunung Mas tapi hampir dari seluruh kabupaten di Kalteng. Menurutnya, kopi yang dipasarkannya tidak seperti yang dipasarkan di Indonesia pada umumnya. Kaltfood lebih banyak menggunakan varietas Excelsa dan Liberika dibandingkan Robusta maupun Arabika. 

“Kalau varietas di Kalteng kebanyakan tumbuh kopi peninggalan jaman Belanda. Jadi itu pun penyebaran bukan pada umumnya Arabika sama Robusta. Itu kan varietas unggulan turunan. Kalau kita punya asalannya seperti Excelsa dan Liberika. Itu varietas asalan,” jelasnya.

Penerima beasiswa lulusan Sekolah Tinggi Manajemen Industri di Jakarta ini mengharapkan usaha kopi yang sudah ia rintis dari nol ini dapat terus berkembang.

“Mottonya Kaltfood ini kan ada sebuah tulisan di setiap kemasan ‘Merajut mimpi dengan senyum keindahan’. Kita ingin apa yang kita buat jadi senyuman buat semua orang. Mudahan Kaltfood ke depan bisa membanggakan masyarakat Kalteng, bagi saya sendiri khususnya membanggakan keluarga, diri sendiri dan orang lain,”harapnya.

Saat ini produk-produk Kaltfood seperti Coka Munyin Coffee, Coka Peaberry Coffee, Coka Med Coffee, Dayak Coffee dan yang terbaru Teh 850 Bajakah sudah ada di toko oleh-oleh se-Kalimantan. Bahkan, kopi dari petani di Kalimantan Tengah ini sudah menembus pasar Jabodetabek. (foto: arsip Coka Coffee)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00