Bulog Kalteng : Suplay Sembako Tak Terpengaruh Akibat Gelombang Laut dan La Nina

KBRN, Palangka Raya : Badan Urusan Logistik (Bulog) Kalimatan Tengah memastikan, stok sebagian kebutuhan pokok masyarakat, aman hingga akhir Januari 2021.

Hal ini diungkapkan Kepala Divisi Regional Badan Urusan Logistik Kalimantan Tengah, Mika Ramba kepada RRI Senin (30/11/20) dijelaskan, ancaman cuaca ekstrem di akhir desember ditambah dengan munculnya la nina, tidak mempengerahui distribusi sembako ke gudang Bulog.

“Karena jauh hari sebelumnya pihaknya sudah menyurati sejumlah distributor, untuk mengirimkan lebih banyak logistik lebih awal di bulan November dan awal Desember 2020,” katanya.

Mika menyebut sebagian kebutuhan pokok masyarakat seperti gula, tepung, beras, minyak goreng, daging beku semua sudah ada di gudang Bulog, sehingga masyarakat dapat membelinya dengan harga terjangaku di pasar rakyat milik Bulog dan pasar penyeimbang. Karena selisih harga yang ditawarkan berkisar 10 persen lebih.

Terkait tidak menentunya kebutuhan sembilan pokok di pasar tradisional, Bulog tidak bisa mengintervensi harga, karena bukan ranahnya, yang bisa dilakukan adalah berupaya menyeimbangkan sebagian harga kebutuhan pokok, agar masyarakat tidak terlalu terbebani di tengah pandemi covid 19.

Di tempat terpisah, Salah Satu Pedagang Pasar Kahayan Suprianto mengatakan, akibat tingginya gelombang laut, sejumlah kebutuhan pokok alami harganya tidak stabil, semua bergantung hukum pasar manakala stok sedikit kemudian permintaan meningkat, maka harganya menjulang naik, contoh signifikan terjadi pada harga wortel dan kentang naiknya mencapai Rp 10 ribu dari harga normal, begitu halnya dengan harga bawang merah dan bawang putih. Mengingat jenis komoditi tersebut di datangkan dari Pulau Jawa, otomatis dengan tingginya gelombang laut mempengaruhi pengiriman. Berbeda halnya dengan harga daging ayam potong, disuplay dari dalam negeri dan Provinsi tetangga, terkadang mengikuti hukum pasar, selama stok sedikit permintaan meningkat, harga merangkak naik.

“Adanya gejolak harga tidak stabil kata supri, mempengaruhi jumlah masyarakat pergi ke pasar tradisional, lebih banyak masyarakat saat ini memilih menunggu situasi harga kembali normal seperti sedia kala dan sebagian ada yang beralih ke daging beku yang relative terjangkau dengan selisih harga mencapai 10 persen,” tutupnya

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00