Bangunan Berubah Jadi Sarang Walet Dikeluhkan Warga Palangka Raya

KBRN, Palangka Raya : Maraknya bangunan berubah fungsi jadi sarang walet, mulai dikeluhkan masyarakat, dan keberadaan perda terkait penganturan tempat dibolehkannya lokasi ada sarang walet dianggap belum efektif.

Salah seorang masyarakat Hidayat, menyesalkan kurang tegasnya peraturan mengenai banyaknya banngunan di Palangka Raya alih fungsi, padahal di dalam aturan jelas, tidak diperbolehkan mendirikan walet di tengah permukiman, sekolah dan ibadah.

“Kami meminta dinas terkait dapat mengkaji ulang sejumlah sarang walet, kalau perlu yang melanggar dilakukan penertiban secara persuasif disertai dengan penyelesaian masalah,” kata Dayat kepada RRI Jum’at (28/8/20)

Sementara itu, menanggapi banyaknya bangunan pertokoan berubah menjadi sarang walet, kepala Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah Aratuni D Djaban mengaku kesulitan memungut pajak, padahal target pajak dari sarang walet cuma Rp 127 juta pertahun, tetapi dalam penarikan terkadang kurang maksimal, kecenderungan pemilik walet belum jujur dalam melaporkan penjualan hasil panennya.

“Diperlukan kerjasama ke depannya, agar pajak walet tiap tahunnya dibayarkan rutin sesuai nilai yang sudah ditentukan,” ujarnya

Lebih jauh kata Aratuni, banyaknya bangunan berubah jadi sarang walet diduga karena tertarik oleh pendapatan yang menjanjikan setelah di panen, paling mahal nilai jual jenis sarang mangkok, per kilo bisa mencapai Rp 12 juta, apabila dibandingkan dengan target pajak untuk PAD sangat kecil.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00