Kesah Benang Bintik, Kenali dan Cintai Wastra Kalteng

KBRN, PalangKa Raya: Benang Bintik diharapkan tidak lagi dipandang hanya sekadar helaian kain atau pakaian, tetapi Benang Bintik menjadi perwujudan identitas daerah yang melukiskan kearifan lokal Kalteng dalam satu wadah yang sering dijumpai sehari-hari.  

Demikian disampaikan Nunu Andriani Edy Pratowo yang mewakili Ketua Dekranasda Kalimantan Tengah Ivo Sugianto Sabran, saat menjadi pembicara kehormatan (keynote speaker) dalam Talk Show berjudul "Kesah Benang Bintik Kalimantan Tengah" yang digelar Bank Indonesia Kalimantan Tengah dalam rangkaian Pesona Tambun Bungai 2022. 

Nunu Andriani Edy Pratowo juga menyampaikan apresiasi terhadap upaya dari Bank Indonesia Kalteng mengadakan talkshow dalam rangka menumbuhkan kecintaan masyarakat Kalteng terhadap Wastra benang bintik agar terus lestari.

"Benang Bintik juga dapat memaknai bukti nyata upaya pelestarian identitas Dayak di Kalteng sebuah seni yang berakar dari kecintaan masyarakat pada tanah dan bumi yang ditinggalinya atau dipijak," ucapnya, Sabtu (7/8/2022). 

Istri Wakil Gubernur Kalteng itu menambahkan Ketua Dekranasda Kalteng yakni Ivo Sugianto Sabran terus mendorong pelaku UMKM untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi sehingga UMKM bisa bangkit dan bisa memenuhi permintaan pasar. 

Pada kesempatan yang sama, Budayawan, Kusni Sulang, sebagai narasumber dalam talk show tersebut menyampaikan bahwa Benang Bintik merupakan akulturasi sebab orang Dayak sesungguhnya tidak punya budaya membatik. Menurut catatannya, orang Dayak zaman dulu justru lebih melakoni pembuatan tenun. 

"Benang Bintik muncul ketika Gubernur Kalteng Suparmanto melalui istrinya ingin mewujudkan budaya dan identitas Kalteng dalam bentuk buah tangan bagi orang yang datang ke Kalteng," tuturnya saat menyampaikan paparan via zoom. 

Kusni Sulang menambahkan dalam berkreasi termasuk membuat Benang Bintik harus ada kebebasan. 

"Tidak boleh siapapun termasuk agama apapun melarang. Bikin lah diskusi, debat. Jangan main serang, jangan main ancam. Jadi harus ada kebebasan," lanjutnya. 

Menurut Budayawan Kalteng ini tidak ada salahnya memasukan hal positif dari lokal dengan budaya baik dari luar. 

Dalam acara yang sama, Owner Benang Bintik Griya Berkat Indah, Bunga, yang juga menjadi narasumber Talk Show Kesah Benang Bintik Kalteng menceritakan sejarah Benang Bintik. 

Tahun 1989-1993, ketika Bapak Suparmanto menjabat sebagai Gubernur Kalteng belum ada cinderamata atau Souvenir yang dapat diberikan kepada tamu-tamu yang datang ke Palangka Raya. 

Saat itu, istri Gubernur Suparmanto selaku Ketua TP PKK mempunyai keinginan besar agar Kalteng mempunyai batik. 

"Sehingga beliau membuat suatu program agar tiap kabupaten mengirimkan perwakilan untuk belajar membatik di Pekalongan. Dibuatlah Batik khas Kalteng. Perpaduan dua budaya yang diangkat oleh beliau proses cap dan tulis dan desain motifnya Kalteng," kisahnya. 

Setelah belajar membatik selama satu bulan di Pekalongan, utusan dari Kalteng kembali ke daerah. Namun singkatnya, ketika itu hanya satu orang yang bertahan meneruskan hasil pelatihan membatik di Pekalongan. Beliau adalah bibi dari Bunga yang menekuni usaha Batik Kalteng atau Benang Bintik selama 20 tahun.

Bunga berharap semakin banyaknya pelaku usaha Benang Bintik menunjukkan bahwa makin banyak pula orang yang mencintai kain bermotif khas Dayak Kalimantan Tengah.

Selama bazar UMKM di Halaman KONI Kalteng yang berlangsung sampai Minggu (7/8/2022) juga ditampilkan dan dijual Benang Bintik kreasi dari beberapa UMKM mitra Bank Indonesia Kalimantan Tengah. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar