Dokter Hewan: Serum Konvalesen ASF Percuma Tanpa Penerapan Biosekuriti

KBRN, Palangka  Raya: Demam Babi Afrika yang menyebar di enam kabupaten/kota di Kalimantan Tengah telah mengakibatkan kematian lebih dari 2.300 ekor babi. 

Enam kota/kabupaten yang terdampak penularan virus Demam Babi Afrika yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Gunung Mas, Pulang Pisau, Katingan, Murung Raya dan Kapuas.

Kepala UPTD Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Palangka Raya, drh. Eko Hari Yuwono, mengatakan penularan virus ASF di Kota Palangka Raya masih terus berlanjut. Menurutnya, virus ASF bertahan sampai dua bulan di lingkungan seperti air dan alat-alat sekitar kandang.

Upaya penanganan virus ASF yakni dengan menyarankan kepada peternak babi untuk menjaga kebersihan dan sanitasi kandang (biosekuriti). Menurutnya, faktor lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap pencegahan penularan ASF.

Selanjutnya, untuk mengantisipasi cepat merebaknya virus ASF pada populasi babi di satu kandang, petugas melakukan penyuntikan serum konvalesen. 

“Beberapa memang kalaupun kita suntik serum konvalen cuma kalau biosekuritinya tidak bagus virusnya masuk lagi ke tubuh hewannya ya gak akan bekerja efektif, tetap aja dia akan terinfeksi dan bisa mengakibatkan kematian. Kan serum konvalen ini kan kekebalan pasif dimana dia hanya membantu menetralisir virus yang sdh ada dalam tubuh ternak babi itu sendiri,”  kata Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Kalteng, Senin (29/11/2021).

drh. Eko Hari Yuwono menjelaskan ASF merupakan penyakit pada babi yang cepat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen. Sementara, serum konvalesen ASF hanya bisa membantu 52 persen babi yang sehat dari daerah yang terpapar. (foto: inews)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar