Delapan Korporasi Petani Sudah Terbentuk di Food Estate Kalteng

KBRN, Palangka Raya: Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah, Sunarti, mengatakan di kawasan food estate saat ini sudah terbentuk 3 korporasi petani di Kabupaten Pulang Pisau dan 5 korporasi petani di Kabupaten Kapuas.

“Korporasi petani saat ini kan sudah terbentuk ada 8, di Kapuas dan Pulang Pisau. Dari modal usaha mereka kita melakukan bimbingan apa yang bisa mereka kerjakan. Dengan modal sesuai kemampuan mereka, karena saham, kepemilikan saham. Kami membimbing untuk mendapatkan KUR (Kredit Usaha  Rakyat, karena untuk PT. Gapoktan ini bisa KUR dengan nilai Rp 500 juta tanpa agunan ,” ujarnya, Jum’at (18/6/2021).

Sunarti menambahkan korporasi petani di kawasan food estate juga diusahakan mendapatkan program bantuan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dengan pinjaman lunak agar bisa lebih berkembang.

Kepala Dinas TPHP Kalteng menyebutkan agar lebih berkembang, korporasi petani diarahkan untuk meningkatkan kemasan hasil produksi. Menurutnya kemasan beras hasil produksi yang ada selama ini masih sangat sederhana.

Selain meningkatkan kualitas beras dari medium menjadi premium, kemasannya juga dibuat lebih baik sehingga memiliki nilai jual tinggi.

Sebelumnya, Kepala Bagian Perencanaan Wilayah Biro Perencanaan Kementrian Pertanian RI, Hermanto, mengharapkan dengan keberadaan korporasi petani dapat lebih meningkatkan kesejahteraan petani. Sebab adanya korporasi petani membuat pengelolaan food estate bisa lebih efisien dan berdaya saing karena dikelola secara kawasan dalam kelompok besar yang terintegrasi.

“Dilakukan secara integrasi berarti ada petani itu tidak hanya batas kegiatan di sekadar budidaya, memproduksi saja. Tapi dia akan mendapatkan nilai manfaat dari peningkatan nilai tambah. Jadi selama ini kalau biasa jual gabah, mungkin nanti sudah jual beras premium, beras medium ataupun jual turunan-turunannya misal jual tepung dengan industri tadi. Melalui korporasi inilah yang kita akan bangun manajemen pengelolaan food estate itu dikelola secara korporate,” jelas Hermanto.

Menurut Hermanto per kawasan seluas 10 ribu hektar akan dikelola oleh satu korporasi petani. Dipastikan, kehadiran korporasi petani nantinya tidak akan mematikan usaha yang sudah ada selama ini. Justru menurutnya, keberadaan korporasi petani akan memperkuat usaha yang ada dan menekan biaya-biaya karena dikerjakan dalam skala besar.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00