Kebijakan Tatap Muka di Sekolah Dinantikan Orang Tua Siswa

KBRN, Palangka Raya: Kebijakan Pemerintah Pusat membolehkan pembelajaran tatap muka pada awal tahun depan di tengah pandemi Covid-19 disambut baik sejumlah pihak. Diantaranya orang tua yang mengalami kesulitan dalam membimbing anak untuk belajar dari rumah.

Salah seorang orang tua siswa, Antonia Mariana Dayman, mengatakan cukup kewalahan karena anak belum bisa belajar tatap muka di sekolah. Menurutnya, karena bukan berasal dari latar belakang ilmu pendidikan, ia memiliki kesulitan untuk mengajari anak meskipun untuk mata pelajaran yang sederhana.

“Sangat luar biasa kewalahan. Artinya saya walaupun kan dalam segi pendidikan itu tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga adalah nilai pertama norma untuk pendidikan anak. Tetapi dalam basic untuk peningkatan kompetensi untuk cakrawala pengetahuan anak ya tetap dari sekolah sih kalau saya pribadi. Artinya saya juga pun tidak dasar basicnya sebagai seorang guru, dari kompetensi bidang lain,” ujar Antonia kepada RRI, Selasa (24/11/2020).

Antonia mengapresiasi kebijakan pemerintah dengan menyediakan kuota internet gratis untuk mendukung pembelajaran daring (online). Namun menurutnya, tidak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran secara daring dirasa kurang efektif. Kontrol dari pendidik terhadap perkembangan siswa tidak maksimal karena hanya sebatas pengumpulan tugas yang diberikan.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Duwel Rawing, mengatakan meski sudah diperbolehkan, kebijakan pembelajaran tatap muka tetap diserahkan Menteri Pendidikan kepada pemerintah daerah.

Duwel mengatakan banyak hal yang harus disiapkan sebelum pembelajaran tatap muka di sekolah diterapkan. Selain penambahan fasilitas, sistem pembelajaran harus diatur sesuai dengan menerapkan protokol kesehatan agar tidak justru menimbulkan klaster sekolah.

“Hanya yang belum tersentuh itu biasanya wastafelnya. Itu masih belum banyak. Tapi itu mau tidak mau harus disiapkan, supaya nanti anak-anak sebelum masuk ke ruangan kan harus ada tempat cuci tangan yang cukup. Jangan sampai nanti cuci tangan itu berkerumun, tidak cukup banyak tempatnya sehingga itu menyebabkan mereka berdesak-desakan. Maklum saja anak-anak kan harus disiapkan sarananya dan ada yang mengaturnya supaya mereka tidak berkerumun,” kata Duwel Rawing.

Ketua Komisi III DPRD Kalteng ini menambahkan pembelajaran tatap muka di era tatanan kehidupan baru nantinya menuntut guru-guru untuk menambah jam mengajar. Sebab nantinya siswa akan diatur jadwal belajar tatap muka secara bergantian agar tidak terjadi penumpukan siswa di dalam satu kelas.

Duwel mengatakan awal tahun depan kemungkinan masih ada daerah yang tidak dapat melakukan pembelajaran tatap muka karena berstatus zona merah. Untuk itu, penyesuaian kurikulum bahan ajar dalam pembelajaran daring perlu disiapkan selain sarana prasana pendukung lainnya seperti penambahan jaringan internet dan lain-lain.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00