Banjir Besar Landa Kalteng, Tinjau Ulang Pembukaan Lahan Baru untuk Perkebunan

KBRN, Palangka Raya : Dinas Perkebunan menyebut, Kalimantan Tengah merupakan salah satu penghasil komoditas perkebunan terbesar di Indonesia dengan tingkat pertumbuhan mencapai 13,57 persen dengan  komoditi utama berupa kelapa sawit dan karet. 

Selain itu, Kalteng juga memiliki andalan lain seperti, kakao, lada dan kopi. Namun, seiring berjalannya waktu, pembukaan lahan untuk perkebunan, diduga merusak lingkungan sekitar, sehingga menjadi salah satu faktor timbulnya banjir besar di beberapa kabupaten.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Rawing Rambang menyebut,  sektor perkebunan akan terbagi menjadi tiga wilayah, timur, tengah dan barat.

Daerah barat mencakup Kabupaten Lamandau, Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan dan Kotawaringin Timur, dimana Kelapa Sawit dan sebagian kopi menjadi produk unggulan. 

Kemudian, tengah, terkenal dengan komoditas karet. Namun terdapat juga kopi seperti robusta tapi di tanah khusus daerah rendah. Sedangkan timur, menjadi prioritas penghasil coklat.

Sementara itu,  terkait peninjauan kembali perizinan PBS yang selama ini beroperasi, pihak provinsi tetap berkomitmen akan melakukan pembenahan-pembenahan sesuai dengan Permentan nomor 98 tahun 2013.

Rawing menambahkan, saat dunia sedang dilanda Covid-19, hanya sektor perkebunan terutama sawit, masih bertahan, sehingga menurut Rawing, membangun perkebunan artinya membangun kesejahteraan juga.

"Sawit ini satu-satunya komoditi yang masih bertahan. Pertumbuhannya bisa lima sampai enam persen yang lain itu tidak bisa bertahan. Jadi sawit ini penting. Kalau kita diblok, habis lah kita. Jadi tolong buatlah image yang bagus dan jangan sampai mengganggu iklim investasi di Kalimantan Tengah," tambah Rawing, Selasa (15/9/20).

Sementara itu Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah, Dimas Hartono meminta, pemerintah tidak membuka lahan baru untuk perkebunan, karena berdampak terhadap kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan.

Pemerintah lanjut Dimas, seharusnya bisa belajar dari kondisi banjir saat ini yang melanda beberapa kabupaten di Bumi Tambun Bungai yang pada akhirnya menjadi korban dari pengalihfungsian hutan adalah masyarakat. 

"Dan akan mengganggu ekosistem tentunya karena bentang alam akan berubah. Sementara untuk proyek-proyek skala besar, tentu kita akan melihat dari sisi pembukaan lahan nya itu, apakah mengganggu makhluk hidup ya pastilah," imbuhnya. 

Kerusakan hutan hingga kini terus berlangsung, sehingga diperlukan juga tindakan bersama yang lebih serius untuk menyelamatkan hutan dari kerusakan lebih parah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00