Polda Kalteng Amankan 95 Tersangka Narkoba

KBRN, Palangka Raya : Kinerja jajaran Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam memberantas penyalahgunaan narkoba patut diacungi jempol, pasalnya selama bulan Juni tahun 2020 lalu, aparat berhasil mengungkap 76 kasus dengan 95 tersangka bersama total barang bukti narkoba seberat 1.828,8 gram kemudian ekstasi 5,5 butir dan carisoprodol sebanyak 3.005.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Dr Dedi Prasetyo, saat pemusnahan ribuan gram barang bukti narkoba bersama Kajati, BNNP, BPOM di Mapolda Kalteng, Kamis (2/6/20) mengakui, peredaran barang haram tersebut masih cukup tinggi di Bumi Tambun Bungai, terutama di Kabupaten Gunung Mas, Kotawaringin Timur dan Kota Palangka Raya. Dari tiga wilayah ini saja lanjut Dedi, berhasil diamankan 10 pengedar dan bandar sabu-sabu dengan barang bukti seberat 1.337,02 gram.

"Kita harapkan juga semua pengusaha disektor pertambangan dan perkebunan harus mampu mengecek karyawan yang bekerja secara over time. Takutnya menggunakan doping. Kami bersama pihak BNNP akan melakukan sosialisasi ke perusahaan dan nanti akan diberikan edukasi juga," tambah Dedi. 

Sementara itu, Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalteng, Brigjen Pol Edi Swasono menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian dari Universitas Indonesia bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) pusat, ditemukan prevalensi masyarakat yang terpapar narkoba terdiri dari tiga kelompok yakni coba pakai, rekreasional dan berkala. Berdasarkan prevalensi tersebut dibeberkannya, sebesar 0,70 persen pengguna narkoba dari rasio jumlah penduduk. Sementara di Kalteng, jumlah masyarakat yang terpapar, ada sekitar 19 ribu. Sehingga dapat disimpulkan, jika dalam satu gram saja bisa dikonsumsi oleh 40 orang, berarti untuk 19 ribu, memerlukan tiga kilo sabu yang beredar.

"Data tersebut relevan dengan pengungkapan yang dilakukan polda saat ini. Kejahatan narkoba ini kejahatan yang dicari dan ditemukan. Jadi semakin banyak ditemukan, berarti penindakan hukum sangat luar biasa, menandakan dirnarkoba sangat eksis melakukan pengungkapan," ucapnya.

Ditambahkan Edi, negara juga telah memiliki dua strategi besar, diantaranya memutus dari suplayer atau bandar dengan cara membuat regulasi dengan ancaman hukuman mati.

"Dengan dikeluarkannya undang-undang TPPU, sehingga bisa menyita semua aset dari hasil penjualan narkoba milik bandar untuk dimiskinkan oleh pemerintah," imbuhnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00