Masyarakat Adat di Kalteng Banyak Belum Mendapat Pengakuan

KBRN, Palangka Raya: Masyarakat Adat di Kalimantan Tengah yang telah mendapatkan pengakuan baru ada dua yakni di Desa Pilang dan Simpur Kabupaten Pulang Pisau. 

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Tengah, Ferdi Kurnianto, pada peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional mengatakan jumlah masyarakat adat di 14 kabupaten/kota yang bergabung dalam keanggotaan AMAN Kalteng sebanyak 335 kelompok masyarakat adat. Menurutnya di luar yang tergabung bersama AMAN masih cukup banyak masyarakat adat di Kalteng. 

"Sebenarnya ketika tidak ada konflik yang bersentuhan dengan masyarakat adat, tanpa ada pengakuan de jure itu sebenarnya tidak masalah. Tapi ketika terjadi situasi seperti konflik tenurial dan sebagainya, nah itu yang kemudian penting adanya legal formal bagi masyarakat adat ini," ujarnya saat Dialog Kalteng Menyapa, Selasa (9/8/2022). 

Ferdi mengatakan dalam penyelesaian konflik, cara-cara masyarakat adat kerap tidak mendapat tempat dan cenderung diabaikan. Penyelesaian konflik lebih mengarah kepada cara-cara dari luar yang tidak dipahami masyarakat adat. 

Pada kesempatan yang sama, Pemerhati Lingkungan dan Keadilan bagi Masyarakat Adat Barito Timur, Rettu, mengatakan kekurangmengertian masyarakat adat terhadap masalah hukum positif membuat masyarakat selalu berada di pihak yang salah ketika berkonflik dengan korporasi. 

"Masyarakat selalu di pihak yang salah karena mereka tidak mengerti masalah hukum. Makanya saya mau belajar masalah advokasi karena kekurangtahuan masyarakat di sini. Untuk mendapatkan hak atas tanah saja susah karena di Bartim lebih luas IUP dan HGU daripada luas Bartim," ujarnya.  

Rettu menambahkan hukum adat ke depan harus mendapat penguatan. Tujuannya agar dalam penyelesaian konflik antara masyarakat adat dengan korporasi dapat mengedepankan hukum adat. (foto: Gaung AMAN)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar