Masyarakat Diminta Bijak Dalam Bermedsos

KBRN,RRI Palangka Raya : Saatnya bijak menggunakan jari agar tidak terjerat kasus hukum atau melanggar UU Internet dan Transaksi Elektronik (ITE). Masyarakat, di era digitalisasi, perlu kritis dan cerdas dalam menggunakan media sosial maupun platform internet lainnya. Begitupun pula penyebaran informasi hoaks dan menyesatkan terkait kebijakan pemerintah maupun penanganan Covid-19 masih terjadi. Laporan Kementerian Kominfo sejak Januari 2020 sampai 4 April 2022, sedikitnya terekam 2.161 kasus hoaks dan disinformasi soal Covid-19 di dunia maya. Adapun laporan masyarakat ke kepolisian terkait UU ITE juga meningkat. Maruli warga Kota Palangka Raya kepada RRI Kamis (300622) mengatakan dengan keberadaan UU ITE di Indonesia saat ini menjadi suatu cara yang tepat bagi pengguna medsos untuk memfilter informasi yang akan di sebarkan untuk orang lain secara benar dan tepat.Agar nantinya tidak salah bermedsos karena aturan dalam UU ITE secara jelas telah mengatur bagaimana cara bermedsos secara bijak dan tidak menyimpang dari koridor atau aturan yang ada,”adanya UU ITE di Indonesia agar membuat masyarakat dapat memfilter saat bermedsos.”ucap Maruli Koordinator Bidang Literasi dan Edukasi Kominfo Kota Palangka Raya Iin Carolina mengatakan bila masyakat membuat konten atau menshare sesuatu di media sosial diharapkan yang benar atau yang positif hal ini dalam upaya untuk membentengi diri dari hal –hal negative agar tidak tersandung UU ITE. Untuk itu ,masyarakat perlu mempelajari literasi digital yang berisi etika, norma dan peraturan yang berlaku..

Transformasi digital memang menuntut masyarakat beradaptasi terhadap perubahan,” ,”kami harapkan dengan bijak bermedsos dapat memberikan informasi yang benar sesuai fakta dan tidak hoax ataupun julit.”ucap Iin Carolina

Selain itu untuk generasi muda diingatkan untuk memahami dan beradaptasi dengan dunia yang terus berubah sangat cepat. Termasuk, memahami etika dan aturan hukum yang berlaku, tidak melanggar UU ITE, KUHP, dan lainnya.selain kritis, kreatif, fleksibel, terampil, dan memiliki kemampuan digital yang baik.

Masyarakat juga dituntut siap dengan perubahan agar tidak terpinggirkan. Dari persaingan, karena , membutuhkan kemampuan yang cerdas dan pengetahuan yang luas. Apalagi perkembangan Revolusi 4.0 begitu cepat, jika tidak diimbangi etika, moral, dan landasan hukum kokoh, maka akan membawa persoalan baru.

Saat ini media sosial selain memberikan manfaat ekonomi dan sosial budaya. Di sisi lain, menciptakan kebenaran semu (post truth) dengan cara memainkan emosi dan perasaan publik. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak terlalu percaya dengan medsos.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar