Sandung Tokoh Dayak Kalteng Ngabe Soekah Harus Tetap Di jaga

KBRN,Palangka Raya : Sandung Ngabe Soekah merupakan 1 dari 8 Cagar Budaya yang telah direkomendasikan Tim Pendaftaran Cagar Budaya Kota Palangka Raya sebagai Cagar Budaya dan telah ditetapkan Oleh Pemerintah Kota Palangka Raya. Sandung Ngabe Soekah merupakan persemayaman tokoh atau leluhur Ngabe Anom Soekah Kepala Suku Pertama Kampung Pahandut yang ada Jl. DR.Murjani,Kelurahan Pahandut,Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya.

Sandung Ngabe Soekah bernilai sejarah tinggi dan dianggap sakral menjadi Icon kawasan Pahandut dan Cikal Bakal terbentuknya Kota Cantik Palangka Raya. Sandung merupakan bangunan kecil,persegi panjang ,beratap,bertiang dan terbuat dari kayu ulin atau beton dan dijadikan tempat tulang belulang orang yang telah meninggal aetekah ditewahkan di agama hindu kaharingan.

Ngabe Soekah adalah seorang tokoh masyarakat Dayak yang disegani di Desa Pahandut dan pernah sebagai Kepala Desa Pertama di bawah Kademangan Sawang pada sekitar tahun 1928. Letak Sandung Ngabe Soekah berada di persimpangan jalan Dr,Murjani dan Letkol Darmusugondo,Kecamatan Pahandut,Kelurahan Pahandut Kota Palangka Raya.

Dikawasan Sandung ini terdapat Menara yang berpondasi bulat dan tiang di atasnya berbentuk balangan-Guci berwarna kuning emas dengan ukiran Naga berwarna Hitam dan Kuning emas Di puncak tiang ini ada patung burung enggang berwarna kuning keemasan. Jika menghadap sanding Ngabe Soekah di samping kiri bisa melihat patung orang dayak sekeluarga dan di sisi sebelah kanan dapat melihat patung sepasang suami istri yang memakai pakaian khas Dayak Sementara itu bagian utama dari cagar budaya ini adalah sanding ngabe Soekah terbuat dari kayu bercorak dengan warna khas suku dayak seperti hijau,merah,kuning dan putih sedangkan tepat di samping kanan sanding Ngabe Soekah terdapat patung Sapundu dengan ukiran seorang pria dan disamping kiri terdapat sapundu dengan ukiran seorang wanita.

Menurut kepala bidang Pariwisata Dinas Pariwisata ,kebudayaan,Kepemudaan dan Olah Raga - Disparbudpora Kota Palangka Raya ,Minggu (220522) Kuncoro Adi menyampaikan pihaknya terus berupaya untuk melestarikan semua cagar budaya yang ada di Palangka Raya ada 20 yang terindikasikan meski baru 8 yang telah direkomendasikan dan patenkan oleh Pemerintah.Dan tahun ini akan diupayakan sisanya untuk dapat menjadi cagar budaya melalui berbagai macam cara diantaranya sosialisasi,”kita berupaya untuk dapat mensosialisasikan ini kepada masyarakat,agar dapat bersama Pemerintah Kota melestarikan cagar budaya ini.”jelas Kuncoro Adi

Sementara itu pencinta seni dan juga Tokoh Masyarakat Dayak Kalteng Karliansyah berpandangan semua cagar budaya di Kota Palangka Raya seperti sanding Ngabe Soekah ,memang patut di lestarikan agar tidak punah dan anak cucu kedepan dapat mengenal dan mengetahui adat istiadat yang dimiliki leluhurnya. Karliansyah juga berharap banker yang berada di Istana Isen Mulang Palangka Raya yang merupakan peninggalan bersejarah dimasa Gubernur sebelumnya yang juga sempat di kunjungi Presiden pertama Soekarno dapat dilestarikan dan mencadi cagar budaya karena nilai sejarah yang dimilikinya,”saya minta juga banker di depan Istana Isen Mulang dapat menjadi cagar budaya karena bernilai sejarah tinggi.”ucap Karliansyah

Keberadaan Sandung Ngabe Soekah yang tidak lepas dari asal mula kampung di kota Palangkaraya. bernama Dukuh Bayuh yang dipimpin oleh Bapa Handut. Dan setelah Bapa Handut meninggal, untuk mengenang jasa dan kepemimpinannya nama dukuh tersebut diganti dengan sebutan Pahandut.

Hingga saat ini Pahandut diabadikan menjadi nama kelurahan di Kota Palangkaraya. Pada suatau masa Kampung Pahandut dipimpin oleh Pambakal Sukah. Atas keberhasilannya dalam memimpin Kampung Pahandut, Sukah diberi gelar oleh pemerintah Hindia-Belanda dengan gelar Ngabe Anum.

Beliau meninggal sekitar tahun 1942 dan disemayamkan di dalam Sandung Bukit Ngalangkang yang sekarang lebih dikenal dengan nama Sandung Ngabe Sukah. Pada tanggal 15 November 1988 Sandung Ngabe Sukah mengalami kebakaran dan setahun kemudian dilakukan pemugaran Sandung untuk yang ke dua kalinya.

Di bawah bangunan Sandung terdapat pula Meriam kecil milik Ngabe Soekah selama menjadi Kepala Kampung Pahandut.

Sudah sepatutnya Cagar budaya peninggalan leluhur yang bernilai sejarah dan sarat makna nilai filosopi ini harus kita lestarikan untuk sejarah bagi anak cucu kita dimasa depan agar lebih mengenal adat istiadat yang dimiliki leluhur nya sebagai cerminan kehidupan dimasa depan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar