Kuta Bataguh Masih Sulit Dijadikan Cagar Budaya

KBRN, Palangka Raya: Legenda tentang adanya kerajaan Tanjung Pematang Sawang yang dipimpin seorang wanita bernama Nyai Undang diyakini sebagai sejarah. 

Menurut buku berjudul The Lost City: Menelusuri Jejak Nyai Undang dari Kuta Bataguh Dalam Memori Suku Dayak Ngaju, Kerajaan Tanjung Pematang Sawang yang berlokasi di Kecamatan Bataguh Kabupaten Kapuas ini ada sekitar abad ke-13 sampai abad ke-14. 

Selain ceritera lisan dari orang-orang tua Suku Dayak Ngaju, bukti sejarah juga dikuatkan dengan penemuan Kuta atau Benteng serta artefak lainnya. 

Salah seorang penggagas Film Nyai Undang, Iwan Cavalera, mengatakan keyakinan suku Dayak Ngaju bahwa sosok Nyai Undang memang pernah hidup pada abad ke-13 dan bukan sekadar sosok legenda dituliskan dalam buku The Lost City. 

"Dari Gauri dan Mansyur yang orang ahli purbakala itu membenarkan bahwa itu memang sejarah. Kemudian ada bukti artefak-artefaknya yang saat pemutaran film dipamerkan. Jadi untuk membuktikan kekuatan bahwa Nyai Undang itu ada. Kemudian ada lagi situsnya yang di daerah Bataguh itu. Jadi karena adanya bukti-bukti itu kemudian ada penggalian sejarah si penulis berani menyebutkan bahwa itu sejarah bukan legenda," ujarnya. 

Upaya analisis dan rekonstruksi area Kuta Bataguh di Kabupaten Kapuas pernah dilakukan selama 3 tahun yakni pada 2017-2019. Namun salah seorang tim ahli cagar budaya yang terlibat dalam penelitian lapangan, Gauri Vidya Dhaneswara, hingga saat ini belum berani memastikan keberadaan kerajaan Dayak di lokasi Kuta Bataguh tersebut. 

"Buku The Lost City itu menggunakan sudut pandang sejarah. Jadi dia mengumpulkan data-data hasil wawancaranya dengan narasumber. Makanya mungkin bentuk kutanya berbeda dengan hasil penelitian kami karena memang mereka tidak turun ke lapangan. Tidak melakukan ekskavasi arkeologi dan sebagainya tapi berdasarkan cerita-cerita masyarakat yang dikumpulkan. Kami arkeolog pun tidak bisa menyalahkan buku The Lost City karena mereka punya metode yang berbeda dengan kami. Makanya saya saat diminta memberikan testimoni dalam buku itu saya bersedia dan nggak masalah. Karena itu kan sudut pandang Sejarah bukan sudut pandang Arkelogi. Kalau sudut pandang Arkeologi berbeda lagi," tuturnya kepada RRI, Sabtu (4/12/2021). 

Meski belum bisa memastikan kebenaran keberadaan Kerajaan Tanjung Pematang Sawang yang dipimpin Nyai Undang, namun untuk sementara tim peneliti menyimpulkan memang ada sekelompok masyarakat yang pernah bermukim dalam Kuta Bataguh. Bahkan hasil uji karbon menunjukkan bahwa Kuta Bataguh ada pada 500 M atau masa abad ke-6. 

Namun Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Kapuas ini mengungkapkan minimnya data yang diperoleh karena peninggalan yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 10 persen. Selain itu, masyarakat yang sekarang tinggal di lokasi tersebut masih belum berani terbuka menceritakan temuan-temuan benda peninggalan masa lalu di Kuta Bataguh. 

"Cuma sangat disayangkan, ini informasi juga ke masyarakat, masalah utama pengidentifikasian dari Bataguh ini adalah hancurnya lokasi. Jadi Bataguh itu dalam tanda petik dia sudah dijarah sejak tahun 1986. Itu sudah dijarah terutama bukan oleh warga Kalteng. Itu ribuan orang yang bekerja di sana, mereka membangun camp. Banyak yang mereka dapatkan emas itu emas jadi, bukan emas seperti yang penambangan emas tradisional itu," ungkapnya. 

Gauri menambahkan pihaknya belum bisa mengajukan Kuta Bataguh sebagai cagar budaya. Selain masih terlalu minim data, Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Kapuas juga mempertimbangkan aspek sosial bila lokasi ditetapkan menjadi cagar budaya. 

Berdasarkan perhitungan arkelog, kawasan dalam Kuta atau Benteng Bataguh yang berbentuk melingkar mencapai luasan 500 hektar lebih. 

Lokasi Kuta Bataguh yang sekarang sudah menjadi tempat tinggal warga dan jalan umum. 

Kebenaran tentang keberadaan kerajaan Dayak di Kelurahan Pulau Kupang Kecamatan Bataguh masih menjadi misteri. Benarkah seorang perempuan bernama Nyai Undang pernah memimpin dalam Kerajaan Tanjung Pematang Sawang? Masyarakat seperti apa yang pernah tinggal di Kuta Bataguh yang peninggalannya mengisyaratkan kejayaan masa itu? Semoga semua pertanyaan itu akan terjawab dengan adanya bukti-bukti hasil penelitian yang didukung oleh semua pihak baik pemerintah, masyarakat, akademisi, antropolog, arkeolog dan pihak-pihak terkait.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar