Anak-anak Berharap Bisa Keluar dari Pandemi dan Bencana Banjir

KBRN, Palangka Raya: Banjir yang melanda Kota Palangka Raya berdampak buruk terhadap anak-anak. Belum lagi usai pandemi, anak-anak di kompleks Mendawai terpaksa harus mengungsi karena banjir yang melanda rumah mereka. 

Mereka yang baru saja mulai belajar tatap muka terbatas harus diliburkan kembali karena bencana banjir juga merendam sekolah mereka. 

Siswi Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Hidayatul Muhajirin, Rahmah, yang tidur di tenda pengungsian berharap bisa menjalani kehidupan seperti sebelum ada Covid-19 dan banjir. 

Rahmah rindu bisa bermain, belajar dan bersenang-senang dengan teman-temannya. 

"Mau seperti dulu lagi, nggak ada masalah apa-apa, nggak kena bencana juga. Kalau dulu kan nggak ada covid nggak ada banjir," ujarnya saat ditemui di tenda pengungsian kompleks Mendawai. 

Anak lainnya yang juga mengungsi karena rumahnya terendam banjir di Komplek Mendawai, Norliana, siswi SMP Negeri 1 Palangka Raya mengaku tidak bisa sekolah sejak rumahnya diterjang banjir. Padahal pembelajaran tatap muka baru saja dimulai.  

"Semoga lebih membaik lagi. 

Bisa belajar trus nggak ada covid lagi. Trus banjir ini bisa surut. Nggak nyaman aja. Karena keluar harus pakai masker," tuturnya. 

Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana (BP2APPKB) Provinsi Kalimantan Tengah, Ina Aden, meski terlihat gembira sebenarnya anak-anak korban banjir mengalami traumatik. Mereka tidak bisa bermain dan belajar seperti biasa. 

Untuk itu, pendampingan psikologis yang diberikan UPT PPA diharapkan dapat membangkitkan kembali motivasi anak-anak korban banjir. 

Ina Aden menambahkan untuk memberikan masa depan yang lebih baik pada anak harus ada kepedulian dari semua pihak. 

"Kita tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, orang tua sangat diperlukan kepeduliannya untuk ini. Memang pada saat suasana banjir orang tuanya sibuk evakuasi barang dan lain-lain pada saat seperti inilah pemerintah melalui dinas terkait terutama dinas kami turun langsung ke lapangan," ujarnya.

Di samping itu, lanjut Plt. Kepala Dinas P3APPKB Kalteng ini, pihaknya akan mengajak Forum Anak Kalteng untuk peduli dengan kondisi banjir yang dialami anak-anak di Posko-posko pengungsian. 

Diharapkan kehadiran mereka dapat menjadi dorongan semangat bagi teman-teman sebaya yang terkena musibah. 

20 November hari ini diperingati sebagai Hari Anak Sedunia. Tema Hari Anak 2021 yang dirilis PBB adalah Masa Depan yang Lebih Baik untuk Setiap Anak. 

Anak-anak ikut terdampak masalah perubahan iklim, pendidikan dan kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Di Hari Anak Sedunia penting bagi para pengambil kebijakan untuk mendengarkan dan peduli terhadap harapan dan cita-cita anak.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar