Ini Langkah RRI Menghadapi Disrupsi dan Post Truth

I Hendrasmo Direktur Utama RRI.jpeg

KBRN, Padang : Saat ini media massa menghadapi disrupsi digitalisasi. Menyikapi hal itu, RRI sebagai media penyiaran telah menentukan arah menggunakan media digital dalam menyebarluaskan infomasi ke masyarakat.

Direktur Utama RRI, Hendrasmo mengatakan, banyak pendengar RRI beralih ke platform-platform digital. Kita memperoleh data kredibel sebuah lembaga riset di Amerika yang melakukan penelitian di Indonesia, waktu masyarakat mendengar radio lebih kecil dibanding dengan waktu membaca berita daring, menonton video di media sosial.

“Waktu orang Indonesia mendengar radio rata-rata 33 menit per hari. Ini lebih kecil dibanding media online di kisaran 3 jam, mengakses media sosial di atas 3 jam, mengakses podcast juga tinggi,” ucapnya ketika berkunjung di Padang, Selasa (18/1/2022).

Menurut Hendrasmo, bertolak dari data itu, RRI sudah harus mengunakan platform digital dalam penyebarluasan informasi dan hiburan. Bertahap hal itu telah dilaksanakan, seperti kehadiran kanal berita daring rri.co.id, lalu radio bergambar RRI Net, RRI Play Go.

“Namun itu perlu diperluas ke platform digital lain untuk penyebarluasannya, sehingga lebih mudah dan cepat diakses publik. Artinya RRI tidak saja media penyiaran tapi telah menjadi multimedia melalui konvergensi yang dilakukan,” ujar pria pria kelahiran Magelang 9 Agustus 1972 ini.

Namun Hendrasmo menandaskan, penyebarluasan informasi menggunakan platform media digital harus dibarengi dengan kualitas konten yang diproduksi. Isi berita, informasi, dan hiburan sudah semestinya menarik, kreatif, dan akurat.

“Ini arah dan bingkai kerja RRI ke depan. Dan yang juga penting, akurasi berita di tengah banjir informasi dan era post truth. Sebab di era post truth inilah kebohongan bisa dianggap kebenaran. Banyak yang senaja melahirkan kebohongan untuk tujuan tertentu. RRI harus tetap hadir sebagai media pencerdasan,” tuturnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar