Ketika Arang Tak Lagi Bersarang Di Kota Tambang

KBRN, Padang : Kota Sawahlunto atau dikenal dengan julukan Kota Arang memang tidak pernah berhenti mengalirkan inspirasi dan mimpi. Selalu saja ada hal-hal baru yang membuat dunia tidak pernah berhenti melirik dan memuja  kota  yang awalnya hanya  desa  kecil di tengah belantara. Siapa mengira, jika perjalanan sejarah pada akhirnya menetapkan Kota Arang sebagai warisan budaya dunia yang ditetapkan badan internasional selevel Unesco.

Karya anak negeri  menggaung ke berbagai pelosok nusantara. Bahkan belum lama ini, dunia  dibuat terpana  dengan  diapungkannya sebuah  kreasi yang memadukan keindahan seni membatik dengan sumber energi penopang sejenis  arang atau batu bara. Ide tersebut  mengalir dari pemikiran seorang  pemuda desa kelahiran Sungai Durian tahun 1983, Faizal Kurniawan atau akrab disapa Mas Iwan.   

Cukup beralasan jika selaku kaum muda yang tidak ingin ketinggalan atau  pun ditinggalkan sejarah, ia tetap berupaya melestarikan kekayaan budaya lokal dengan cara kekinian yang menyesuaikan  perkembangan zaman. Menurut  pria tamatan SMSR Cengkeh Kota Padang ini, kreasi seni yang diberi nama Batik Arang ini patut dilestarikan karena selaku daerah yang dalam catatan sejarah pernah menjadi ladang batu bara berskala dunia, Sawahlunto sangat mendukung untuk dijadikan  sentra produksi Batik Arang di masa mendatang.

“ Batik Arang bukan sekedar nama tempelan untuk produk yang kini dalam tahap uji coba ini. Dari proses pewarnaan, hingga peluruhan lilin, semuanya menggunakan energi yang terkandung dari bahan tambang tersebut,” ujar Mas Iwan kepada RRI, Sabtu, (4/9/2021).    

Pemikiran  menghasilkan batik tradisional yang mengacu pada sejarah dan  kearifan budaya lokal sudah tercetus  lama sejak lama yakni tahun 2008 dan baru terealisasi dua tahun terakhir ini. Berbeda dengan batik tradisional lainnya, Batik Arang  menggunakan  pewarnaan dari campuran batu bara. Begitu juga untuk proses lainnya seperti peluruhan lilin menggunakan bahan bakar utama batu bara yang untuk Kota Sawahlunto bukan sesuatu yang baru lagi.

Melalui seni yang dikreasikan, Kota Sawahlunto di masa pandemi ini mampu memberdayakan sumber energi  penyangga kekuatan daerah di masa lampau,  menjadi produk bernilai jual tinggi. Batu bara sebagai sumber energi betul-bertul mampu menjadi penyangga untuk menghasilkan bermacam  produk UMKM  yang kelanjutannya dapat meningkatkan  ekonomi masyarakat daerah.

Di sela waktu luang, kaum ibu  masih menyempatkan diri mengenal lebih dekat proses pembuatan Batik Arang yang menurut Mas Iwan tidak terlalu rumit. Untuk memudahkan  sosialisasi Batik Arang di lingkup  masyarakat, Mas Iwan menuturkan dirinya  telah membentuk komunitas atau kelompok usaha batik  yang beranggotakan kaum ibu dan remaja berbakat lainnya. Komunitas Batik Arang ini terdapat  pada salah satu daerah  yang dinamakan Karang Anyar, Desa Santur, Sawahlunto. Kegiatan membatik baru sebatas pengenalan dasar  karena masih menunggu kelanjutan proses uji coba produk.

Pemberdayaan Ruang Ekonomi

Jika melihat antusias warga, diyakini Batik Arang  memiliki prospek  yang mendukung pemulihan ekonomi masyarakat di masa pandemi. Bagaimana tidak,  batik dengan kekhasan budaya lokal ini diprediksi mampu menggiring Kota Arang menempati posisi puncak dengan prestasi seni yang tidak tertandingi. Bukan tidak mungkin, pamor Batik Arang mampu melebihi Songket Silungkang yang namanya telah lebih  dulu berjaya di kancah pemasaran internasional.

Jika hal demikian bisa diwujudkan,  dapat dibayangkan keberuntungan apa lagi yang bisa dipetik dan dinikmati masyarakat daerah yang pada umumnya merncintai dunia kerajinan. Permintaan demi permintaan terus mengalir,  memenuhi ruang kreatifitas di berbagai kampung  yang kelanjutannya dapat meningkatkan kesejaheteraan warga.

Rupiah terus menggelinding seiring kreasi yang berguilr tiada henti. Perlu dukungan dari pemerintah daerah selaku pembina untuk pengembangan  usaha kreatif, terlebih untuk kegiatan yang sifatnya merintis, sebagaimana diungkapkan Walikota Sawahlunto, Deri Asta ditemui di kediamannya, Jumat, (3/9/2021).

Batik Arang, karya seni yang masih terbilang baru. Sekilas jika orang menyebut nama produk tersebut, langsung terbayang dalam ingatan batik yang menggunakan bahan tambang lokal sebagai bahan bakunya. Untuk wilayah Indonesia, boleh dikatakan, Batik Arang adalah  ide perdana yang mencuat di Kota Tambang, Sawahlunto.

Besar harapan Walikota Sawahlunto, Deri Asa, sesuatu yang diawali dengan pemikiran yang  jernih dan mulia,  berbuah hasil yang membawa keberkahan untuk semua orang.

Energi Baru yang Menghentak Sejarah     

Harapan dan keinginan memajukan kota yang sarat nilai-nilai sejarah diungkapkan Ketua Bundo Kanduang Kota Sawahlunto, Bundo Nurjanis. Batik menurutnya bukan produk seni yang asing lagi. Setiap kali bepergian keluar rumah, saat berada di kantor atau pun suasana pesta dan pagelaran kontes seni, busana batik menambah sempurna dan elegan penampilan seseorang, tidak peduli apakah yang bersangkutan  pejabat atau pun berasal dari kalangan masyarakat. Aura bersahaja terpancar adanya dan itulah salah satu keistimewaan karya seni yang dihasilkan dari ketelatenan tangan anak-anak negeri.

Meski belum memasuki tahap produksi dan promosi, namun jika menilik perjalanan sejarah Kota Sawahlunto, Bundo Nurjanis optimis Batik Arang memliiki prospek dan masa depan cerah. Sejarah bersaksi, gemerlap masa keemasan pernah mengantarkan Sawahlunto berada di puncak kejayaannya. Aktifitas tambang  mengalir sedemikian rupa  hingga tidak dapat  membantah julukan  Kota Arang   yang  mewakili nama negeri yang kaya akan batu bara tersebut.

Seberapa pun  besarnya  kejayaan yang menghiasi sebuah negeri, suatu  masa,  pasti mengalami redup yang tidak bisa dicegah. Sama halnya nasib  yang dialami Kota Arang dari masa ke masa.

“ Satu hal yang tidak akan pernah berkurang dari semesta  adalah  pemikiran positif yang dilandasi ide kreatif,” ujar Bundo Nurjanis kepada RRI.

Ketika arang tidak lagi banyak  bersarang di Kota Tambang, untuk bisa bertahan perlu melakukan berbagai terobosan dan inovasi yang sifatnya mempertahankan apa yang sudah ada. Sebagai warisan budaya dunia, Kota Arang memang telah memiliki segalanya. Perhatian dunia boleh dikatakan tercurah kepadanya.  Alangkah indahnya,  jika Batik Arang yang diinisiasi kaum  muda di era  sekarang,  menjadi penopang Kota Tambang bisa tetap dikenang sekaligus sumber kekuatan untuk energi yang terus digalang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00