EKSISTENSI BUKU KONVEN DITENGAH DIGITALISASI

Novik El Koto (Penulis)

KBRN, Padang: Perkembangan teknologi tidak dapat dihindarkan lagi, terlebih kini masyarakat mulai akrab dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan dunia digital. Begitu juga dengan buku. Sejak beberapa tahun terakhir, masyarakat tidak hanya disuguhkan dengan bacaan buku secara konvensional, namun dengan kecanggihan teknologi juga menyuguhkan isi buku yang dapat diakses di ponsel bahkan cukup dengan didengar. 

Namun tidak dipungkiri, minta baca masyarakat masih rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, masih ada 9,24% penduduk Indonesia berusia 45 tahun ke atas yang buta huruf pada 2021. Angka Buta Huruf (ABH) tersebut telah turun 26,82 persen poin dibandingkan dengan pada 1994 sebesar 36,06%. ABH penduduk usia 45 tahun ke atas sempat mencapai level tertingginya di 37,8% pada 1995. 

Penulis buku asal Bukittinggi, Novik El Koto mengatakan, fenomena rendahnya minat baca bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya distribusi buku yang minim, masyarakat dimanjakan dengan teknologi yang serba instan, dan mudahnya masyarakat mengakses buku digital yang bajakan.

“Fenomena saat ini, yang membuat masyarakat memiliki minat baca rendah salah satunya adalah faktor teknologi yang mengubah perilaku orang, lebih suka dengan yang singkat-singkat, mudah didapatkan, kesulitan mndapatkan buku baru, harus pesan online atau turun ke kota Padang, dan juga bajakan yang masih menjadi hal yang harus dihentikan bersama,” ujar Novik. 

Menurutnya, dengan beredarnya buku digital yang beredar begitu mudahnya dapat menurunkan nilai kualitas dari buku tersebut. Bertepatan dengan hari Buku Nasional, dirinya meminta masyrakat untuk dapat mencintai buku dan menghindari buku-buku digital yang bajakan meski dengan dalih “berbagi”.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar