Goes To Campus Pro2 RRI Padang, Edukasi Netizen Agar Tidak Latah

KBRN, Padang: Generasi milineal pengguna internet diminta menjauhi latah di media sosial, meniru hal-hal yang viral tanpa mengetahui tujuan penyebaran konten dimaksud.

Hal itu mengemuka dalam Talk show bertema Netizen Waw, Netizen Latah yang digelar Pro 2 RRI Padang bersama Universitas PGRI Sumatera Barat, Selasa (9/8/2022).

Fenomena latah terjadi di segala lini di Indonesia, khususnya di media sosial. Hal yang viral menjadi sasaran untuk ditiru oleh masyarakat dunia maya alias netizen. Padahal belum tentu hal itu baik.

Kepala Dinas Kominfo Kota Padang, Al Amin mengatakan, masyarakat saat ini sering latah dengan apa yang dilihat di media sosial. Dengan cepat terjadi imitasi terhadap hal viral dimaksud, tanpa filter dan pertimbangan terhadap dampaknya. Padahal dalam hidup bermedia juga ada regulasi yang mengikat.

“Jangan kita latah dengan apa yang kita lihat selama ini, karena dalam bermedia sosial ada aturan Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Salah-salah meniru yang jelek, bisa saja kita dijerat UU ITE. Ini menjadi kehancuran bagi kita,” ujar Al Amin.

Sementara itu, menurut CEO Infosumbar, Vembi Fernando fenomena latah ini dapat dicegah dengan tidak membedakan kehidupan di dunia nyata dengan dunia maya. Ada beberapa pengguna yang bahkan membuat alternatif akun karena tidak ingin dilacak di dunia siber. Padahal langkah itu tidak seharusnya dilakukan netizen.

“Untuk menjadi netizen itu, bukan menjadi orang lain. Antara dunia maya dengan dunia nyata tidak jauh berbeda. Tidak ada perbedaan baik itu dunia digital maupun dunia sehari-hari. Selama ini ada beberapa pihak mencoba membuat perbedaan, akhirnya ada beberapa orang membuat akun-akun yang katanya akun alter, akun anonim. Padahal itu masih bisa dilacak sebenarnya,” jelas Vembi.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas PGRI Sumatera Barat, Prof. Dr. Ansofino, M.Si mengungkapkan, untuk mengurangi dampak dari fenomena ini, masyarakat diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Masyarakat dituntut dapat menjadi smart people yang mampu menyaring informasi yang diperoleh di media sosial.

“Di tengah-tengah perubahan itu butuhkan smart people, di antaranya mengerti konten itu ditujukan untuk apa. Kalau dia siber bullying, inikan menyudutkan kelompok tertentu, dia menyampaikan opini tertentu, untuk mempengaruhi kita semua. Nah apakah kita netizen yang cerdas ini mau dipengaruhi begitu aja, kan itu persoalannya, tentu kita tidak mau,” harap Ansofino.

Ansofino mengimbau pengguna internet terus meningkatkan pemahaman dalam bermedia sosial agar semakin cerdas.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar