Tutupan Hutan di Sumbar Kategori Baik, Namun Masih Ditemui Tambang Emas Illegal

Pemaparan Catatan Akhir Tahun Warsi di Sumbar .jpeg

KBRN, Padang: Meski tutupan hutan di Sumatera Barat (Sumbar) selama 2021 menurut Komunitas Konservasi Indonesia Warsi tergolong baik, namun perusakan wilayah hutan seperti penambangan emas dan penebangan hutan secara illegal tetap terjadi.

Direktur Eksekutif Warsi, Rudi Syaf mengatakan, pencitraan satelit landsat yang dijadikan landasan Warsi melihat tutupan hutan di Sumbar menyatakan, dari 2,2 juta hektar hutan di provinsi ini, 1,7 juta hektar masih baik. Apalagi dibanding dengan wilayah lain di Sumatera yang rata-rata hanya tinggal 20-21 persen.

“Tutupan hutan di Sumbar baik, ada penurunan tapi relatif kecil. Di lapangan memang masih ditemukan penambangan emas, perambahan hutan di berbagai kabupaten,” ucapnya saat memaparkan kegiatan Warsi pada awak media, Kamis (23/12/2021).

Rudi merinci, perusakan wilayah hutan di Sumbar yan masih terjadi misalnya, kegiatan penambangan emas illegal ditemukan di 4 Kabupaten. Catatannya di Dharmasraya seluas 1.773 hektar, Solok 1.533 hektar, Solok Selatan 2.559 hektar, dan Sijunjung 1.103 hektar. Tambang emas ilegal biasanya terjadi di sungai utama atau pun sungai kecil dalam kawasan Area Penggunaan Lain (APL) dan hutan lindung.

Penambangan emas mengakibat kerusakan lingkungan dan memicu longsor di sekitar kawasan tambang. Sepanjang tahun 2021, terhitung 3 kali terjadi longsor di kawasan tambang emas di Dharmasraya dan Solok Selatan. Atas kejadian tersebut, 14 orang meninggal karena tertimbun longsor dan 14 orang mengalami luka-luka, 40 orang ditangkap, dan 4 dompeng serta peralatan tambang lainnya diamankan.

Sementara itu, illegal logging terjadi di Solok Selatan, Dharmasraya, dan Pesisir Selatan. Sebanyak 4 orang ditangkap dan 313 batang kayu balok diamankan. Kerusakan ekologi menjadi salah satu pemicu terjadinya bencana alam. Tercatat Terjadi bencana 11 kali banjir di Solok Selatan, Kota Solok, Padang Panjang, Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Sijunjung, Kota Padang, dan Siberut. Bencana longsor terjadi 8 kali sepanjang 2021, di antaranya Padang Pariaman, Dharmasraya, Bukittinggi, Agam, Payakumbuh, dan Solok. Dampak dari bencana tersebut 9 orang meninggal dunia, 3181 rumah terendam banjir, 6 rumah rusak, dan 1 jembatan ambruk.

“Kita dorong ajak masyarakat untuk ikut menjaga hutan ini, khususnya masyarakat di perhutanan sosial yang didampingi Warsi,” ucapnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar