3 Cara Meredakan Gejala Osteoporosis pada Lansia

KBRN, Padang : Salah satu masalah yang rentan menyerang lansia adalah osteoporosis. Masalah ini juga dapat menimbulkan beberapa gejala, sehingga perlu diredakan agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Berikut beberapa cara mengatasinya!

Beberapa Cara Atasi Gejala Osteoporosis pada Lansia

Osteoporosis adalah kondisi tubuh yang menyebabkan penurunan pada kepadatan tulang, sehingga berisiko alami kekeroposan dan mudah patah. Masalah ini lebih rentan untuk terjadi pada seseorang yang sudah memasuki masa lansia. Penyebab paling umum dari masalah ini adalah penurunan kadar estrogen pada tubuh guna menjaga tulang agar tetap padat dan menunjang tubuh.

Namun, apa saja sih gejala dari osteoporosis yang bisa terjadi?Faktanya, gangguan yang berhubungan dengan kepadatan tulang ini dapat terjadi tanpa gejala apa pun hingga salah satu tulang di dalam tubuh patah. 

Beberapa patah tulang mungkin saja tidak terdeteksi dalam waktu yang lama karena tidak menimbulkan gejala. Saat alami patah tulang, ada beberapa gejala yang dapat dirasakan, seperti perasaan nyeri pada lokasi patah tulang.

Beberapa gejala lainnya yang dapat timbul jika seseorang alami patah tulang belakang dalam waktu yang lama adalah:

  • Rasa nyeri parah yang menyebar dari belakang ke sisi tubuh (kronis).
  • Kehilangan tinggi badan.
  • Tulang belakang yang melengkung.
  • Tubuh yang bungkuk.

Lalu, pengobatan apa yang bisa dilakukan untuk atasi gejala osteoporosis ini? Berikut beberapa caranya:

1. Konsumsi Obat

Salah satu cara yang dilakukan untuk mengatasi osteoporosis beserta gejalanya adalah dengan mengonsumsi obat. Jenis obat yang paling pertama menjadi pilihan dokter untuk diberikan agar masalah pada tulang ini teratasi adalah Bifosfonat. Beberapa jenis dari obat ini, antara lain:

  • Alendronate, yang merupakan pil mingguan.
  • Risedronate, pil mingguan atau bulanan.
  • Ibandronate, pil bulanan atau melalui infus intravena per tiga bulan.
  • Asam Zoledronic, infus IV tahunan.

Alternatif lainnya dari bifosfonat adalah denosumab. Jenis obat ini dapat digunakan oleh orang-orang yang tidak bisa mengonsumsi bifosfonat layaknya seseorang yang mengalami penurunan fungsi ginjal. Denosumab diberikan melalui suntikan setiap enam bulan. Disebutkan jika ada risiko patah tulang belakang yang tinggi jika berhenti minum obat ini, sehingga perlu dikonsumsi secara konsisten.

2. Berolahraga Secara Rutin

Selain konsumsi obat, ada beberapa pola hidup yang bisa kamu terapkan setiap harinya agar kepadatan tulang tidak mudah menurun. Dengan begitu, risiko untuk alami patah tulang juga lebih kecil. Caranya adalah dengan melakukan olahraga dan diet yang tepat. 

Olahraga dapat membuat tulang lebih kuat karena mampu meningkatkan massa tulang dan mengurangi risiko terjadinya patah tulang. Kamu bisa melakukan olahraga sedang hingga berat paling tidak tiga kali seminggu. Terbukti, wanita menopause dapat memperkuat tulangnya dengan latihan menahan beban. Beberapa contoh olahraga yang dapat dilakukan adalah:

  • Latihan Menahan Beban.
  • Latihan Penguatan Otot.
  • Aktivitas Fisik Tanpa Dampak, seperti Tai Chi dan Yoga.
3. Pola Diet yang Benar

Pada seseorang yang mengalami osteoporosis, ada beberapa nutrisi yang sangat penting untuk dipenuhi agar kepadatan tulang dapat terjaga sehingga risiko terjadinya patah tulang berkurang. Berikut beberapa nutrisi yang dibutuhkan:

  • Kalsium: Hal ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kepadatan tulang.
  • Vitamin D: Vitamin ini mampu menyerap kalsium yang masuk ke dalam tubuh dengan efektif.

Nah, itulah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meredakan gejala osteoporosis pada lansia. Pastikan semua hal tersebut dilakukan secara konsisten, sehingga masalah tulang yang keropos hingga risiko tulang patah dapat dihindari. Terlebih lagi jika patah tulang terjadi di tulang belakang yang tentunya dapat membahayakan nyawa pengidapnya.

@halodoc

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar