Remaja Harus Atur Pola Makan untuk Cegah Anemia Gizi

KBRN, Padang : Anemia merupakan masalah gizi yang paling utama di Indonesia. Anemia adalah suatu keadaan kekurangan kadar oksigen dalam darah yang terutama disebabkan oleh kekurangan asupan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan Hemoglobin. 

Remaja memiliki risiko tinggi mengalami anemia karena kekurangan zat besi. Ini disebabkan memasuki fase remaja, tubuh tumbuh semakin pesat yang disertai berbagai perubahan hormonal menjelang fase kedewasaan. Oleh karena itu, tubuh membutuhkan sejumlah besar nutrisi, termasuk zat besi, yang terutama digunakan oleh darah untuk mengangkut oksigen.

Remaja laki-laki maupun perempuan dalam masa pertumbuhan membutuhkan energi, protein dan zat-zat gizi lainnya yang lebih banyak dibanding dengan kelompok umur lain. Pematangan seksual pada remaja menyebabkan kebutuhan zat besi meningkat. Namun, Kebutuhan zat besi remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki, karena dibutuhkan untuk mengganti zat besi yang hilang pada saat menstruasi.

“Pada remaja puteri lebih rentan dan beresiko terkena anemia gizi karena kebutuhan zat besinya 3 kali lipat, mereka banyak keluar darah saat menstruasi,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Depitra Wiguna, SKM, Rabu (4/8/2021). 

Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang mengingatkan remaja agar mengatur pola makan agar mencegah terjadinya anemia gizi. Sebab remaja saat ini, sangat rentan terkena anemia.

 “Anemia gizi rentan terjadi pada anak usia sekolah” katanya.

Dijelaskan pria kelahiran 25 Desember 1966 ini, remaja rentan mengalami anemia gizi karena disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur, diet, mengkonsumsi makan cepat saji (fast food) dan sering tidak sarapan.

Pria yang biasa dipanggil Ayah ini mengatakan, banyak remaja yang malas untuk sarapan. Padahal sarapan sangat penting dan dibutuhkan untuk menjalani aktivitas keseharian. Pentingnya sarapan tidak bisa dipungkiri karena merupakan pangkal nutrisi tubuh manusia. 

“Jangan pernah menyepelekan manfaat dari sarapan. Apalagi biasanya remaja memiliki aktivitas yang padat dan membutuhkan energi untuk berpikir,” kata suami dari Evi Elyse Kapoyos ini. 

Dilanjutkan lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Medan ini, pola makan yang tidak teratur dan keseringan mengkonsumsi makanan cepat saji sudah menjadi bagian dari gaya hidup remaja sekarang. Kecenderungan remaja, memilih makanan cepat saji juga diakibatkan remaja yang suka memilih-milih makanan, dan akibat pergaulan. Terlalu sering nongkrong bersama dengan teman di tempat makanan cepat saji. Selain itu, banyaknya terjadi kasus anemia juga diakibatkan remaja yang melakukan diet. Padahal diusia remaja, diet tanpa bimbingan ahli tidak diperbolehkan. Masa remaja membutuhkan energi yang banyak untuk nutrisi bagi tubuh.

“Remaja itu tidak boleh diet, kecuali sudah mengalami obesitas,” katanya. 

Disebutkan ayah tiga orang anak ini, anemia dapat menyebabkan lekas lelah, konsentrasi belajar menurun sehingga prestasi belajar rendah dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Di samping itu, anemia juga menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi. Keadaan ini berpengaruh terhadap konsentrasi dan prestasi belajar serta memengaruhi produktifitas kerja di kalangan remaja. 

"Pola makan perlu menjadi perhatian terutama agar memilih makanan sehat dan bergizi" tutur bapak dua orang putri ini. 

Berikut Gejala Anemia Gizi yang harus diperhatikan, sebagai berikut:

1.  Kelelahan atau kelemahan

2.  Warna kulit pucat yang disebabkan oleh jumlah sel darah yang berkurang

3.  Kesulitan berkonsentrasi atau mengingat akibat kurangnya pasokan oksigen ke otak

4.  Denyut nadi cepat yang disebabkan jantung berdetak lebih keras untuk memompa lebih banyak oksigen ke dalam tubuh 

5.  Napas pendek ketika berjalan atau naik tangga, dan

6.  Sering mengalami sakit kepala.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00