Empati dan Jiwa Peduli Prajurit Sejati di Masa Pandemi

KBRN, Padang : Hanya satu  kata,  namun  dampaknya luar biasa. Itulah Covid-19 alias virus Corona.  Kehadirannya jelas sangat tidak diinginkan. Namun tak ada yang bisa membantah jika  virus yang bernama Corona ini sudah bersarang, menghancurkan imunitas tubuh. Fisik kekar, terkulai lemah seketika.  

Sore itu menjadi hari yang tidak terlupakan bagi seorang gadis  yang tidak berapa lama lagi mengayunkan langkah ke pelamninan. Undangan dan pesan berantai tentang hari bahagia  telah menyebar nytata  dan  persiapan menuju akad nikah pun sudah berjalan adanya. Namun siapa mengira, harapan sang gadis  yang bernama Mawar yang juga karyawan salah satu intansi  di Kota Padang kandas tiba-tiba. Ia harus menerima kenyataan, darah di tubuhnya telah digerogoti virus Corona.

Harapan bersanding dengan pasangan di hari bahagia, kandas seketika. Virus Corona telah lebih dulu mengendalikan daya tahan tubuhnya. Swab test yang dijalaninya pada salah satu puskesmas di Kota Padang pada akhirnya  membuyarkan angan gadis manis bisa bersanding di hari yang telah ditentukan.

Di bagian bumi yang lain, suasana berkabung dirasakan dari sebuah rumah. Megah dan nunsa mewah hunian bertingkat tidak bisa menutupi nestapa yang dirasakan penghuni rumah. Virus Corona telah memisahkan ikatan bathin antara anak dan bapak, istri dengan suami tercinta yang telah  pergi untuk selamanya.

Begitu pedih kehilangan orang terdekat dan sebelum semua terlambat, sudah selayaknya memupuk sikap peduli terhadap lingkungan dengan senantiasa menerapkan protokol kesehatan, sebagaimana ditegaskan Danrem 032 Wirabraja, Brigjen TNI Arief Gajah Mada kepada RRI, Senin, (12/10/2020).

Fakta di lapangan menyebutkan, Sumatera Barat khususnya Kota Padang masih menyandang sebutan daerah paling berisiko dengan angka positif Covid-19 tertinggi dibanding daerah lain.

“Perlu kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan dalam keseharian dengan melakukan 3 M  yakni menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Amat disayangkan jika di tengah ancaman Covid-19 yang makin meluas, masarakat justeru lengah dan abai dengan kesehatannya,” ujar Brgjen TNI Arief Gajah Mada.

Pada kawasan tertentu, sebut saja Pasar Raya masih ditemukan warga yang beraktifitas di tengah kerumunan tanpa menggunakan masker. Transaksi ekonomi bergulir begitu saja tanpa alat pelindung diri hingga menambah panjang daftar orang  positif Covid-19 di daerah ini.

Beruntung pemerintah tidak menutup mata dengan kenyataan tersebut. TNI bersama tim gabung dan Polri dan Satpol PP berjibaku di lapangan, memberikan edukasi penanganan Covid-19 kepada warga yang sebagian masih merasa asing dan belum terbiasa dengan penerapan disiplin protokol kesehatan.

“Butuh waktu dan kesabaran merangkul masyarakat untuk mengenal dan membiasakan diri dengan aturan tersebut,” ungkap Arief Gajah Mada.

Keinginan dan harapan mengedukasi masyarakat agar disiplin dalam penerapan protokol kesehatan juga gencar dilakukan jajaran Polda Sumatera Barat. Bahkan demi mendukung pelaksanaan Perda Nomor 6 Tahun 2020 tersbut, petugas berjibaku di lapagan menumbuhkan kesadaran warga yang tidak taat aturan.

Cukup beralasan jika pemerintah daerah mulai melangkah ke tahap berikutnya, yakni penindakan dan  pemberian sanksi kepada warga yang tidak patuh aturan sebagaimana ditegaskan Kapolda Sumatera Barat, Irjen Pol. Toni Harmanto ketika dikonfirmasi RRI, Selasa, (13/10/2020).

Dalam kenyataannya, pemerintah telah lebih dulu memikirkan kebutuhan utama masyarakat di masa pandemi ini. Ribuan masker dibagikan, begitu juga alat kesehatan seperti disinfektan dan alat cuci tangan. Tidak ada alasan mengingkari aturan karena segala fasilitas yang berkenaan dengan kedisiplinan menerapkan  protokol kesehatan berupaya dipenuhi, tinggal masyarakat memanfaatkan fasilitas tersebut dengan sebaik-baiknya.

Pada intinya TNI sudah berbuat jauh sebelum rakyat mengeluh. Penanganan Covid-19 d daerah  tidak semata mengacu pada penggunaan masker di mulut, rajin mencuci tangan dan  menjaga jarak satu sama lain. Ada hal mendasar yang harus dipenuhi sehingga masyarakat bisa bertahan dalam kondisi yang serba belum pasti ini. Jangan sampai masyarakat meringis menahan perut lapar. Ketahanan tubuh harus pula didukung upaya menciptakan ketahanan pangan.

Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

Tidak bisa dipungkiri, pangan menjadi salah satu sumber kekuatan masyarakat menghadapi berbagai kondisi. Pandemi Covid-19 tidak bisa dilawan dalam keadaan perut kosong dengan asupan gizi yang terabaikan. Bertolak dari keadaan tersebut, prajurit TNI merapatkan barisan, menyingsingkan lengan untuk menciptakan lumbung pangan di daerah.

Melalui kreasi dan inovasinya,  prajurit TNI masuk sawah ke luar sawah, setia mendampingi petani mengolah lahan pertanian dalam situasi pandemi. Penggunaan Bios 44 dalam kenyataannya sangat membantu petani dan juga peternak d daerah meningkatkan capaian produksi. Pandemi yang berlangsung selama berbulan-bulan tidak menyurutkan semangat petani mengolah lahan  pertanian dengan tetap mengacu pada penerapan  protokol kesehatan. Hasilnya cukup menggembirakan, produksi meningkat, panen pun membawa berkah. Senyum petani merekah di balik masker yang selalu dikenakan.

“Bapak-bapak tentara sudah sangat banyak membantu petani. Kesulitan petani akan pupuk teratasi dengan penggunaan Bios 44 yang   hasilnya berlipat dari sebelumnya. Hasil panen tersebut sangat bermanfaat bagi kami dan keluarga, apalagi  dalam situasi pandemi ini,” ungkap Jasman, warga Nagari Sikucur Utara, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat.

Pendampingan yang dilakukan babinsa di wilayah Kodim 0308/Pariaman itu telah dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar. Pandemi tidak mematikan usaha tani dan usaha ternak yang telah dijalankan selama bertahun-tahun. Sebaliknya,  masyarakat semakin terpacu meningkatkan ketahanan pangan dengan meinciptakan lumbung pangan di berbagai daerah.

Hal senada diungkapkan Mantan Danrem 032 Wirabraja, Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo. Pandemi Covid-19 bukan alasan mengabaikan hal-hal yang menyangkut keberlangsungan hidup banyak orang. Ketahanan pangan adalah  bagian penting yang tidak bisa diputus dan  diabaikan karena kelanjutannya berkontribusi terhadap upaya menciptakan pertahanan negara.

“Upaya pemberdayaan lingkungan harus tetap dioptimalkan sehingga pandemi Covid-19 yang telah menggerus sendi-sendi perekonomian masyarakat  tidak serta merta melumpuhkan pertahanan negara,” ungkap Kunto Arief Wibowo.

Meningkatkan Imunitas Masyarakat dengan Berbagi

Selain berbagi masker dan alat kesehatan, kebutuhan lain yang tidak bisa dipungkiri tubuh adalah kosumsi vitamin, suplemen  dan jamu tradisional untuk meningkatkan imun tubuh. Bukan rahasia umum lagi, jika pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan imun tubuh adalah sesuatu hal yang tidaksemua masyarakat bisa penuhi. Ekonomi  masyarakat daerah yang terpuruk menyisakan dilema pahit bagi warga kurang mampu.

Bertolak dari fenomena tersebut, Korem 032 Wirabraja sudah berbuat lebih dulu. Selama pandemi, prajurit dibantu Persit Kartika Candra Kirana membatu pengadaan vitamin, suplemen dan jamu yang sasarannya ditujukan untuk warga miskin yang menempati lokasi perumahan tidak layak huni.

“Pemerintah jangan hanya terfokus  menangani orang-orang yang positif Covid-19. Masyarakat lain yang belum tertular namun  terdampak langsung wabah ini  juga patut diperhatikan sehingga ke deapnnya sasaran program  di daerah berjalan optimal. Bagaimana pemerintah dalam hal ini berupaya menekan angka penularan Covid-19 dengan memperhatikan kebutuhan orang-orang yang berpotensi terjamah wabah ini,” ungkap Kunto Arief Wibowo.

Selain mengerahkan satuan ke lapangan, Korem 032 Wirabraja juga merangkul komunitas  lain untuk berbagi, meringankan beban masyarakat yang terdampak Covid-19. Anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas tersebut,  langsung turun ke lapangan, menghimpun dan  menyalurkan bantuan sembako untuk masyarakat bisa bertahan dalam kondisi sekarang ini.

Menciptakan Hal Kreatif Bernilai Positif              

Berbuat baik tidak diukur dari jumlah nomina yang dikeluarkan. Pemikiran dan ide bermanfaat sejatinya dapat menjadi ruang bagi banyak orang  untuk bertahan dan menjalani hidup sewajarnya, tanpa dicekam kekhawatiran terjangkit virus mematikan itu.

Begitulah keseharian yang dilakukan kaum ibu dan remaja putri di daerah akhir-akhir ini. Untuk bertahan di masa pandemi, warga di pedesaan tidak harus membeli resep mahal ke apotik atau pun rumah sakit terdekat. Cukup hanya dengan memanfaatkan alam di sekitarnya, kekayaan bumi yang melimpah  adanya.

Korem 032 Wirabraja jauh sebelumnya telah menggulirkan program-program inovatif untuk masyarakat bertahan di masa pandemi. Di masa kepemimpinannya, Kunto Arief Wibowo mengajak masyarakat memanfaatkan kekayaan rempah-rempah Bumi Andalas, salah satunya buah kelapa.

Buah kelapa yang diolah secara tradisional  bisa menjadi sumber energi baru untuk meningkatkan imunitas tubuh di masa pandemi. Produk hasil olahan tangan tersebut diberi nama VCO yang belakangan ini banyak dimanfaatkan warga untuk kebutuhan harian keluarga, bertahan dari serangan virus.

Produk pertama diluncurkan di Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai salah satu daerah penghasil kelapa di Sumatera Barat. Ide kreatif Persit Kartika Candra Kiraan mendorong para ibu untuk mengoptimalkan rempah-rempah yang tumbuh di lingkungan sekitarnya.

Hingga kini masyarakat Mentawai masih memasarkan produk VCO yang pemasarannya telah menembus beberapa provinsi di tanah air. Pemasaran produk dibantu peran serta pemerintah kabupaten dan jajaran kodim setempat.

Program inovatif  lainnya yang digulirkan Korem 032 Wirabraja  yang  bermanfaat bagi masyarakat dalam situasi pandemi diantaranya penyemprotan disinfektan dengan memanfaatkan blower untuk mengisi ronggaudara pengolahan limbah menjadi pakan ternak di masa pandemi dengan memanfaatkan keunggulan Bios 44, merakit mobil keliling yang melayani kebutuhan air bersih masyarakat di masa pandemi  dan masih banyak lagi program inovatif Korem 032 Wirabraja yang secara tidak langsung membantu pemerintah dalam upaya percepatan peanganan Covid-19 di berbagai daerah.

Sejatinya, tidak ada kusut yang tidak terselesaikan. Seberat apa pun problema yang dihadapi masyarakat Indonesia sekarang ini, jika dipikul bersama, akan terasa lebih  ringan.

  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00