4 Fakta Tentang Vaksin COVID-19 untuk Bayi

KBRN, Padang : Pada hari Jumat (17/6), Amerika Serikat (AS) mengizinkan vaksin COVID-19 pertama untuk bayi dan anak-anak pra-sekolah.  Ada dua jenis vaksin COVID-19 yang sudah mendapat izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS  untuk digunakan pada anak-anak berusia 5 tahun ke bawah, yaitu Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Hal ini tentu menjadi kabar gembira bagi para orangtua yang selama ini mengkhawatirkan kesehatan anak-anak mereka di masa pandemi COVID-19. Meski saat ini di Indonesia penggunaan vaksin COVID-19 untuk bayi masih menunggu kajian dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia, tapi tidak ada salahnya untuk mengetahui fakta-fakta mengenai pemberian vaksin corona untuk bayi tersebut. Yuk, simak penjelasannya di sini.

Fakta Pemberian Vaksin COVID-19 untuk Bayi di AS

Berikut beberapa fakta mengenai pemberian vaksin COVID-19. untuk bayi di Amerika Serikat:

1. Vaksin Diberikan pada Bayi Berusia Minimal 6 Bulan

Meski AS sudah memberi izin vaksin COVID-19 untuk digunakan pada bayi dan anak-anak usia pra-sekolah, tapi bayi yang boleh mendapat vaksin tersebut harus berusia minimal 6 bulan. Untuk vaksin Moderna, FDA mengizinkan penggunaannya untuk anak-anak usia 6 bulan hingga 17 tahun. Sementara Pfizer/BioNTech untuk anak-anak 6 bulan hingga 4 tahun.

2. Ketentuan Pemberian Moderna dan Pfizer untuk Bayi

Vaksin COVID-19 Moderna bisa diberikan pada bayi berusia 6 bulan hingga anak berusia 17 tahun, sebagai rangkaian utama dari dua dosis (25 mikrogram setiap dosis) dengan waktu jeda satu bulan. Vaksin ini juga diizinkan untuk diberikan sebagai booster atau seri ketiga, setidaknya satu bulan setelah dosis kedua diberikan, untuk kelompok usia tersebut yang didiagnosis memiliki jenis gangguan kekebalan tertentu.

Vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech bisa diberikan sebagai rangkaian utama dari tiga dosis (3 mikrogram setiap dosis), di mana dua dosis awal diberikan dalam jarak tiga minggu. Selanjutnya diikuti dengan dosis ketiga yang diberikan setidaknya delapan minggu setelah dosis kedua pada bayi berusia 6 bulan hingga usia 4 tahun.

3. Efektivitas Vaksin COVID-19 pada Bayi

Untuk menguji efektivitas vaksin COVID-19 untuk bayi, FDA menganalisis respon imun dari 230 anak berusia 6-23 bulan dan 260 anak berusia 2-5 tahun yang menerima dua dosis seri utama vaksin Moderna 25 mikogram mRNA. Kemudian para ahli  membandingkannya dengan respons imun 290 orang dewasa berusia 18-25 tahun yang menerima dua dosis vaksin yang lebih tinggi dalam penelitian sebelumnya. 

Hasil analisis tersebut adalah respons imun dari kedua kelompok usia anak-anak terhadap vaksin sebanding dengan respon imun orang dewasa. Menurut FDA, vaksin Moderna sekitar 40-50 persen efektif dalam mencegah infeksi. Sementara untuk efektivitas vaksin Pfizer masih belum mendapat perkiraan yang andal dan tepat, dikarenakan ada terlalu sedikit kasus selama penelitiannya.

4. Efek Samping dan Keamanannya

Untuk menguji keamanan vaksin COVID-19 untuk bayi, FDA juga melakukan evaluasi pada bayi dan anak-anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun. Para peserta dievaluasi keamanannya setidaknya selama dua bulan setelah dosis kedua diberikan. Hasilnya sebagai berikut:

Pada peserta uji klinis berusia 6-36 bulan, efek samping yang paling sering dilaporkan adalah cepat marah atau menangis, mengantuk, dan kehilangan nafsu makan.

Sementara efek samping vaksin yang paling sering dilaporkan oleh kelompok peserta berusia 37 bulan – 5 tahun, meliputi kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, kedinginan, mual atau muntah, dan sendi kaku.

Pada peserta uji klinis berusia 6 bulan – 5 tahun, efek samping vaksin yang paling sering dilaporkan meliputi nyeri, kemerahan, dan bengkak di tempat suntikan, demam dan pembengkakan atau kelembutan pada kelenjar getah bening di ketiak di lengan yang disuntik.

@Halodoc

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar