Efektivitas Vaksin COVID-19 Cegah Omicron BA.4 dan BA.5

KBRN, Padang : Indonesia kembali waspada terhadap gelombang baru COVID-19 yang disebabkan oleh subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Pasalnya, jumlah kasus positif meningkat setiap harinya. Mengutip laporan Satuan Tugas Penanganan COVID-19, ada tambahan 1.678 kasus baru per 21 Juni 2022. Jika ditotal kasus positif corona sudah mencapai 6.070.933 kasus.

Masih mengutip laporan yang sama, penelitian awal menunjukkan bahwa subvarian baru ini lebih menular dan mampu menghindar dari sistem kekebalan dibanding dengan varian Omicron sebelumnya. Lantas, apakah vaksinasi COVID-19 masih efektif untuk mencegah penularan BA.4 dan BA.5? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini. 

Jago Menghindari Respons Kekebalan Tubuh

Melansir dari Verywell Health, para peneliti di Tokyo mengatakan jika versi baru Omicron berpotensi menyebabkan infeksi ulang, terutama bagi individu yang pernah terinfeksi BA.1 atau BA.2. Ini karena, antibodi individu tersebut dinilai kurang mampu melindungi BA.4 dan BA.5.

Peneliti juga menemukan bahwa BA.4 dan BA.5 lebih mudah bereplikasi di sel paru-paru manusia dan menyebabkan penyakit yang lebih parah pada hamster daripada BA.2.  Banyak mutasi pada varian Omicron memungkinkan virus lolos dari pertahanan kekebalan. 

Umumnya, antibodi dilatih untuk mengenali karakteristik tertentu dari virus COVID-19. Namun, varian yang lebih baru ini dinilai dapat berkembang agar tidak dapat dikenali oleh antibodi yang ada. Karena alasan inilah masyarakat pun diimbau untuk kembali disiplin menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Omicron BA.4 dan BA.5.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH telah mengimbau  masyarakat agar tetap waspada terhadap subvarian Omicron baru BA.4 dan BA.5. Beliau pun sudah menegaskan jika subvarian terbaru ini dinilai mampu menghindari perlindungan kekebalan (immune escape). 

Efektivitas Vaksin COVID-19 untuk Cegah BA.4 dan BA.5

Kemampuan Omicron BA.4 dan BA.5 untuk menghindari kekebalan ini mulanya disadari saat Afrika Selatan dan Portugis mengalami lonjakan kasus COVID-19 secara signifikan. Lonjakan kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ternyata disebabkan oleh kemampuan virus dalam menghindari perlindungan kekebalan dari infeksi sebelumnya, terutama bila jarak infeksi COVID-19 sudah cukup lama. 

Data yang dihimpun dari penelitian in vitro tersebut, penyintas subvarian Omicron BA.1 yang belum divaksinasi masih berpotensi terkena subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 dengan gejala. Meski begitu, orang yang telah divaksinasi COVID-19 dinilai masih lebih aman atau terlindungi jika dibandingkan individu yang belum mendapatkan vaksinasi. 

Kesimpulannya, subvarian ini memang lebih menular dibandingkan sebelumnya dan ada potensi meloloskan diri dari kekebalan. Meski begitu, kamu tetap bisa mencegahnya dengan menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. Bagi individu yang telah mendapatkan vaksinasi, tentunya masih efektif untuk melindungi diri dari komplikasi serius COVI-19.

@Halodoc

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar