Pembatasan dan Kapasitas Testing Tidak Ideal, Laju Penularan Covid-19 di Padang Sulit Dikendalikan

KBRN, Padang: Pembatasan pergerakan orang yang dilaksanakan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 di Kota Padang dan Sumatera Barat (Sumbar) secara umum, dinilai tidak efektif oleh Epidemiolog Universitas Andalas Padang, Doktor Defriman Djafri. Hal itu dibuktikan dengan grafik kasus penularan Covid-19 yang mengalami kenaikan dari bulan ke bulan.

“Saya menganalis pembatasan mudik pada Idul Fitri di bulan Mei, lanjut libur sekolah, hingga Idul Adha tidak efektif. Sebab penduduk masih abai. Itu semua dipicu oleh infodemik seperti diinformasi, misinformasi, dan malinformasi tentang Covid-19 dan penangannnya. Dalam persoalan itu, pemerintah tidak mampu memberikan jawaban jelas, akibatnya muncul rasa ketidakpercayaan terhadap penanganan pandemi ini,” ucap Defriman pada RRI di Padang, Senin (26/7/2021).

Selain itu, ungkap Defriman, pemeriksaan sampel kapasitasnya cendurung menurun pada Januari 2021 lalu. Akibatnya muncul asumsi, angka penularan Covid-19 telah melandai. Padahal terjadi fenomena gunung es dalam penyebaran Covid-19 di Sumbar.

“Melihat dari awal Januari kapasitas testing menurun. Kemudian sampel yang di tes bukan bagian dari kasus positif yang ditemukan, itu sama saja tidak memutus mata rantai,” terangnya.

Defriman menjelaskan, dengan kasus positif harian yang masih tinggi, seharusnya penelusuran kontak erat yang dilakukan juga banyak. Idealnya, pada satu kasus positif, setidaknya melacak 30 kontak erat. Namun di Sumatera Barat saat ini, pemeriksaan sampel setiap hari di angka 2 sampai 3 ribu. Padahal kasus positif harian masih 300 sampai 400 kasus.

Menurut Defriman, penerapan protokol kesehatan yang ketat, kemudian kecepatan dan ketepatan dalam tracking, tracing, dan testing, menjadi kunci mengendalikan penyebaran virus ini. Jika itu tidak dilakukan, banyak energi, pikiran, dan anggaran yang terbuang untuk menanggani dampak pandemi Covid-19.

“Kalau seperti ini terus, kita akan dihadapkan pada penuhnya keterisian rumah sakit, masalah kekurangan tenaga kesehatan, kekurangan oksigen. Padahal itu semua masalah di hilir yang harusnya bisa kita antisipasi, jika permasalahan di hulu diantisipasi,” tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00