Memerdekakan Marginal, Menerangi dari Pinggiran

Adimar penerima pemasangan listrik gratis melalui program One Man One Hope PLN.jpg
Ekspedisi Mentawai Terang.jpg

Memerdekakan Marginal

Seutuhnya menjadi warga negara Indonesia yang merdeka dirasakan oleh Adimar, nenek 81 tahun yang tinggal Kelurahan Sungai Pisang, Kecamatan Bungus Teluk Kabuang, Kota Padang. Sebab, perempuan tua yang setiap malam ditemani gelap, sudah setahun ini bisa merasakan terangnya pijar lampu di rumah kayunya.

Mengenang cerita setahun lalu, Adimar haru bercampur senang ketika mendapat kabar PLN memasang listrik di rumahnya secara gratis pada 15 Oktober 2019 lalu. Baginya kabar itu adalah keajaiban, karena sudah tiga tahun lebih, Adimar hanya mampu mengandalkan lampu togok (sebutan lampu minyak) untuk penerangan.

"Sajak 2017. Dulu rumah ko lai balistrik (Dulu rumah ini berlistrik). Karano kosong, tu ambo tampeki (karena kosong, lalu saya tempati). Tapi listrik e diputuih dek urang karano manunggak bayie (Tapi listrik diputus karena lama menunggak pembayaran). Tu lah kalam e (kini menjadi gelap), “ kisah Adimar, sembari duduk di kursi menghadap ke arah jendela.

Selama tiga tahun menggunakan lampu minyak, Adimar mengaku, menghabiskan satu liter minyak tanah per minggunya. Rasa sedih kembali menerpa, di saat minyak tanah yang memang sudah langka didapati. Bisa berminggu-minggu lampu itu tidak menyala, sehingga gelap  menjadi hidangan malamnya.

Kondisi kini sudah berbeda, sejak ada pemasangan listrik gratis di gubuknya. Adimar mengaku senang. Meski yang ada di dalam rumahnya hanya ada dua buah radio tua, yang satu juga sudah tidak bisa menyala. Tapi ibu renta dua putra ini sudah merasa merdeka berdiam di republik tercinta ini. Sebab, katanya, kalau malam cahaya lampu sudah membias di ruang rumahnya.

"Kini lah sero, lah tarang (kini sudah senang, sudah terang. Tingga sorang, kalau malam lai dikawanan dek bini abang (Tinggal sendirian, kalau malam ditemani istri abang). Anak lai duo, di rumah padusie (Anak saya dua, tapi keduanya tinggal di rumah istri masing-masing)," beber Adimar yang mengenakan daster berwarna unggu.

Setidaknya, ketika kondisi tua Adimar sepi sebatang kara, fisik mulai renta, ada cahaya terang menemaninya. Sehingga gelap tak terus menerus menyelimuti rasa sedihnya. Adimar perempuan tegar, meski kakinya tak lagi bisa menompang tubuhnya, karena  sudah lama sakit akibat jatuh saat gempa besar mengguncang Sumatera Barat 12 tahun silam. Ia mengandalkan,  tongkat untuk menopang untuk sesaat ke jamban, atau sekadar merebahkan badannya ke dipan kamarnya.

Waktu masih kuat, Adimar berkisah, berprofesi sebagai penjual lontong dan ketan di Pasar Gauang. Pekerjaan itu harus dilakoninya setiap hari, untuk menghidupi dua putranya, setelah ditinggal wafat sang suami. Hidup keras dan miskin, membuat dua anaknya berhenti mengenyam bangku sekolah, dan harus segera mandiri. Jalan satu-satunya cuma dengan pergi melaut mencari ikan.

"Nan gadang Febuardi, nan ketek Januardi. Kini kaduonyo ka lawik. (Yang besar benama Febuardi, yang kecil Januardi. Keduanya berprofesi nelayan ke laut)," ungkapnya.

Kini Adimar bisa bersyukur, kedua putranya telah berkeluarga. Walau tinggal sendiri, banyak orang di sekitar yang memperhatikan. Ketika listrik sudah mengalir di rumahnya, Ia pun tak pusing memikirkan untuk membeli token. Sebab ada Jon, tetangganya yang selalu membagi rejeki tiap bulan, minimal Rp 150 ribu.

"Mokasi banyak PLN. Kini lah tarang. (Terimakasih banyak untuk PLN. Sekarang sudah terang,” ucapnya.

Listrik didapati Adimar itu, program cuma-cuma dari PT PLN, dana yang dikumpulkan dari sosial karyawan melalui program ‘One Man One Hope’.

“Ini amanah dari para karyawan, aksi sosial. Tidak hanya di Sumatera Barat, namun program di seluruh Indonesia. Mekanismenya, masyarakat ekonomi lemah yang tidak mampu membayar sambungan listrik di data oleh teman-teman PLN di ranting atau cabang. Lalu karyawan yang punya rejeki lebih menyisihkannya untuk program ‘One Man One Hope’. Program ini masih berlanjut walaupun pandemi. Semoga ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita,” ungkap General Manager PT PLN Unit Induk Wilayah Sumatera Barat, Bambang Dwiyanto, ditemui RRI di ruang kerjanya, Rabu (24/2/2021).

Bambang mengungkapkan, program ‘One Man One Hope’ masih terus berlanjut meski saat ini di masa pandemi. Walaupun dari segi kuantitas, realisasi program ini mengalami penurunan jika dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menerangi dari Pinggiran

Menemani anak belajar menjadi lebih nyaman, itulah yang dirasakan Reni Saogo (41 tahun), warga Desa Saumanganyak, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Hal itu terdengar biasa saja bagi kebanyakan orang. Namun tidak bagi Reni, yang baru menikmati listrik secara penuh dua bulan ini. Sebelumnya, aliran listrik di desanya menggunakan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi bantuan Dinas ESDM Sumatera Barat. Itupun penerangan di jalan, tidak seluruhnya ke rumah-rumah.

“Saya berpikirnya, seumur hidup mungkin tidak akan merasakan lampu sampai ke rumah. Ternyata sekarang bisa juga merasakan listrik seperti masyarakat di kota kabupaten. Karena ada lampu akan tidak malas-malasan belajar lagi,” ucapnya pada RRI.

Memandang ke luar rumah, Reni pun menyampaikan takjubnya, sebab dari Saumangaya sampai ke Matobe, Kecamatan Sikakap, yang memiliki jarak rentang 8 kilometer, kini telah terang. 165 tiang berwarna cokelat berdiri mewujudkan harapan.

“Kalau ingat bencana tsunami Oktober 2010 lalu, kami pergi malam-malam minta bantuan logistik ke dermaga Sikakap, itu jalannya gelap sekali. Sekarang sudah terang,” ungkap Reni.

Tak hanya Reni Saogo, kebahagiaan bisa menikmati listrik juga dinikmati masyarakat lain yang tinggal di wilayah terisolir. Memang, Kepulauan Mentawai merupakan kabupaten di Sumatera Barat yang saat ini masih berstatus daerah tertinggal. Daerah kepulauan dengan akses yang sulit membuatnya pembangunan di daerah ini sering atau bahkan sangat terlambat.

Akan tetapi, keterlambatan pembangunan itu dipatahkan oleh PLN Induk Wilayah Sumatera Barat. Mengusung Misi ‘Mentawai Terang’ di tahun 2020 lalu, PLN bisa menuntaskan kerja menyambung jaringan hingga ke rumah-rumah masyarakat yang tinggal di pelosok.

“Kita mampu mengakhiri 2020 dengan menerangi sejumlah desa yang selama ini memang belum tersentuh listrik di Kepulauan Mentawai. Ada 4 desa yang pemasangan jaringannya selesai di Oktober 2020, yakni Desa Saumanganyak, Desa Sao, Desa Makalo, dan Sinakak.Sumber listriknya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dari jaringan Sikakap,” beber General Manager PT PLN Unit Induk Wilayah Sumatera Barat, Bambang Dwiyanto, ditemui RRI Rabu (24/2/2021).

Bambang mengungkapkan, semangat untuk percepatan penerangan di Mentawai berawal dari kegelisahan melihat langsung kondisi masyarakat Kepulauan Mentawai yang belum sepenuhnya menikmati hidup layaknya masyarakat di kota. Sebab ada desa yang listriknya masih on-off per 12 jam, ada yang hanya dapat penerangan lampu jalan tenaga surya, atau bahkan ada yang tidak dapat sama sekali.

“Saya ke Sikakap, Kepulauan Mentawai. Tiga hari pada awal-awal Maret 2020. Itulah kenyataannya. Akses menuju desa itu sulit. Saya sama teman-teman yang datang dari Padang, mengunjungi warga pakai motor trail. Kami kasih nama ekspedisi ‘Mentawai Terang’,” bebernya.

Dari kunjungan itulah, Bambang mendengar langsung keluh kesah warga yang selama ini terlambat tersentuh pembangunan karena faktor geografis. Berbekal aspirasi warga. Bambang pun mengencangkan komitmen bersama rekan-rekan di PLN agar menuntaskan jaringan listrik yang sudah terpogram di Mentawai pada 2020. Akhirnya semua tuntas seperti harapan.

“Kalau bicara rasio elektrifikasi di Kepulauan Mentawai. Kalau dilihat dari kecamatan, seluruh kecamatan sudah teraliri. Tapi belum sampai ke seluruh desa. Dari 43 desa di Kepulauan Mentawai, 36 desa sudah teraliri listrik PLN. 7 sisanya menggunakan tenaga surya,” beber Bambang.

Bambang juga merasa bangga dengan warga Sikakap, Kepulauan Mentawai yang sangat antusias membantu mewujudkan ‘Mentawai Terang’. Sebab ketika ratusan tiang sampai di dermaga Sikakap, hingga diangkut untuk dipasang, masyarakat bersama TNI ikut membantu pendirian tiang. ”Ini bukti gotong royong ada,” tutupnya singkat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00