Monumen PDRI, Energi Baru Pengokoh Jejak Sejarah di Ranah Minang

KBRN, Padang : Pembangunan monument PDRI menjadi semacam energi baru bagi generasi muda untuk mengobarkan jiwa heroik sekaligus spirit untuk selanjutnya menjadi pengarah dalam bersejarah. Sejarah berawal dari Koto Tinggi,  desa kecil di sebelah barat Indonesia, tepatnya  sekitar 80 kilometer dari kota Bukittinggi. Tidak  banyak yang tahu tentang desa kecil ini, daerah elok nan sejuk yang diapit oleh lembah ini  pernah menorehkan sejarah yang tidak mungkin dilupakan begitu saja.  Pada tahun 1948,  Indonesia  dalam keadaan darurat, maka  dibentuklah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia  - PDRI di daerah yang berada 1525 meter di atas permukaan laut ini.

Berawal ketika Yogyakarta menjadi Ibu Kota RI jatuh ke tangan Belanda yang hendak kembali menguasai wilayah RI melalui Aksi Agresi Militer II. Seluruh pejabat tinggi Republik Indonesia ditangkap diantaranya Soekarno dan Hatta. Sjafroeddin Prawiranegara  yang diberi mandate mendirikan PDRI memilih Koto Tinggi sebagai Ibu Kota PDRI untuk  mematahkan anggapan dunia yang menyatakan Indonesia  ketika itu  sudah menyerah pada Belanda. Begitu besarnya jasa Sumatera Barat  hingga tidak berlebihan jika  pemerintah memberikan apresiasi kepada daerah ini dengan dibangunnya monumen nasional sekiranya  yang sarat dengan  dengannilai-nilai perjuangan para pahlawan terdahulu, sebagaimana diungkapkan Danlanud Sutan Sjahrir, Kolonel Pnb, Fahlefie.

 " Pembangunan monumen nasional PDRI  di Koto Tinggi pada intinya mengingatkan kembali jejak sejarah yang hampir punah. Jika jejak ini hilang, maka berakhirlah segalanya," ujarnya kepada RRI, Jumat, (26/02/2021).

Nama Sumatera Barat selaku daerah yang pernah  menjadi  Pemerintahaan Darurat Republik Indonesia pada masanya hilang digilas masa. Generasi muda kehilangan penggalan sejarah yang harusnya menuntun  mereka tetap melestarikan dan mengobarkan semangat rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Jangan sampai ini terjadi, maka sebelum terlambat, sebelum kita kehilangan aset sejarah, benahilah ia, tata keberadaannya hingga tetap dikenang sepanjang masa dan tidak  ada kata terlambat untuk  hal ini.

Struktur geografis  Koto Tinggi yang strategis diyakini mempengaruhi keputusan pemimpin kala itu   mengambil kebijakan mengenai ibu kota negara dengan  pertimbangan tidak dijumpainya kantor pemerintahan  disebabkan  kala itu tokoh-tokoh bergerak secara mobile. Tan Malaka sebagai pemberi saran   PDRI dijalankan di Koto Tinggi dengan beberapa pertimbangan salah memiliki benteng yang kuat serta dekat dengan Riau dan Sumatera Utara. Sejalan dengan itu sebagian pemimpin, pengungsi dan radio pun   berpindah ke Koto Tinggi.  Dari Koto Tinggi, mengudaralah  siaran radio yang  menginformasikan keberadaan Indonesia.

Atas  jasa dan dedikasi yang tertoreh di Bumi Ranah Minang ketika itu,  pemerintah membangun Monumen Bela Negara yang terletak di Jorong Sungai Siriah sebagai tindak lanjut Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006 tentang Hari Bela Negara. Monumen tersebut berasal dari dana APBN yang melibatkan enam kementrian.

Pembangunan monument  PDRI menurut  Tokoh Masyarakat Sumatera Barat, Zaitul Iklhas   hal  yang patut diapresiasi. Begitu besar perhatian pemerintah terhadap Sumatera Barat. Namun di balik itu ada sedikit kekecewaan, mengapa ini baru terpikirkan sementara  sejarah sudah berlalu puluhan tahun. Betapa dangkalnya pemahaman penyelenggara negara terhadap arti dan ugensi sejarah Sejarah   menurut Zaitul adalah energi dan pengarah perjalanan Republik Indonesia ke depan. Tanpa adanya  pengarah dari sejarah, bisa saja  perjalanan sebuah bangsa tidak  seperti yang dituangkan dalam konstitusi.

" Kita boleh mengembangkan sejarah sesuai dengan situasi  dan kondisi, tapi  tidakj harus melencengkan jejak yang pernah tertoreh di masa lalu. Ada pun pembangunan monument PDRI di Koto Tinggi, Sumatera Barat  harus mampu membangkitkan semangat heroid anak bangsa, sehingga dengan adanya energi baru itu, anak bangsa  punya kemampuan menyelesaikan masalah – masalah yang terjadi di era globalisasi ini," papar Zaitul kepada RRI, Sabtu, (27/02/2021).

Intinya pembangunan monemun bukan sekedar benda mati,  tugu  yang berdiri sendiri tanpa makna dan energi baru yang diharpakan dapat menuntun generasi muda  mencintai sejarah, menghomati para pendahulunya dengan  tetpa mengobarkan semangat nasionalisme dalam diri setiap insan, anak-anak bangsa yang merupakan calon penyelenggara republik ke depan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00