Menebar Kreasi di Masa Pandemi, Solusi Untuk Produksi yang Tiada Henti

KBRN, Padang : Aroma khas kuliner menggelitik rasa, hadirkan rasa ingin tahu yang berbuah penasaran. Dari belakang sebuah rumah, sayup - sayup tercium aroma khas kuliner yang menggoda lidah untuk segera mencicipinya.

Ternyata benar adanya, seorang ibu ditemani dua putrinya asyik mengaduk adonan yang berbahan dasar tepung terigu. Kuliner khas yang oleh masyarakat Sumatera Barat dinamakan Kembang Loyang memang bukan sesuatu yang baru lagi. Dalam kenyataannya,  kuliner satu ini sudah akrab berbaur dalam keseharian masyarakat Minang sehingga tidak heran jika di masa pandemi ini, keberadaannya tetap memberi peluang untuk masyarakat bisa bertahan hidup dari gerus Covid-19 yang telah melemahkan sendi - sendi perekonomian selama berbulan bulan, 

Ya program seribu dapur adalah satu dari sekian solusi yang ditawarkan untuk masyarakat bisa bangkit dari keterpurukan, bangkit dari pandemi yang telah melumpuhkan berbagai aktifitas masyarakat sebagaimana diungkapkan Pengurus Kadin Sumatera Barat, Rahim Mardanis ketika ditemui RRI di kediamannya.

 “Kita harus beraktifitas, kita harus mencari solusi, bagaimana kehidupan ekonomi keluarga  berjalan terus, salah satunya melalui program seribu dapur. Dengan gaya sendiri-sendiri, barangkali kita bisa membuat satu terobosan untuk bertahan di masa pandemi ini,” ujar Rahim Mardanis kepada RRI, Kamis, (5/11/2020).

Menurutnya, pandemi bukan alasan masyarakat terpuruk selamanya dalam situasi yang tidak menguntungkan. Masih banyak potensi yang bisa dilirik selama ada kemauan dan ketulusan untuk bertahan hidup, salah satunya dengan melirik potensi lokal dan menjadikannya bagian dari upaya menata diri di tengah pandemi ini.

Hal yang tidak bisa terbantahkan jika sejauh ini banyak biduk yang karam lantaran  tidak kuasa menahan terjangan tuntutan biaya hidup yang tidak kunjung bisa  terpenuhi. Kesulitan ekonomi diperparah semakin menyempitnya peluang berusaha menyebabkan kesemrautan roda perekonomian masyarakat.

“Lambat dan pasti kita harus bisa mengembangkan produk unggulan dari keluarga masing-masing. Pemasaran perlu dirubah dengan cara online sehingga bisa memberi akses lebih mudah  bagi konsumen,” ungkap Rahim.

Di Sumatera Barat, tidak sedikit pelaku UMKM yang mendapatkan kucuran dana segar dengan ssitem pengembalian modal yang tidak membebani pelaku usaha. Program seribu dapur yang telah diancang sejak awal terealisasi di lingkungan masyarakat. Dapur warga seketika berasap, kebutuhan hidup terpenuhi melalui kreatifitas yang terus dibangun dari rumah ke rumah.

Jamahan dan sentuhan lembut Pertamina menyapa warga di pelosok nusantara sangat dirasakan manfaatnya oleh Murniati, pengusaha kuliner khas Kembang Loyang di Nagari Toboh, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.

“Saya Murni, kegiatan sehari hari berjualan kue Kembang Loyang dan usaha ini telah  memberikan kehidupan bagi keluarga. Program seribu dapur memberi dampak luar biasa kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid19,” papar Murni.

Pengalaman pahit menjalani kehidupan di masa pandemi juga dirasakan Yossy, ibu rumah tangga yang menjadi satu-satunya tumpuan dan tulang punggung keluarga.  Berbekal kemampuan dan keterampilan yang dimiliki sebelumnya, Yossy optimis menata kehidupan.

Di kala tabungan sudah tidak lagi bersisa, tuntutan kehidupan semakin keras mencambuknya. Namun sebagai  orang tua tunggal  yang berkewajiban memberi nafkah bagi anak-anaknya, Yossy tidak berputus asa. Doanya dijabah, pemerintah memberinya kesempatan dan kepercayaan mengelola modal usaha yang dikucurkan.

Keterampilan menjahit dan menyulam memberikan sentuhan untuk melirik potensi di tengah pandemi yang kini masih bergulir. Kebutuhan masyarakat akan masker seketika memutar otak wanita kelahiran Payakumbuh ini untuk memberikan sentuhan positif pada karya-karyanya yang inovatif.

“Konektor masker sekarang sedang booming-boomingnya, ada beberapa jenis masker yang diproduksi  dari bahan kain dan untuk sekarang ini  bahan rajutan banyak sekali peminatnya,” jelas Yossy

Berbekal modal usaha yang dikucurkan Pertamina tersebut, Yossy memproduksi berbagai atribut dan aksesoris wanita yang identik dengan penerapan protokol kesehatan.

Tidak tanggung-tanggung, permintaan mengalir dari semua lini. Yossy yang semula bekerja sendirian kini harus menambah tenaga untuk memenuhi permintaan konsumen dari berbagai  daerah.

Sentuhan seni dan kelembutan hati dalam berkarya dan berinovasi menjadikan aneka produk yang di produksinya di lingkup rumah tangga itu laris manis di pasaran.

Murniati dan Yossy hanya beberapa dari ribuan pelaku UMKM yang telah merasakan sentuhan tulus pemerintah di daerah.  Apa pun sukses yang diraih seseorang, tidak terlepas dari kepedulian yang dibangun lingkungan sekitarnya. 

 

 

 

 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00