Mengeja Masa Depan di Rumah Panggung Uma

KBRN, Padang :Gegap gempita perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke -75 masih terngiang dalam ingatan. Pekik merdeka membahana di selingkar nusantara, bergema hingga ke pelosok pulau terluar.

Jauh di pelosok pedalaman, anak-anak mengemis ilmu, menuntut kesetaraan hak untuk bisa mengecap pendidikan layak. Indonesia saat ini boleh berbangga memiliki  generasi  pintar  dan  juga negarawan handal seperti Habibie. Namun jauh di pelosok pedalaman, tidak sedikit jiwa yang meronta, menuntut kesetaraan hak dengan harapan bisa mengecap pendidikan layak. Kondisi demikian  menukik naluri seorang lelaki yang kesehariannya banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak pedalaman.

Siang itu,  belantara hijau di Siberut Barat Daya menjadi  saksi kegigihan hati  seorang guru yang berjuang keras menaklukkan lebatnya hutan di Desa Sagulubbek, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Tanpa alas kaki, lelaki yang sehari-hari akrab disapa Pak Dwi itu menelusuri setapak berbatu,  menyingsing tepian celana  demi  bhakti kepada bumi pertiwi.

Perjalanan panjang yang ditempuh sejak pagi hari telah menguras tenaga dan  melelahkan raga. Namun hal itu tidak lantas membuat Pak Dwi menghentikan langkah. Sekuat tenaga ia berusaha  melanjutkan perjalanan, menyeberangi sungai agar bisa sampai ke lokasi yang dituju yang tidak lain adala  rumah adat masyarakat Mentawai yang dinamai Uma.

Sementara di kedalaman pulau, beberapa bocah  sudah berjam-jam  menunggu kedatangan guru  yang negara  namai pahlawan  tanpa tanda jasa. Di atas rumah panggung yang terbuat dari kayu itu, anak-anak terbiasa menunggu lama. Kemiskinan dan keterbelakangan hidup  tidak membuat anak-anak tersebut pesimis. Sebaliknya mereka terpacu untuk bisa mengecap  kehidupan yang layak, mengintip dunia luar dengan segala aktifitas  yang  seluruhnya bertumpu pada sistem digitalisasi. Tanpa seragam, bahkan tanpa alas kaki,  mereka  mengayuh mimpi  agar kelak bisa membangun negeri.

Di atas Uma,  Pak Dwi dengan kesabarannya berusaha membekali anak-anak tersebut dengan dasar pengetahuan membaca. Anak-anak diajari cara mengeja huruf demi huruf,  merangkainya menjadi sebuah kata. Buku-buku dengan kulit luarnya yang tampak lusuh dibagikan kepada masing-masing bocah. Mereka berebut, alasannya khawatir tidak mendapatkan benda berharga yang untuk kehidupan  masyarakat pedalaman boleh dikatakan langka didapat.

“Jangankan membeli buku, untuk makan saja, ibu bapak susah mendapatkannya. Saya senang bisa mendapatkan buku ini,” ujar Sababalat, bocah  9 tahun yang belum  pernah mengecap bangku sekolah dasar.

Sababalat hanya satu dari ribuan anak yang haus pendidikan di era kemerdekaan. Di desanya, masih banyak  ditemui anak-anak yang hidup dengan keprihatinan. Hari-hari  penuh canda bersama teman sebaya  justeru  dihabiskan untuk pekerjaan  yang belum semestinya dipanggul bocah-bocah seusia mereka.

Pagi-pagi buta, anak-anak di Desa Sagulubbek turun ke ladang bersama orang tua, merambah belantara, mengumpulkan sisa-sia sagu untuk dimakan bersama. Aktifitas lainnya yang dilakukan beberapa anak adalah menunggui dan memberi makan peliharaan ternak dengan  sisa  keladi  yang dipanen tidak jauh dari kandang babi yang sekaligus menjadi hunian warga di daerah terpencil itu.

Dibelahan bumi lain, masyarakat dengan limpahan teknologi hidup berkecukupan,  mengecap pendidikan layak.

Sungguh memilukan. Namun inilah sekelumit fakta yang mengulas keterbelakangan pendidikan anak-anak pulau terluar yang hingga kini dikungkung keterbelakangan dan kemiskinan.

Ketika dikonfirmasi RRI Jumat, (28/08/2020), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Oreste Sakeru mengatakan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai bertekad bulat tidak akan membiarkan seorang pun dari  warganya yang tergilas roda pendidikan. Perumpaan sederhananya, jika ditemukan satu atau dua anak yang tidak bersekolah, pemerintah harus hadir di sana.

Begitu pentingnya pendidikan bagi generasi penerus, sehingga pemerintah pun diminta untuk  terus berinovasi,   menciptakan hal-hal baru guna mengejar ketertinggalan negeri dengan  kehidupan masyarakatnya yang rata-rata masih tergolong primitif.

“Tidak sia-sia perjalanan kami ke desa ini. Di sini kami menemukan fakta yang sebenarnya. Keringat dan perjuangan kami,  naik bukit turun bukit, menyeberangi sungai dengan medan  penuh risiko pada akhirnya berbayar sudah,” ujar Oreste Sakeru.

Puluhan anak putus sekolah terpantau seketika. Mereka yang sehari - harinya  menghabiskan waktu di ladang dan di kandang babi sepenuhnya menjadi tanggungjawab negara.

“Tidak ada alasan pemerintah membiarkan warganya bodoh alias buta aksara. Pemerintah daerah harus jemput bola ke lokasi, merangkul anak-anak tersebut agar bisa menjadi aset berharga bangsa,” ungkap Oreste.

Dalam waktu dekat, pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai jeals Oreste  berencana mendirikan komunitas belajar anak-anak suku pedalaman. Wadah pelaksanaan kegiatan belajar mengajarnantinya disesuaikan dengan kondisi geografis daerah. Lokasi yang paling memungkinkan adalah dengan memanfaatkan Uma, rumah adat masyarakat daerah. Lokasi Uma yang cukup strategis memungkinkan anak-anak dengan mudah bisa menjangkaunya.

Oreste Sakeru menuturkan di Desa Sagulubbek terdapat lima sekolah  yakni SDN08 Sagulubbek, SD Swasta Dusun Masi, SD Swasta Dusun Mongan Tepuk, SD Swasta Dusun Siribabag dan Swasta Dusun Mapinang. Namun karena kondisi alamnya  yang berisiko, belum semua anak usia sekolah yang bisa mengakses pendidikan, terlebih pada situasi pandemi ini. Banyak kendala yang dihadapi pemerintah, terlebih dunia pendidikan  yang untuk sekarang sangat bergantung pada kemampuan jaringan internet.

Hal senada diakui Camat Siberut Barat, Job Sirirui. Ketika dikonfirmasi RRI, Job mengatakan, penerapan sistem pembelajaran daring untuk anak-anak di Siberut Barat belum berjalan optimal. Jaringan internet belum  bisa menjangkau pelosok pedalaman Mentawai.

Di saat anak lainnya bisa  leluasa memanfaatkan jaringan internet, anak-anak di Mentawai hanya gigit jari. Penerapan sistem pembelajaran daring di Siberut Barat Daya  hanya mimpi belaka. Banyak kendala yang dihadapi anak-anak di pelosok pedalaman, selain terbatasnya layanan internet, hal mendasar  yang melilit kehidupan warga adalah kemiskinan dengan perekonomian yang mempriharinkan.

“Jangankan  membeli HP dan pulsa, untuk pemenuhan kebutuhan harian saja, orang tuanya sudah luntang lantung,” ungkap Job.

Karena tuntutan kebutuhan yang tidak sanggup dipenuhi, orang tua lebih memilih anaknya berhenti sekolah atau tidak bersekolah sama sekali. Mereka padahirnya mengajak sang anak membantu di kebun atau  mendayung perahu demi mendapatkan penghasilan untuk pemenuhan kebutuhan harian.

Kemiskinan cenderung membuat warga di pedalaman  pesimis menatap pendidikan sehingga sangat dibutuhkan pengorbanan dan ketajaman naluri seorang guru untuk  membekali murid dengan pengetahuan. Terpaksa guru harus jemput bola, mendatangi rumah-rumah siswa yang umumnya berada di dalam hutan

“Guru-guru mendatangi langsung kediaman siswa yang umumnya berada di dalam hutan.  Ini cara satunya-satunya agar anak tetap bisa belajar,” tegas Job Sirirui.

Namun kemampuan guru jemput bola ke rumah siswa cenderung  terbatas karena dipengaruhi jarak tempuh yang lumayan jauh dengan kondisi medan yang  penuh rintangan.   Untuk sampai ke rumah siswa, para guru harus menyeberangi sungai, belum lagi pemahaman orang tua murid yang lebih mengutamakan  ekonomi dibanding pendidikan di masa pandemi.

Sejak beberapa bulan lalu, sebagian orang tua memboyong anaknya kembali ke rumah. Anak-anak  yang sebelumnya tinggal di pemondokan tidak jauh dari sekolah kini sudah kembali ke rumah orang tua. Pandemi Covid-19  berimbas terhadpa pendidikan anak-anak di pulau terluar. Sebagian orang tua  merasa  tidak mampu lagi membiayai kebutuhan anaknya di pemondokan.

Dulunya,  secara berkala mereka masih sanggup  mengantar sagu, pisang dan keladi ke pemondokan untuk memenuhi  kebutuhban makan sang anak. Namun kini, hal itu tidak lagi terpenuhi karena pandemic Covid-19 yang melilit ekonomi masyarakat sehingga jalan satu-satunya adalah dengan memboyong anak kembali ke hunian.

Suka duka membangun pendidikan anak di pulau terluar  telah dilalui  bertahun-tahun oleh guru-guru yang diantaranya  masih berstatus honorer. Kecintaan pada negeri menjadikan guru-guru tersebut  lebih dekat dengan anak-anak pulau. Motivasi belajar hal yang selalu didengungkan dalam setiap pertemuan.

Perjuangan dan keikhlasan hati guru pada akhirnya berbuah manis. Beberapa anak pulau sudah menjajaki bangku  perguruan tinggi  yang tersebar pada sejumlah kota. Rasa puas diungkapkan Hani, tenaga honorer yang sejauh ini  tidak pernah menyerah dengan keadaan. Berbagi ilmu  menjadi salah satu pekerjaan menyenangkan yang dilakukannya pada waktu-waktu senggang. Selain mengajarkan pendidikan dasar sekolah, sulung dari tiga bersaudara ini juga menekankan pentingnya  upaya pelestarian budaya daerah, mempertahankan  peradaban dan peninggalan sejarah lainnya.

Hal  yang tidak kalah penting adalah menanamkan kecintaan terhadap dunia bahari. Kelangsungan ekosistem perairan sangat bergantung pada perlakukan generasi penerus sehingga kelanjutannya memberi manfaat bagi kehidupan bagi banyak orang.

Sejauh yang telah diperbuat, Hani berharap,  ke depannya  ada  upaya nyata pemerintah membangun pendidikan masyarakat di negeri yang dikungkung samudera luas itu.

Pemerintah jelas Hani bisa saja mengoptimalkan  komunitas belajar anak  yang wadahnya disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat di  daerah. Soal keterbatasan jaringan internet, pemerintah harus  secepatnya melakukan pemerataan layanan di samping memberdayakan tenaga pengajar sukarela. Pemerintah  dalam hal ini tidak boleh lepas tangan. Perjuangan guru-guru  di daerah 3 T harus  dalam pengawasan pemerintah, dalam artinan negara berkewajiban memenuhi kebutuhan guru-guru dengan memperhatikan tingkat kesejahteraannya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00