Tol Padang - Pekanbaru, Jembatan Merangkul Asa yang Tertunda Lama

Laju kendaraan melintas mulus pada ruas jalan yang kini dalam proses pengerjaan. Suasana berbeda terpantau jelas di pelupuk mata. Lega dan rasa nyaman  menyertai perjalanan pengendara kendaraan yang  melintasi  Tol Padang - Sicincin. Meski baru memasuki 22 persen tahap pengerjaan, namun  manfaat pembangunan infrastruktur jalan  yang  menghubungkan Ranah Minang dengan negeri berjuluk Bumi Lancang Kuning  itu  perlahan mulai dirasakan.

Tidak tanggung-tanggung,  tol Padang - Pekanbaru  Seksi I (Padang-Sicincin ) yang diresmikan Presiden Joko Widodo 2018 lalu menjanjikan sejuta peluang. Jarak tempuh Padang - Pekanbaru yang sebelumnya memakan waktu  6 – 7 jam,  kini bisa dipersingkat hingga 3 jam perjalanan. Luar biasa dan tentunya kemudahan ini berkontribusi besar terhadap geliat pembangunan ekonomi dan pariwisata, terlebih  Sumatera Barat yang memiliki keindahan  alam yang tidak  jemu mata memandangnya. Bukan sekedar mimpi atau halusinasi.  Tol ibarat jembatan yang membuka akses kehidupan masyarakat di berbagai daerah. Dalam istilah lain, tol diumpamakan denyut nadi yang memberi sentuhan bagi  banyak kepentingan sehingga  tidak  ada alasan  bagi siapa pun  menolak atau  menghambat pembangunan infrastruktur  tersebut. Asisten Manager Teknik PT Hutama Karya, Anita Lesya kepada RRI,  Jumat, (31/07/2020) mengatakan, meski dalam situasi pandemi Covid-19, pengerjaan tol Padang – Sicincin terus dikebut. Tol Padang - Sicincin menurut Anita bagian dari tol Padang - Pekanbaru yang  ditargetkan beroperasi akhir 2021. Dibutuhkan waktu lebih kurang 4 tahun untuk merampungkan proyek nasional ini.

“Tanpa  adanya akses jalan, mustahil daerah bisa berkembang. Sejatinya,  segala urusan di dunia ini  tidak bisa berpaling  muka dari yang namanya transportasi pendukung,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Kadin Sumatera Barat, Ramal Saleh. Tidak ada alasan  untuk  menunda atau menghambat masuknya  peluang emas tersebut. Masyarakat  harusnya membuka kran agar rupiah bisa  bergulir ke daerah ini. Tol Padang-Pekanbaru merupakan wahana strategis untuk memperluas jangkauan pemasaran, terlebih produk UMKM yang salah satu target pemasarannya adalah  orang-orang luar daerah.

Sebagai gambaran, Ramal Saleh mencontohkan salah satu produk UMKM andalan Sumatera Barat yakni songket  yang dewasa ini diminati masyarakat luar provinsi. Kelancaran transportasi  memudahkan peminat dari luar Sumatera Barat, sebut saja mereka yang dari Riau bisa langsung  datang ke Padang. Hanya dengan jarak tempuh 3 hingga 4 jam, mereka bisa langsung mendatangi rumah produksi songket terkenal yang salah satunya berada di daerah Pandai Sikek. Dengan memanfaatkan jalan tol tersebut, pendistribusian arus  barang ke daerah-daerah  lebih efektif hingga memangkas biaya produksi yang tidak lagi memberatkan pelaku usaha  di daerah, termasuk petani. Pengiriman hasil tani berupa sayur dan buah  ke depannya tidak lagi berisiko tinggi.  Kemungkinan hasil pertanian membusuk di jalan lantaran jarak tempuh dan durasi perjalanan yang memakan waktu lama dapat diatasi. Kekhawatiran petani merugi dapat disikapi  dan ujung-ujungnya berimbas  terhadap harga barang  yang relatif lebih murah dari sebelumnya.

“Pengoperasian Tol Padang – Pekanbaru memperlancar jalur pendistribusian logistik yang sering dikeluhkan pelaku usaha. Biaya angkut logistik otomatis terpangkas dengan jarak tempuh pengiriman barang yang relatif singkat,”ungkap Ramal Saleh, Jumat, (31/7/2020).

Tidak  saja menambah pundi-pundi rupiah,  akses ke tempat wisata pun makin dipermudah. Dari Pekanbaru ke Padang hanya dibutuhkan waktu  3 jam perjalanan, sama halnya jarak tempuh Padang - Bukittinggi yang sebelumnya  berkisar  pada angka yang sama. Masyarakat dari luar Sumatera Barat tidak perlu menunggu datangnya momen liburan  panjang untuk berwisata luar provinsi. Jarak tempuh Pekanbaru-Padang yang hanya berkisar 3 jam membuat orang bisa berwisata setiap harinya.

Jika ini terealisasi, bisa dibayangkan rupiah yang mengalir ke Sumatera Barat dari sektor pariwisata. Destinasi wisata di Sumatera Barat akan menjadi incaran wisatawan luar provinsi.  Pariwisata daerah menggeliat sejalan dengan  rupiah mengelinding masuk ke daerah. Masyarakat yang mengandalkan kehidupan dari sektor pariwisata tidak lama lagi menuai hasil nyata. Usaha kuliner, UMKM dan kerajinan tangan lain  berkembang pesat di berbagai kawasan wisata  dan  kelanjutannya mendongkrak perekonomian masyarakat  daerah.

Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat, Novrial  menyatakan, pariwisata dan pembangunan tol ibarat dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan, Romeo dan Juliet. Percepatan pembangunan infrastruktur  yang dikebut di berbagai daerah berkontribusi langsung terhadap bisnis pariwisata. Boleh dikatakan,  pariwisata menjadi salah satu leading factor dari  proses pembangunan. Tidak bisa ditampik, pembangunan infrastruktur dipicu keinginan memperlancar arus kunjungan wisatawan ke berbagai  destinasi wisata.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan jelas Novrial, keleluasaan bergerak dan  berpergian ke berbagai daerah, tentu tidak terlepas dari andil pemerintah membangun infrastruktur, menembus berbagai pelosok negeri. Orang bisa bertahan hidup mengandalkan pangan  karena adanya  jalan penghubung yang memudahkan pendistribusian logistik ke daerah-daerah. Keindahan dunia terlihat nyata, juga karena jalan yang memudahkan wisatawan bisa menjangkau destinasi wisata yang berada di pelosok negeri.                                                          

Dengan tersedianya infrastruktur yang memadai, industri pariwisata di daerah otomatis ikut tergerak. Pergerakan barang, jasa dan  putaran rupiah dirasa semakin  nyata sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat daerah mempersulit proses pembangunan tol yang nyata-nyatanya berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan warga.

Sementara itu,  Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Prof Syafruddin Karimi dalam perbincangannya dengan RRI menegaskan, pembangunan tol sepenuhnya mendukung pergerakan ekonomi daerah menjadi lebih baik. Dibanding daerah lain, pembangunan tol di Sumatera Barat berjalan lambat. Pemicunya tidak lain masalah klasik yang dalam  penyelesaiannya memakan waktu cukup lama hingga diperlukan solusi tepat  yang tidak merugikan salah satu pihak.

Harus ada jalan tengah yang tidak merugikan salah satu pihak, artinya masyarakat yang terdampak langsung pembangunan tol  tidak sekedar mendapat kompensasi. Ganti rugi yang diberikan kepada masyarakat dapat menjadi sandaran untuk kelangsungan kehidupan ke depan. Mereka yang  meninggalkan sumber mata pencaharian seperti   sawah dan ladang masih bisa melanjutkan kehidupan dengan tingkat kesejahteraan yang lebih menjanjikan 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00