Mutiara Terpendam di Belahan Utara Nagari Sikucur, Kabupaten Padangpariaman

KBRN, Padang : Setapak mengukir jejak langkah anak-anak yang berlarian kecil menyisir kanan – kiri  belantara di sekitarnya. Lembut tapak kaki para bocah  seakan berupaya menaklukkan keganasan permukaan  bumi yang  bergelombang itu. Jalanan berbatu dengan lubang-lubang besar yang memenuhi permukaan tanah berwarna merah,  kala hujan seringkali menuai bencana. 

Jika  hujan mengguyur kampung, selalu saja ada warga yang tergelincir, bahkan anak-anak  yang meringis menahan sakit  dengan seragam sekolah yang dipenuhi lumpur berwarna merah kecoklatan. Demikian pula  orang tua lanjut usia  dan  ibu-ibu hamil yang  terpaksa  harus  ditandu,  lantaran akses jalan  yang  dilalui  tidak memungkinkan dilalui kendaraan.

Ya begitulah nestapa yang terpampang dari sebuah  negeri yang hanya berjarak beberapa kilometer  dari  pusat pemerintahan Kabupaten Padangpariaman.  Nagari Sikucur Utara, demikian warga sekitar menamainya. Nagari yang dulunya  ramai penduduk, kini kondisinya kian memprihatinkan. Warga yang tidak betah menghuni kampung, satu per satu  kemudian memilih meninggalkan tanah kelahiran, beralih mencari penghidupan baru di daerah lain, seperti halnya keluhan warga sekitar, Ramaiti.

"Dulunya kampung ini ramai dihuni warga, namun karena kondisi jalan yang demikian parah, warga  banyak yang pergi merantau. Potensi ekonomi ada, namun  biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut hasil tani ke luar kampung sangatlah mahal dan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari,'' ujar ibu tiga anak ini kepada RRI, Sabtu, (11/01/2020). 

Sunyi kian menyelinap, menjadikan suasana desa kian mencekam, apalagi bila malam tiba. Kampung dengan satu-satunya  akses jalan berupa  setapak kecil itu kian hilang dilumat kegelapan. Jika  tidak karena hal  vatal dan darurat, warga tidak satu pun yang berani keluar rumah pada malam hari. Setapak  terjal  tanpa fasilitas penerangan  yang memadai ini seaktu-waktu bisa menuai petaka yang membahayakan keselamatan warga. Entah dari mana awalnya, sampai-sampai  muncullah pepatah Minang yang agak hiperbolik,  untuak sampai ka Nagari Sikucua Utara, tigo kali agaknyo bacakak jo harimau. 

Dibutuhkan perjuangan yang demikian besar  untuk bisa menapaki nagari yang dari segi fasilitas dan sarana prasarana penunjang kehidupan  masih  jauh dari harapan, sebagaimana  pernyataan yang dilontarkan  Anggota DPRD Kabupaten Padangpariaman, Amardian. Pemerintah daerah mestinya tanggap dan merespon cepat kebutuhan masyarakat dalam berbagai hal, tanpa terkecuali infrastruktur jalan.  Diantara deretan prestasi gemilang   yang telah diraih pemerintah daerah  masih didapati suasana  kehiduypan masyarakat yang miris dan memprihatinkan. Keterbelakangan yang dialami masyarakat  Nagari Sikucur Utara adalah  perwujudan  sikap lalai pemerintah  daerah merespon  kebutuhan dan hak hidup warga  yang telah beberapa dekade menunggu sentuhan dan perhatian  pemimpin negeri. 

"Ini sentilan bagi pemerintah Kabupaten Padangpariaman untuk lebih peka dan tanggap terhadap hal-hal yang dibutuhkan warga. Tidak mengira saja, dari sekian banyak program yang menunjukkan sisi keberhasilan pemerintah, ternyata masih  ada potret kelam kehidupan warga yang tidak tersentuh pembangunan di daerah," ujarnya lirih.

Akibat kelalaian tersebut, warga hidup apa adanya. Hasil pertanian yang melimpah ruah tidak kunjung  bisa diandalkan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Kalaupun dimanfaatkan,  lebih kepada pemenuhan kebutuhan harian keluarga dan warga sekitar. Selebihnya banyak yang dibiarkan membusuk begitu saja dikarenakan biaya transportasi pengangkutan barang  yang dikeluarkan jauh lebih besar. Ujung-ujungnya hal itu memberatkan petani  di daerah hingga memilih pasrah dan bertahan dengan situasi  yang ada. 

Sikucur Utara untuk saat ini dihuni sekitar 91 Kepala Keluarga. Wali Nagari Sikucur Utara, Mayulis Alimah kepada RRI  menuturkan, kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama,  bahkan puluhan tahun.

Besarnya  biaya transportasi pengangkutan hasil tani menyebabkan masyarakat enggan memasarkan produksi pertaniannya ke daerah lain.  Hal itu berdampak terhadap perekonomian masyarakat yang sejauh ini sulit berkembang hingga berpotensi memicu  tumbuhnya bibit-bibit  kemiskinan. 

" Untuk mengangkut satu kilogram hasil tani ke luar kampung, dibutuhkan biaya yang cukup besar seratus lima puluh hingga dua ratus ribu rupiah. Hal itu  membebani warga sehingga dengan situasi yang seperti ini kami merasa  pesimis dan seakan tersisih dari yang lainnya," papar Mayulis kepada RRI.

Pada umumnya masyarakat di Korong Pematang Tinggi, Nagari Sikucur Utara bermata pencaharian sebagai petani. Mereka bergantung hidup  dari penjualan hasil tani, otomatis dengan dengan kondisi jalan  yang tidak bisa dilalui kendaraan  telah  mematikan sumber penghidupan  warga  yang  sebagian besar berharap bisa menyisihkan uang untuk biaya pendidikan  anak dari penjualan kelapa dan pinang wangi yang ditanam di ladang atau area pertanian lainnya. Jika melihat potensi alam sekitar, Nagari Sikucur Utara berada pada bentangan alam yang strategis. Tanah yang subur dan iklim sekitar mendukung perkembangbiakan beraneka jenis tanaman sehingga tidak berlebihan jika Nagari Sikucur Utara diibaratkan bagai Mutiara Terpendam. Hal itu diungkapkan tokoh masyarakat Nagari Sikucur Utara,  Ir. Nasirman Chan yang berharap potensi yang ada di daerah dapat segera diberdayakan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.

Keluhan utama warga adalah infrastruktur jalan yang tidak kunjung dibangun. Dengan dibangunnya jalan, warga  dapat lebih leluasa memasarkan hasil bumi ke berbagai pelosok negeri. Penjualan hasil bumi  dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan sehingga keluhan warga,  hasil panen  yang selama ini  membusuk di ladang dapat diatasi. Tidak hanya  pemasaran pinang wangi, pendapatan warga ke depannya  bisa lebih ditingkatkan dengan adanya pergerakan sektor ekonomi kerakyatan,  budidaya serei wangi.

"Budidaya ini dapat menambah pendapatan masyarakat. Usaha budidaya ini tidak menuntut perlakuan khusus, tidak memerlukan  ketersediaan lahan yang luas sehingga diyakini pengembangan ekonomi berbasis kerakyatan  sepenuhnya dapat mendorong geliat ekonomi masyarakat daerah yang selama ini terpinggirkan,'' ungkap Nasirman Chan.

Mutiara Terpendam perlahan mulai memberikan nilai sumbangsih terhadap daerah sekitar. Warga secara bertahap bisa merasakan dampak pembangunan. Tidak ada lagi rasa pesimis dan tersisih dari yang lainnya karena untuk ke depan warga dituntut mampu berbuat hal terbaik, tidak saja bagi keluarga namun kampung halaman  yang  puluhan tahun tidak kunjung mendapat sentuhan dan perhatian yang sewajarnya.

Selama puluhan menanti, pada akhirnya harapan dan keinginan warga terjawab sudah. Siapa lagi yang akan membangun kampung halaman,  kalau pun bukan keinginan putra-putri daerah,sebagaimana diungkapkan  H.Tosriadi Jamal,SH,   putra daerah kelahiran Padangpariaman.

Jalan adalah urat nadi yang mendorong  pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tanpa jalan, mustahil apa pun hasil bumi di daerah bisa dipasarkan. Ia berharap, ke depannya semua pihak bisa saling memotivasi, berpikir positif dan optimis terhadap bermacam program yang bisa dikembangkan dari daerah potensial seperti halnya Nagari Sikucur Utara.

"Target ke depannya adalah melepaskan masyarakat dari kemiskinan dan pengangguran. Amat disayangkan  jika negeri yang kaya potensi ini ditinggalkan warganya. Perlu merangkul masyarakat dengan memberikan fasilitas kehidupan yang layak, seperti kebutuhan akan jalan yang  dinantikan warga  selama beberapa dekade," paparnya kepada RRI  

Menurut Tosriadi Jamal, program ekonomi kerakyatan yang segera dikembangkan di Nagari Sikucur Utara, serei wangi memiliki potensi pasar yang cukup besar, baik dalam maupun luar negeri. Masih banyak celah dan peluang yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan pasar dunia yang jumlahnya terus meningkat, salah satunya peluang itu ada di Nagari Sikucur Utara. Budidaya serei wangi nantinya tidak hanya mendongkrak perekonomian masyarakat, namun  mampu merubah wajah nagari menjadi kampung kreatif  yang bebas pengangguran.

 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00