Budaya Tutur Ranah Minang, Sendi Utama Menggalang Harmonisasi dalam Bingkai NKRI

KBRN, Padang :Sumatera Barat adalah negeri indah, dengan  budaya tutur penduduknya yang dikenal ramah. Siapa pun yang pernah menapakkan kaki ke Ranah Minang, pastinya akan terbuai dan pulangnya membawa kenangan indah. Amat disayangkan jika keindahan yang  pernah terpapar dalam kenangan banyak orang, terciderai oleh keegoisan dan masuknya  paham yang merusak  tatanan kehidupan  berbangsa  dengan sendi kemajemukan yang selama ini dijunjung demikian tinggi. 

Paham radikal, begitu orang menyebutnya. Paham yang mengedepankan sikap anti terhadap Pancasila, anti  NKRI,  anti kebhinnekaan dan mengkafir-kafirkan orang itu sangat  bertentangan dengan aktfitas keseharian masyarakat Minangkabau, sebagaimana diungkapkan Kepala Bidang Media Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme – FKPT Sumatera Barat, Eko Yance Edrie kepada RRI, Kamis, (31/10/2019).

Paham radikal yang disebut-sebut sebagai cikal bakal pemicu aksi teror di berbagai daerah tidak memilih lawan dan kawan. Siapa pun bisa dirasuki paham tersebut, tidak pilih usia, agama maupun tingkat pendidikan. Radikalisme  jelas Eko Yance Edrie tidak memilih tempat untuk bersarang  sehingga diperlukan benteng kokoh untuk menbendung derasnya gempuran radikalisme.

“Meski tergolong daerah yang aman dan jauh dari gejolak,  masyarakat Sumatera Barat  tetap harus  waspada terhadap  kemungkinan  masuknya paham radikal  yang  berujung teror  di  berbagai daerah,” paparnya.

Dalam kenyataanya, teror yang masuk ke Sumatera Barat tidak disemai dari dalam daerah. Radikalisme disemai di luar daerah dan berupaya masuk ke Sumatera Barat melalui berbagai cara, salah satunya dengan memanfaatkan kelemahan sisi pengawasan  dan  targetnya adalah orang-orang yang berpotensi untuk dirasuki atau dipengaruhi.

Eko Yance Adrie  menegaskan,  pentingnya kandungan nilai kehidupan dengan solidaritas yang tinggi terhadap lingkungan. Berbagai strategi  diterapkan untuk  menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat, salah satunya melalui benteng kearifan lokal.

Masing-masing daerah memiliki strategi tersendiri dalam menyelesaikan persoalannya dan untuk Sumatera Barat, kearifan lokal menjadi salah satu benteng handal membendung radikalisme. Budaya yang diciptakan aktor – aktor lokal menjadi pedoman  kuat dalam keseharian masyarakat daerah yang tercipta dari proses yang berulang-ulang.

“Diantara keunggulan budaya lokal Sumatera Barat,  tersebut salah  satunya budaya tutur.  Budaya  tutur  yang disampaikan dalam bahasa sederhana terbukti mampu meredam  potensi dan  gejolak di daerah,” ungkap Eko Yanche. Selain budaya tutur, masih terdapat peribahasa dan kata petitih Minang yang sarat dengan berbagai pesan moral.

Bertolak dari realita tersebut, dibutuhkan pengawasan dari berbagai lini karena dari sisi pemahaman,  generasi muda masih  rentan terhadap berbagai pengaruh. Keluarga sebagai lingkungan terdekat anak, memiliki peran dominan,  apalagi jika dikaitkan dengan budaya  Minang yang demikian memprioritaskan peran ibu di  lingkungan keluarga.

Hal senada diungkapkan Komandan Lanud Sutan Sjahrir, Kolonel Pnb Purwanto Adi Nugroho saat berlangsungnya Dialog Kebangsaan, Selasa, (29/10/2019) yang mengusung tema Pemuda Inovatif dan Berintegrasi untuk Indonesia Maju. Generasi muda diimbau agar tidak mudah terjerumus  pengaruh atau pun  konten radikal yang kini  bertebaran di dunia maya. Pesatnya teknologi informasi dewasa ini  menuntut generasi muda  bijak dalam menyikapi berbagai perkembangan  yang bergulir dalam kehidupan  sehari-hari. Kaum muda saat ini dihadapkan pada dua pilihan yang diumpamakan  pedang bermata dua.

Menurutnya, sangat mudah bagi generasi muda mengakses konten-konten yang berisikan pengetahuan untuk memperkaya wawasan. Sebaliknya tidak sulit pula bagi mereka mengakses  hal-hal yang mendatangkan bahaya dan  mudarat seperti  paham radikal  yang berujung aksi teror.

“Tidak saja merugikan diri sendiri, namun membahayakan lingkungan dan keselamatan orang-orang di sekitar.  Perlu pembekalan wawasan kebangsaan yang berisikan jiwa dan semangat nasionalisme sehingga generasi  muda  terhindar dari jerat paham-paham yang merusak  mental dan perilaku,” tegas Kolonel Pnb. Purwanto Adi Nugroho.  

Sumatera Barat memiliki ragam strategi dan kekuatan budaya lokal yang mampu mendukung  upaya pencegahan terorisme, salah satunya dengan memaksimalkan peran perempuan atau Bundo Kanduang. Sosialisasi BNPT  beberapa waktu lalu dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme  - FKPT Sumatera Barat  yang melibatkan langsung  kaum perempuan merupakan solusi jitu dalam  memerangi paham radikalisme. Peran kaum perempuan  di Ranah Minang sangatlah besar sehingga tidak berlebihan jika  upaya membendung paham radikal ini dipercayakan sepenuhnya kepada kaum perempuan, sebagaimana diungkapkan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit.

Perlu penguatan peran organisasi perempuan seperti Bundo Kanduang dengan harapan, kaum perempuan terlebih mereka yang sudah berstatus ibu rumah tangga  dapat membidik langsung keluarganya,  terhindar dan tidak terpapar pengaruh radikal yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejatinya seorang ibu dalam keluarga adalah panutan bagi anak-anaknya.

Didikan seorang ibu tercermin pada sikap dan  perilaku anak sehingga  peran perempuan di Minangkabau berada pada posisi yang  sangat strategis.

Perempuan bisa menjadi  alat  untuk membendung radikalisme,  sebaliknya perempuan juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk pergerakan radikalisme yang menjurus pada aksi teror. Perempuan dan terorisme dua hal yang unik. Keduanya bisa menjadi sumber petaka bagi negara  jika tidak diwaspadai sedemikian rupa.

Sementara itu  Ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat, Profesor Dr. Ir. Raudhah Thaib, MP menegaskan,  keluarga merupakan kunci utama yang  mampu  meredam sekaligus bisa menjadi pemicu paham radikalisme. Tekanan dan ketidaknyamanan yang dirasakan anak di lingkungan keluarga merupakan awal petaka munculnya paham membahayakan itu.

Peran ibu di Minangkabau sangat dominan. Di satu sisi,  ibu bisa menjadi contoh teladan bagi anak-anaknya. Sementara di sisi lain, perilaku yang tidak mendidik yang diperlihatkan seorang ibu dalam kesehariannya justeru bisa menjerumuskan anak  pada jurang kehancuran.

“Pada saat anak tidak lagi merasa nyaman di rumah, saat itulah bahaya radikal mengincarnya,” ujar Raudhah Thaib kepada RRI, Kamis, (31/10/2019).

Ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat, Raudhah Thaib dalam berbagai kesempatan menekankan kepada kaum perempuan dan ibu di Sumatera Barat agar tetap menjaga harmonisasi dalam kehidupan rumah tangga. Ciptakan selalu rumah dengan suasana yang nyaman dan mengundang rasa rindu anak untuk  pulang ke rumah. Ibu harus senantiasa menjadi kawan untuk berbagi sehingga apa pun persoalan yang dihadapi anak, ibu dapat menjadi peredam sekaligus obat untuk galau yang dirasakan anak. Demikian sederhananya resep menjaga anak-anak terhindar dari paham radikal dan aksi teror, hanya dengan menciptakan suasana keluarga tetap harmonis dan jauh tekanan yang menyebabkan anak seringkali mencari  pelampiasan di luar rumah  dan ujung-ujungnya  terjebak paham yang merusak masa depan  putra-putri tercinta.

 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00