Pegadaian, Ruang Bina UMKM Membangun Pilar Asta Cita

  • 23 Nov 2025 15:06 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Arindha Sukma, wanita muda yang energik ini sedang menikmati hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Karya – karya yang dihasilkan dalam seni fashion nyatanya diterima pasar Indonesia. Kemampuan berseni kreasi yang dipadupadankan dengan sentuhan budaya daerah menjadikan produk fashion yang dihasilkan usaha Mojao Art laris manis di pasar-pasar. Terbayar sudah pengorbanan dan kerja kerasnya selama ini.

Ditemui RRI di kediamannya, pelaku UMKM yang memulai debutnya di Kota Arang (Sawahlunto) mengungkapkan, berliku perjuangan yang dilalui agar bisa sampai ke tahap sekarang ini. Awalnya, ia harus berupaya meyakinkan konsumen, produk yang dihasilkan layak dipasarkan. Hingga akhirnya dalam sebuah kesempatan, Arin demikian panggilan akrabnya bertemu dengan pihak Pegadaian.

Pertemuan tersebut berlanjut pada kerjasama dalam bentuk hubungan kemitraan. Usaha Mojao Art masuk dalam daftar list UMKM binaan Pegadaian Area Padang.

“Kita bermitra dengan Pegadaian dan mendapatkan pembinaan layaknya UMKM yang sedang meniti jalan menuju tahap kemandirian. Lanjutannya tentu mengarah pada UMKM naik kelas,” urainya dalam bincang-bincang dengan RRI, Senin, (17/11/2025).

Selaku UMKM pemula yang baru menapakkan debut di dunia usaha, Arin membutuhkan arahan dalam membangun rasa percaya diri. Awalnya, ia memang tidak begitu yakin, produk yang dihasilkan bakal dilirik pasar. Namun perlahan, karaguan itu sirna seiring pendampingan yang ia dapatkan selama menjalin kemitraan dengan Pegadaian.

“Tidak mudah membangun rasa percaya diri, terlebih bagi saya yang ketika itu baru menapak dunia fashion. Butuh pendampingan dari pihak terkait. Saya bersyukur, bermitra dengan Pegadaian nyatanya memberi banyak peluang bisa belajar tentaang banyak hal, terutama pemasaran produk,” ujarnya.

Betapa besar support yang diberikan Pegadaian kepada pelaku UMKM agar mereka bisa mandiri dan naik kelas. Kesemua itu pengalaman berharga yang membuka jalan baginya bisa merengkuh pasar di berbagai daerah seperti Pulau Jawa, Kalimantan dan daerah di Indonesia timur lainnya.

Pegadaian Membuka Peluang UMKM Naik Kelas

Tidak semua pelaku UMKM bisa meraih harapan, sampai ke tahap yang diinginkan. Namun tidak demikian dengan Arindha Sukma, ia justeru bersyukur dengan capaian yang diperoleh sekarang ini.

Pembinaan yang diperolehnya dari BUMN sekelas Pegadaian nyatanya membuka jalan bagi Mojao Art bisa merambah pasar dalam negeri. Fashion yang dipadupadankan dengan seni tenun Silungkang akhir-kahirnya mendapat tempat di hati para pecinta kreasi budaya daerah.

“Sentuhan tenun tradisional asal Sumatera Barat kini mulai berkibar pada segmen pasar yang dulunya dikuasai tenun asal Indonesia timur. Sungguh sesuatu yang tidak pernah saya prediksi sebelumnya. Peralihan selera pasar yang demikian singkat, namun nyata,” ungkap Arin.

Mojao Art telah menghasilkan banyak karya seni di bidang fashion. Konsumennya kebanyakan anak-anak muda yang sebelumnya enggan menggunakan fashion dengan sentuhan budaya daerah. Kini keadaan justeru berbalik arah. Fashion tersebut malah diburu kaum muda dan mereka jelas Arin, tak sungkan-sungkan lagi mengenakannya dalam berbagai kesempatan.

Fashion dengan sentuhan tenun Silungkang menampilkan suasana klasik dan eksotik. Tidak heran jika belakangan ini, muncul kerinduan kaum muda untuk lebih mengenal seni budaya daerah, seperti pengakuan yang disampaikan Rindi, pelanggan produk Mojao Art kepada RRI.

“Saya nyaman mengenakan produk-produknya. Fashion dengan sentuhan budaya daerah menghadirkan nuansa tersendiri. Intinya saya bangga bisa mengenakan produksi dalam negeri dan sepertinya ini memancing rasa percaya diri dalam setiap penampilan,” ujarnya lirih.

Untuk sekarang ini jelas Rindi, banyak anak muda di daerah yang dalam penampilannya tidak ragu mengenakan fashion bertemakan budaya tradisional. Hal demikian pencapaian luar biasa yang menjadi bukti keberhasilan peemrintah membina pelaku UMKM di daerah agar bisa naik kelas, bahkan go internasional.

Wahana Membangun Pilar Asta Cita

Sebagai salah satu BUMN yang diberi kepercayaan oleh negara membangun pilar Asta Cita, Pegadaian terus menunjukkan kinerjanya. Kinerja dibangun dalam ruang usaha yang berlandaskan keinginan memperkuat stabilitas ekonomi negara.

Pernyataan tersebut ditegaskan Pimpinan Wilayah Pegadaian II Pekanbaru, Eko Supriyanto. Menurutnya, UMKM di daerah mesti direngkuh, jangan sampai mereka jalan sendiri tanpa arah dan tujuan pasti.

“Harapan saya, UMKM di daerah bisa bertumbuh sekaligus mengangkat potensi lokal menjadi bagian dari kekayaan budaya nusantara. Di balik tumbuh kembang usaha, pelaku UMKM dapat menikmati hasil karyanya melalui rupiah yang mengalir ke daerah,” papar Eko.

Intinya, pembinaan UMKM termasuk dalam delapan pilar pembangunan nasional. Pegadaian punya andil besar dalam membangun pilar kokoh tersebut, dibuktikan dari kinerja yang dibangun BUMN dalam setiap ruang pembinaan UMKM di daerah.

“Untuk Sumatera Barat, penyumbang rupiah terbesar masih didominasi usaha tenun tradisional yang produk-produknya sudah melanglang buana ke sejumlah negara. Hal demikian menandakan, tenun khas buatan anak negeri diterima pasar luar negeri dan kelanjutannya berdampak pada realisasi program pembangunan nasional,” jelas Eko Supriyanto.

Hal demikian dibenarkan Pengurus Kadin Sumatera Barat, Rahim Mardanis.

“Sektor UMKM merupakan penyangga ekonomi daerah, termasuk di Sumatera Barat. Sektor ini memberi rongga kepada pelaku usaha untuk senantiasa meningkatkan pendapatan melalui produksi dan karya-karya kreatif,” ujar Rahim.

Terbukti tidak sedikit produk UMKM asal Sumatera Barat yang telah menjelajah dunia diantaranya kuliner dan produk kerajinan khas Minangkabau. Pemerintah berkewajiban membina usaha kreatif anak – anak negeri tersebut sehingga misi strategis yang menjadi dasar program pemerintah dapat diwujudkan, salah satunya yang merujuk pada pengembangan sumber daya manusia yang nantinya membuka lapangan pekerjaan.

Pegadaian Tuntun Generasi Muda Cinta Produk dalam Negeri

Melalui program TJSL, Pegadaian berupaya memberdayakan potensi lokal menjadi produk bernilai guna. Potensi yang sebelumnya enggan dilirik, namun setelah mendapatkan sentuhan yang tepat dari mereka yang tekun dan giat, produk tersebut mulai dilirik.

Ratih, mahasiswi perguruan tinggi negeri di Kota Padang ini menuturkan, ia dulu paling enggan menggunakan bahan tradisional seperti tenun.

“Saya menganggap itu pakaian orang dewasa yang jauh dari konsep busana kekinian. Memakainya justeru menjadi beban yang membuat saya merasa tidak nyaamn atau terkekang dalam melakukan aktifitas lainnya,” ungkapnya datar.

Namun apa yang terjadi, tenun tidak serta merta berdiri sendiri, namun dikolaborasikan dengan model dan variasi bahan sandang lain. Alhasil, tampilannya lebih fleksible dan kekinian sehingga nyaman digunakan dalam aktifitas apa pun.

“Bahkan ada rasa beda dan bangga saat mengenakan busana yang dipadupadankan dengan sentuhan tenun tradisional. Banyak teman yang mulai tertarik. Awalnya coba-coba, namun lama-lama bikin nyaman, “ timpal rekan Ratih lainnya.

Gambaran demikian tentu sebuah pencapaian yang mesti disyukuri karena diketahui, jarang ada anak-anak muda yang dalam aktifitas sehari-harinya mau mengenakan bahan tenun. Mereka justeru bangga membeli produk luar negeri karena dianggap jauh lebih modern dan kekinian.

Kini pusaran anggin mulai berbalik arah. Kerajinan berpoduksi fashion dengan sentuhan tenun tradisional Minang mulai digandrungi anak-anak muda. Secara tidak langsung, Pegadaian melalui program TJSL telah membuka wawasan berpikir generaasi muda agar berbangga dengan kekayaan seni dan budaya nusantara. Sejatinya produk UMKM yang dimilki Indonesia tidak kalah bersaing dengan pasar internasional dan sebagai anak negeri kita harusnya mencintai produksi dalam negeri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....