Merasakan Manfaat QRIS

Peluncuran_QRIS_Pasar_Raya-Padang_(Foto_Ist)

QRIS “Nafas Bantuan” di Masa Pandemi

Dibalik tumpukan cabai merah di meja dagangannya, Ilma Mutia, pemilik kedai Cabai Giling Adinda di Blok 3 Pasar Raya Padang lebih banyak termenung. Maklum sejak wabah Corona masuk ke Kota Padang, perekonomian pun terimbas. Apalagi ketika Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengambil langkah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada awal Mei lalu. Seluruh aktivitas sosial dibatasi. Hotel, restoran, sekolah, perguruan tinggi diminta tidak beroperasi. Dari situlah awal hantaman, yang merembet ke pasar.

“Pelanggan kita dari hotel dan restoran, seperti Axana, Hotel Sawahan, Savali, lalu kafe dan kantin sekolah. Mereka tutup, otomatis transaksi dan pendapatan kita turun. Biasanya satu hari  bisa menjual 130 kilogram cabai giling, gara-gara Corona dan PSBB, transaksi satu hari paling banyak 20 kilogram. Kalau nominal transaksi biasanya Rp10 juta, turun hanya menjadi Rp1,5 juta,” urainya.

Pandemi Corona, menjadi musibah paling pahit bagi Ilma, yang sudah berkutat menjual cabai merah selama 17 tahun di Pasar Raya Padang. Apalagi ketika ada label klaster Covid-19 di Pasar Raya Padang. Padahal klaster itu di kios fase IV sampai VII, bukan blok 3. Tapi efeknya luar biasa, pembeli menjadi takut, enggan berkunjung, walau sekadar bertanya-tanya. Dalam situasi itu, transaksi hanya hitungan jari. Permintaan cabai giling hanya partai kecil, itu pun dibeli menggunakan jasa ojek online.

“Ya masih adalah pembeli satu dua yang datang. Pas PSBB banyak yang sudah belanja lewat ojek online. Dari situlah saya dapat transaksi. Alasan maraknya jual beli online itu yang juga mendorong saya dulu untuk ikut-ikut daftar pakai barcode, jual beli digital pakai QRIS. Dulu Bank Indonesia (BI) yang resmikan di pasar ini. Jual beli dengan online inilah yang membantu kios saya tetap jalan. Setidaknya bisa bernafas walaupun payah,” bebernya.

Pada Juli lalu, Pemprov Sumatera Barat memutuskan untuk tidak memperpanjang PSBB, melainkan menerapkan tatanan kehidupan baru dengan penerapan protokol kesehatan. Kebijakan itupun disambut gairah pasar, meski urung kembali normal seperti sedia kala. Pedagang tetap diminta menggunakan masker, sarung tangan, ketika bertransaksi. Sebab  virus Covid-19 bisa menular dari sentuhan fisik, khususnya tangan, yang kemudian acap kali menyentuh bagian muka. Atau bisa melalui uang dari pelanggan. Namun Ilma tak terlalu khawatir, karena pelanggannya sebagian telah berbelanja secara digital. Bayarnya pakai scan barcode.

Pemakaian QRIS di Pasar Raya Padang yang telah diperkenalkan Bank Indonesia pada Desember 2019, memang menjadi pilhan sebagian pedagang yang sadar terhadap perubahan zaman. Salahsatunya, Masrizal, pemilik kedai bawang dan bumbu dapur.

“Zaman sudah berubah. Duit orang bukan di dompet tapi di handphone. Itulah alasan saya ikut menerapkan QRIS ini,” tuturnya.

Perluasan QRIS, dari Pasar Hingga Masjid

“Jangan tertinggal oleh teknologi yang semakin maju, khususnya dalam pembayaran secara digital”. Itulah poin penting yang disampaikan Kepala Perwakilan BI Sumatera Barat, Wahyu Purnama pada 12 Desember 2019 lalu, ketika meluncurkan pembayaran digital menggunakan QR Code Indonesia Standard (QRIS) di Pasar Raya Padang sebagai proyek percontohan.

Melalui QRIS, pembayaran digital melalui platform apapun bisa dilakukan. Inilah inovasi BI menjawab perkembangan revolusi industri 4.0.

Langkah BI tersebut mendapat respon sangat baik dari Pemerintah Kota Padang. Wakil Wali Kota Padang yang hadir langsung saat peluncuran itu, langsung memerintahkan Kepala Dinas Perdagangan agar mengarahkan seluruh usaha mikro kecil menengah binaan agar mendaftar untuk mendapatkan barcode QRIS supaya bisa bertransaksi secara digital.

“Ketua pedagang ikan, ayam, kain harus terus mendapat penjelasan tentang QRIS ini. Semua harus mulai bertransformasi, melek terhadap teknologi,” sebutnya.

Awalnya, hanya ribuan merchant atau toko yang mengaplikasikan QRIS di Sumatera Barat. Namun angka itu melesat cepat, pada Januari 2020, tercatat 21.003 merchant sudah menggunakan QRIS. Kemudian hitungan 5 bulan, pada Juli 2020, menurut data BI Sumatera Barat yang disampaikan Wahyu Purnama, pengguna QRIS melonjak 3 kali lipat mencapai 43.662.

“Alhamdulillah perkembangan QRIS cukup pesat, meski masih butuh perluasan optimal,” ucap Wahyu.

Perluasan penggunaan QRIS di Sumatera Barat tidak hanya terfokus dalam transaksi jual beli di pasar ataupun toko. Bahkan BI Sumatera Barat juga menyasar masjid, yakni terhadap pembayaran zakat, infak dan sedekah.BI menggandeng BAZNAS Provinsi Sumatera Barat pada 14 Januari 2020 di Masjid Raya Sumatera Barat.

Gerakan itu dibaca positif Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.Sebab dengan pembayar secara digital,uang langsung masuk ke rekening.Hal itu diyakini bisa menutup celah penyelewengan. Maklum pada 2019 lalu, sedang terbukak kasus penyelewengan dana infak dan sedekah di Masjid Raya Sumatera Barat oleh oknum bendahara.

Perluasan QRIS di Sumatera Barat, diawali dari pasar, menyebar ke masjid. Hal ini membuktikan komitmen masyarakat untuk bersama-sama mengikuti perubahan teknologi dalam dunia keuangan, karena memang teknologi diciptakan untuk memudahkan. Namun bagi mereka yang lamban beradaptasi, teknologi akan menjadi penggilas yang mematikan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00