Membidik Kawasan Bisnis Muhammadiyah - Wardah Foundation dalam Situasi Pandemi Covid-19 di Kota Serambi Mekkah

KBRN, Padang :Setelah menempuh perjalanan hampir  2,5 jam, sampailah mobil yang kutumpangi di kota berhawa sejuk dengan rerindangan hijau yang menyejukkan mata. Untuk sampai ke kota yang dijuluki Serambi Mekkah ini, sederet posko penanganan  Covid-19 mesti dilewati karena masih dalam suasana pandemic Covid-19.  Perbatasan yang dijaga ketat petugas dan tim medis penanganan Covid-19  agaknya  tidak  menyurutkan langkahku, menjajaki pusat kota, mencari keberadaan mesjid megah  yang terintegrasi dengan  kawasan pertokaan  yang mendukung aktifitas  organisasi Islam   yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan  di Kampung Kauman, Yogyakarta  tanggal 18 November 1912.  

Tidaklah susah mencarinya karena bangunan berlantai dua ini berada di jantung Kota Padang Panjang. Kawasan Bisnis Muhammadiyah – Wardah Foundation,  itulah nama  kawasan pertokoan   yang  lokasinya berada di komplek Mesjid Taqwa Muhammadiyah Kauman Padang Panjang yang diresmikan pada pertengahan Maret lalu.

Badai Corona yang melumpuhkan ekonomi masyarakat daerah  selama berbulan-bulan tidak hanya menyisakan  rasa sepi,  namun  juga kekhawatiran  berbagai pihak terhadap kelangsungan sektor ekonomi daerah. Tidak sedikit usaha yang gulung tikar,  ribuan pekerja dirumahkan lantaran pengusaha tidak kuasa menanggung pengeluaran yang tidak berimbang.  Begitu juga pelaku usaha pariwisata dan jasa transportasi, harus mengurut dada karena virus Corona  jauh lebih berkuasa dan menghalau segala macam pemasukan, termasuk pendapatan daerah yang selama ini bertumpu pada aspek potensial, yakni pariwisata daerah.

Wisatawan yang  biasanya berduyun-duyun ke Sumatera Barat, seakan hilang dari pusaran arus. Mereka lebih memilih berdiam di rumah, mengabaikan nilai keindahan yang selama ini diburu ke berbaga pelosok negeri. Sungguh luar biasa petaka yang Virus Corona sebarluaskan ke berbagai belahan dunia.

Namun tidak bagi Muhammadiyah  Cabang Padang Panjang. Sepahit apa pun kenyataan yang dihadapi, pengurus  organisasi  terus  berjuang mempertahankan capaiannya,  memperjuangkan  kehidupan orang – orang yang  bergantung dari pergerakan aktifitas organisasi Islam yang tidak hanya fokus pada sektor pendidikan, namun juga sosial dan ekonomi.

Ditemui RRI di Hotel Muhammadiyah A. Muin Saidi, Minggu, (31/05/2020), Pimpinan Cabang Muhammadiyah Padang Panjang Barat, H. Ali Usman Syuib  mengatakan, keberadaan Kawasan Bisnis Muhammadiyah – Wardah Foundation telah memberi kontribusi cukup besar terhadap pergerakan ekonomi daerah.

“Hal yang luar biasa menurut saya,  karena  dalam situasi pandemic Covid-19 ini, Muhammadiyah mampu menunjukkan sisi kemandiriannya. Nilai pemasukan dari aktifitas usaha, diberdayakan langsung  untuk meningkatkan kesejahteraan  hidup karyawan. Organisasi  yang ditumpu aktifitas bisnis  masih berjalan solid,” ujarnya kepada RRI.

Kawasan bisnis  yang berdiri  pada  lahan seluas 24 X 48 meter itu  berada di pusat kota sehingga  mudah dijangkau oleh masyarakat.  Masyarakat dengan mudah bisa mengunjungi  kawasan pertokaan  yang terdiri dari 7 petak kios itu  dengan bermacam barang keperluan mulai dari  alat tulis,   kebutuhan sandang  seperti hijab, busana gamis, gorden dan  lainnya. Masih dalam kawasan tersebut, terdapat mini  market yang memudahkan warga sekitar atau jamaah mesjid berbelanja barang kebutuhan.

Hanya beberapa meter dari pertokaan, hotel dengan fasilitas layanan bintang tiga menawarkan suasana hunian yang nyaman bagi tamu dan pengunjung. Hotel berdaya tampung 14 kamar itu tertata bersih. Pilihan warna-warna lembut pada dinding bangunan menawarkan kesan nyaman. Tidak heran jika mereka yang pernah menikmati fasilitas hotel bernuansa syariah ini, selalu terkenang akan layanan dan sambutan ramah karyawan hotel.

Masa pandemic Covid-19 sepertinya tidak mempengaruhi aktifitas hotel. Ruangan dengan perabotannya  tertata rapi. Aroma menyejukkan sayup tercium  hampir pada semua ruangan, menandakan aktifitas kebersihan di hotel tetap berjalan meski dalam situasi darurat kesehatan.   

Hotel Muhammadiyah A. Muin Saidi, boleh dikatakan  salah satu sumber pemasukan yang menopang pergerakan organisasi Muhammadiyah di daerah ini. Sekitar 70 persen tamu atau pengunjung  berasal dari orang tua murid yang pada waktu libur atau waktu senggang membesuk anaknya yang  mendalami pendidikan dan syariat Islam di Kota Serambi Mekkah itu.

“Peserta didik kami baik  dari sekolah umum atau pun pondok pesantren rata-rata  berasal dari luar  provinsi Sumatera Barat seperti Sumatera Selatan, Riau, Jambi bahkan ada yang dari Pulau Jawa. Cukup beralasan jika  pengurus Cabang Muhammadiyah Padang Panjang Barat sepakat membangun hotel  atau semacam hunian nyaman untuk tamu yang sebagian keluarga wali murid,” tegas Ali Usman Syuib.

Pemasukan dari sektor jasa perhotelan dimanfaatkan untuk menggerakkan dunia pendidikan dengan berbagai tingkatan,  mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Tidak hanya itu, organisasi Islam ini juga mengelola panti asuhan  yang dihuni anak yatim piatu dari berbagai daerah.

Di panti ini, anak-anak yang kurang beruntung dibina, dibekali pendidikan  untuk menjalani kehidupan mandiri setelah keluar dari panti. Selaku organisasi Islam yang menjalankan misi mulia, Muhammadiyah telah menunjukkan kepekaannya pada berbagai lini  kehidupan, termasuk kehidupan sosial dengan  merangkul dan menyantuni anak-anak yatim piatu.

Jika menilik catatan sejarah, organisasi Islam terbesar ini berdiri di Yogyakarta, selanjutnya besar dan berkembang pesat di Kota Padang Panjang.  Hal yang mendasar jika Sumatera Barat menjadi acuan dan barometer perkembangan  pendidikan Islam bagi daerah lain.

Demi mendalami ilmu pengetahuannya, ribuan anak rela berpisah dengan keluarga. Mereka berjuang di kota lain, menepis segala godaan untuk mempertajam  wawasan, mendekatkan  diri kepada sang pencipta demi  mendapatkan berkah dalam kehidupannya.

Hal yang luar biasa dan rasanya tidaklah sia-sia apa yang telah dilakukan para pendahulu dan pemuka organisasi Islam tersebut.

Layaknya yang diperbuat  diperbuat Nurhayati Subakat, owner kosmetika Wardah yang juga  anak keempat dari pasangan Abdul Muin Saidi dan Nurjanah. Abdul Muin Saidi adalah Pimpinan Daerah Muhammdiyah Pabasko periode 1963-1966.  Sebagai kader Muhammadiyah, perempuan kelahiran Padang Panjang, 27 Juli 1950 ini  telah menunjukkan  kepeduliannya terhadap perkembangan pendidikan Islam di Sumatera Barat, khususnya  di tanah kelahirannya.

Kerja keras dan prestasi mengantarnya sampai  ke puncak karir. Namun kesemua itu tidak menjadikan perempuan yang pernah mengecap pendidikan Diniyah Putri ini lengah dan lupa diri. Dengan kesadarannya, ia bersama donator lain bergotong royong membangun mesjid megah di lantai II Kawasan Bisnis Muhammadiyah- Wardah Foundation.

Mesjid Taqwa Muhammadiyah Kauman Padang Panjang mulai dibangun Oktober  2016. Daya tampung mesjid yang awalnya  terbatas mendorong pengurus organisasi Muhammadiyah di daerah ini sepakat membangun mesjid  yang jauh lebih besar. Bangunan mesjid dengan paduan warna putih-biru senantiasa menawarkan kesan nyaman di mata. Jamaah mesjid dari hari ke hari terus bertambah sehingga membuka ruang untuk aktifitas lainnya seperti kegiatan konsultasi keagamaan yang diaksanakan tiga kali  dalam seminggu. Persoalan yang dihadapi umat dalam berbagai aspek kehidupan dapat ditanyakan langsung kepada konsultan. Hal itu sejalan dengan tekad organisasi yang  secara totalitas ingin memberikan pencerahan kepada umat, tidak saja dari aspek keagamaan namun berbaur dengan sektor lain meliputi  ekonomi, politik, sosial dan kemanusiaan.

Ana, salah seorang pengunjung Kawasan Bisnis Muhammadiyah – Wardah Foundation kepada RRI, Minggu, (31/05/2020) mengatakan, kawasan pertokoan yang berada di jantung kota Serambi Mekkah itu memberikan kemudahan kepada masyarakat. Tempat ibadah yang diintegrasikan dengan  fasilitas ekonomi  menciptakan  kehidupan dengan nuansa yang lebih tertata.

“Usai beribadah, jamaah bisa berbelanja  barang keperluan di pertokaan yang masih satu komplek dengan bangunan mesjid. Demikian halnya tamu-tamu yang menginap di hotel, bisa langsung memanfaatkan fasilitas yang ada di sekitarnya, seperti mesjid dan  pertokoan yang hanya  berjarak beberapa meter dari hunian yang ditempati,” papar ibu dua anak ini kepada RRI.

Sementara itu Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, H. Syofwan Karim menuturkan, niat dan keinginan memakmurkan tempat ibadah untuk peningkatan aqidah ditegaskan dalam Surat At Taubah ayat 18. Dalam kenyataannya, fungsi mesjid dalam kehidupan keseharian umat terus berkembang  hingga mengarah pada tempat muamalah.

Ribuan jumlah mesjid dan tempat ibadah  umat Islam di Sumatera Barat, namun hanya beberapa diantaranya yang menerapkan pola integrasi  yakni, Mesjjd Taqwa Muhammadiyah Padang, Mesjid Ansyarullah Payakumbuh, dan Mesjid Taqwa Muhammadiyah Kauman Padang Panjang.

Ia berharap, pola integrasi yang diterapkan dalam aktifitas organisasi membawa perubahan positif bagi kehidupan masyarakat khususnya umat Islam di daerah. Geliat aktifitas perekonomian sepenuhnya  dapat merangkul aktifitas lain, adanya keselarasan dalam tatanan kehidupan umat bermasyarakat dan berbangsa sehingga putaran roda ekonomi melecut pergerakan aktifitas lain. Ekonomi merangkul sektor lain seperti pendidikan, politik dan  aspek kemanusiaan. Dengan demikian tercipta harmonisasi untuk pencerahan yang lebih berarti bagi kemaslahatan umat. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00