TMMD 107 Nagari Langki, Menyisir Kerikil - Kerikil di Negeri Terisolir

KBRN, Padang : Setelah menempuh  lima setengah jam perjalanan dari Padang menuju Nagari Langki, Kabupaten Sijunjung,  akhirnya saya sampai di lokasi yang dituju. Wabah Corona dengan serangkaian proses karantina wilayah yang dilalui pada sejumlah daerah perbatasan, nyatanya  tidak menyurutkan semangat dan langkahku menyambangi  langsung daerah terisolir yang tahun ini masuk dalam daftar penyelenggaraan program rutin TNI Manunggal Membangun Desa – TMMD 107.

Ya, Nagari Langki yang berada di  Kecamatan Tanjung Gadang, Kabupaten Sijunjung  ini adalah negeri cantik dengan beragam kekayaan sumber daya alam yang melimpah di sekitarnya.  Nagari yang berada di puncak perbukitan hijau  dihuni sekitar 1300 Kepala Keluarga dengan mata pencaharian sehari-hari sebagai petani.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi,  berkali saya menghela nafas. Bayangkan,  di luar sana masyarakat ditumpu kecanggihan teknologi berlimpah dengan  pembangunan berkelanjutan  yang menawarkan bermacam kemudahan.  Wajah kota terpampang nyata dengan gemerlap lampu dan aksesoris penerangan yang membuat  orang tetap nyaman beraktifitas, meski di malam hari. Sementara di sini, tepatnya di lokasi penyelenggaraan TMMD 107 Kodim 0310/SSD ini, semuanya justeru berbalik arah.

Kemerdekaan yang diproklamirkan Bangsa Indonesia 74 tahun silam nyatanya  tidak kunjung  memberikan perubahan berarti bagi  masyarakat yang bergantung hidup dari  penjualan hasil tani. Masyarakat masih dibelenggu hawa keterbelakangan dengan akses transportasi dan komunikasi yang  puluhan tahun seakan-akan enggan menyentuh negeri dalam rangkulan  Bukit Barisan ini.

Tanah merah dengan uraian lumpur berwarna kecoklatan menjadi alas kaki sehari-hari masyarakat  Nagari Langki.  Jika hujan mengguyur, akses untuk  ke luar rumah menjadi kian sulit.  Pupus sudah harapan warga untuk mengais rezeki di luar sana.  Anak – anak yang bersekolah pun  terpaksa diungsikan ke kampung sebelah. Jika tetap memilih bertahan, ujung-ujungnya terkepung di rumah. Di kanan kiri setapak, menganga jurang yang cukup dalam.  Sebisa mungkin warga bertahan dengan perbekalan  hidup apa adanya. Pada musim tertentu, hasil ladang dan kebun  menjadi andalan   untuk pemenuhan kebutuhan harian. Tidak ada pilihan bagi warga ketika hujan mengguyur selingkar nagari selain bertahan di dalam rumah  dengan perbekalan pangan seadanya.   Saat  beranjak ke luar rumah, warga harus menempuh perjalanan dengan jarak tempuh puluhan kilometer dan itu pun dilalui hanya dengan berjalan kaki.

Heri, warga Nagari Langki, Kecamatan Tanjung Gadang ini boleh dikatakan setiap harinya berjuang keras menelusuri   setapak yang kanan kirinya,  menganga jurang dan arus deras air Sungai Batang Langki. Tidak ada pilihan lain bagi bapak tiga anak ini selain menantang risiko demi menghidupi tiga anak yang masih kecil.

“Kami sangat bersyukur buk, karena dengan adanya program TNI  Manunggal Membangun Desa- TMMD 107 Kodim 0310/SSD, kehidupan warga perlahan bisa dibenahi.  Kami menaruh harapan besar, kelak bisa menikmati kehidupan yang lebih layak.  Nagari kami diterangi listrik dengan akses jalan yang kondisinya  jauh lebih layak,’’ ujar Heri ketika disambangi RRI, Kamis, (09/04/2020).

Tidaklah berlebihan harapan  tersebut karena jika diamati lebih dalam lagi  hingga ke pelosok nagari, warga menjalani hari-hari  dengan berpasrah diri. Waktu yang terus bergulir,  tidak kuasa untuk dicegah. Lambat laun,  bayi mungil yang berada dalam kedapan sang ibu, kini tumbuh menjadi seorang anak dan sosok remaja yang dalam angannya penuh dengan cita-cita. Demi hari esok yang bertabur harapan,  orang tua dengan perasaan cemas dan pasrah melepas putra - putri tercinta beranjak ke kota lain untuk menapaki jenjang  pendidikan yang layak.

Nagari Langki kian terasa sunyi, diselimuti mendung dan rasa pesimis warga yang puluhan tahun dibelenggu keterbelakangan.

“Tidak ada pilihan bagi kami, terpaksa melepas anak mencari kehidupan  yang lebih layak di kota. Jika terus bertahan disi, kami khawatir, hidup mereka bakal sia-sia. Sementara di luar sana, tersiar kabar, tidaklah sedikit orang tua yang melahirkan  para sarjana, dokter, pilot bahkan tentara yang  demi bhaktinya kepada NKRI, memeras keringat membangun akses jalan untuk kami di sini,” ujar Marsinah, warga Nagari Langki yang sehari-harinya mengumpulkan getah-getah karet untuk membiayai pendidikan  dua  putrinya yang kini menuntut ilmu di Kota Padang.

Keputusan Marsinah menyekolahkan dua putrinya ke kota juga diikuti warga lainnya. Jarak tempuh sekolah dengan rumah warga boleh dikatakan relatif jauh dengan jarak tempuh puluhan kilometer. Bukan hanya jarak tempuh, iklim yang tidak bersahabat juga menambah rumit suasana kehidupan warga.

Nagari Langki adalah negeri teduh yang jarang tersentuh pencahayaan dan terik matahari. Sedikit saja guyuran hujan, air menggenangi tanah merah di sekitarnya. Tidak terhitung lagi warga yang  terpeleset masuk kubangan lumpur, bahkan terseret arus Sungai Batang Langki yang membentang di sepanjang setapak berbatu.

Demi keselamatan, para orang tua di Nagari Langki terpaksa meliburkan sekolah anak-anaknya,  keadaan demikian terus berlanjut hingga detik ini. Pada akhirnya tidak sedikit  anak yang berhenti sekolah disebabkan hambatan dan kondisi medan yang penuh risiko. Sepenggal kisah yang diurai warga membuka mata hati saya untuk tidak berhenti menyuarakan duka  warga yang hingga kini masih bertahan hidup di daerah terisolir.

Membuka Akses Perekonomian Warga

Sekian lama berharap, akhirnya senandung doa warga Nagari Langki terjawab sudah. Satgas TMMD 107 Kodim 0310/SSD merapat ke nagari tersebut. Sebanyak 150 personil dikerahkan untuk membangun akses transportasi berupa jalan, jembatan dan puluhan gorong-gorong yang tersebar di berbagai titik.

Warga menyambut kedatatangan satgas berseragam loreng dengan perasaan haru bercampur bahagia. Nagari sunyi terasa hidup kembali. Kegigihan satuan tugas meratakan permukaan setapak terjal,  berbatu dan bergelombang bukti nyata kecintaan TNI terhadap rakyat. Rasa cinta yang tidak pernah pudar umpama obat  untuk menyembuhkan duka yang bertahun-tahun dirasakan masyarakat Nagari Langki.

Ditemui di lakosi kegiatan TMMD 107 Kodim 0310/SSD, Bintara Tinggi Bhakti TNI Kodim 0310/SSD, Serka Masrudi kepada RRI, Kamis, (09/04/2020) mengatakan, pembukaan lahan jalan sepanjang 10,2 kilometer dengan lebar jalan 4 meter berkontribusi  positif terhadap akses perekonomian warga Nagari Langki ke depannya.

Pembangunan infrastruktur jalan  memacu geliat aktifitas warga yang selama ini mengeluhkan sulitnya pemasaran hasil tani. Dengan adanya pembukaan jalan yang dikebut selama kurun waktu lebih kurang satu bulan,  dibuka tanggal 16 Maret hingga penutupan tanggap 14 April 2020, warga bisa lebih leluasa beraktifitas.

“Hasil tani dan hasil bumi selanjutnya bisa dipasarkan ke berbagai daerah menggunakan angkutan atau moda tranportasi  yang lebih layak. Jalan yang  dibuka,  kini telah bisa dilalui kendaraan roda empat sehingga kekhawatiran petani hasil kebun membusuk dan terbuang percuma dapat diatasi,” ungkap Masrudi kepada RRI.

Pembangunan infrastruktur jalan sepenuhnya mendukung aktifitas perdagangan dan  pemasaran hasil tani. Secara perlahaan akan dirasakan perubahan demi perubahan,  ditandai meningkatnya daya beli hasil tani. Otomatis, pendapatan warga bertambah sehingga kelanjutannya berkontribusi terhadap peningkatakan taraf kesejahteraan warga.

Keterbelakangan yang membelenggu kehidupan warga pupus, sejalan dengan pembaharuan dan perubahan yang diciptakan para insan yang dengan keikhlasan mengabdikan diri untuk kemajuan negeri.

Mendorong Pembangunan Sektor Lainnya

Pembangunan infrastruktur jalan sejatinya  kunci utama mengusir keterbelakangan  warga di daerah terisolir. Pernyataan tersebut tidak berlebihan,  karena pada  umumnya  daerah  yang menyandang status terisolir boleh dikatakan  minim atau sama sekali tidak memiliki akses transportasi yang memadai. Kepada RRI, Komandan Korem 032 Wirabraja, Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo menuturkan, penyelenggaraan TMMD setiap tahunnya  berupaya menjawab keluhan mayarakat di berbagai pelosok negeri. Untuk wilayah Korem 032 Wirabraja, sasaran program tahun ini mengarah pada dua lokasi dengan satuan penyelenggara,  Kodim 0305/Pasaman dan Kodim 0310/SSD.

TMMD yang merupakan program rutin TNI AD berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai pelosok negeri, termasuk kebutuhan 1300 KK di Nagari Langki, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Kegigihan dan semangat membangun negeri ditunjukkan prajurit TNI AD yang siang malam mengebut pengerjaan jalan, jembatan dan gorong-gorong hingga rampung dalam rentang waktu yang ditentukan. Kesemua itu demi memenuhi kebutuhan warga yang selama ini terabaikan karena  kepentingan lain  yang mesti didahulukan pemerintah.

Incaran wabah corona pun tidak  dihiraukan. Menunda atau menghentikan program TMMD menurut Kunto sama saja membunuh harapan masyarakat untuk bisa mengecap kehidupan yang layak. Kesempatan tidak datang begitu saja, dibutuhkan proses yang cukup panjang untuk sampai ke tahap dimaksud.

“Tidak ada alasan menunda atau menghentikan pekerjaan yang orientasinya untuk kepentingan masyarakat. Penyelenggaraan TMMD 107 di  Nagari Langki bersamaan dengan penerapan kebijakan pemerintah yakni sosial distancing  yang diberlakukan pada kondisi darurat kesehatan di berbagaai daerah. Dibutuhkan pemahaman dan dukungan berbagai pihak hingga kegiatan ini terlaksana sesuai target,” ungkap Kunto Arief Wibowo pada  penutupan TMMD 107, Selasa, (14/04/2020).

Pengorbanan dan liku perjuangan satgas TMMD 107 Kodim 0310/SSD yang begitu besar tidak boleh disia-siakan. Akses jalan yang  telah dibuka dapat dimanfatkan semaksimal munkgin untuk menggenjot percepatan pembangunan ekonomi masyarakat daerah.

Program TMMD yang dilaksanakan di pelosok-pelosok negeri pada dasarnya hanya  pemancing  cambukuntuk melecut laju pembangunan suatu daerah. Untuk proses berikutnya, memang dituntut andil dan kepekaan pemerintah daerah mengembangkan infrastruktur yang ada sehingga mampu memberi nilai lebih bagi kehidupan warga di sekitarnya.

Pembukaan jalan idealnya jelas Kunto dapat merangsang lahirnya pemikiran baru pemimpin di daerah. Harus ada pengembangan dan upaya pemberdayaan lebih lanjut. Jalan yang ada segera ditindaklanjuti dengan pembangunan fasilitas lain seperti sarana penerangan dan pembangunan akses komunikasi publik.

Dua hal yang utama jelas Kunto adalah transportasi dan komunikasi. Keduanya tidak bisa dipisah karena  satu sama lain saling mendukung dan berkontribusi mendorong percepatan laju pembangunan di daerah. Jika dua hal tersebut sudah bisa diakses masyarakat, sektor lainnya sebut saja pendidikan, kesehatan dan kebutuhan laainnya ikut tergenjot secara bertahap.

Sudah saatnya pemerintah daerah berpikir keras, mensejahterakan masyarakat, memperkuat sendi-sendi kehidupan yang selama ini terabaikan. Tiba masanya masyarakat daerah  merasakan kemudahan dan kecanggihan teknologi yang mempermudah akses dan meringankan  pekerjaan anak manusia. Jarak tempuh yang demikian jauh dapat ditembus dalam hitungan detik  hanya dengan menggunakan jalur komunikasi efektif dan  memudahkan orang-orang berinteraksi dan bersilahturrahmi. Demikian  pula kegelapan yang selama bertahun-tahun menyelimuti negeri, mesti diterangi dengan fasilitas penerangan yang memadai. Jalan yang menembus perbukitan hijau sudah saatnya dilengkapi pencahayaan yang memadai sehingga warga  yang berada di  pelosok negeri pun  dapat beraktifitas dengan nyaman  meski di malam hari.

Ibu-ibu yang hendak menjalani proses persalinan di malam hari  pun tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pertolongan medis. Demikian pula warga yang mengeluh sakit, dengan dukungan akses transportasi dan komunikasi di daerahnya,  terjauh dari petaka yang selama ini mengincar keselamatan jiwa  warga yang puluhan tahun bertahan hidup daerah terisolir dimaksud.

Komitmen yang Terabaikan.

Pembukaan jalan sepanjang 10,2 kilometer di Nagari Langki, Kecamatan Tanjung Gadang, Kabupaten Sijunjung telah dirampungkan. Kerja keras prajurit TNI yang selama satu bulan  berjibaku menghadang medan yang penuh tantangan telah berbuah manis. Kebutuhan warga kini terpenuhi. Roda kendaraan telah leluasa mengelinding dan  mulus di jalan yang baru saja dibuka. Senyum bahagia mengambang di raut wajah warga yang selama puluhan tahun menaruh rasa pesimis terhadap pemimpin negeri.

Jembatan dan puluhan gorong-gororng yang dibangun satgas TMMD 107 Kodim 0310/SSD pun telah difungsikan. Namun satu hal yang masih menggores dalam ingatan saya, kayu-kayu hutan yang tertumpuk rapi di sepanjang perjalanan menuju lokasi TMMD 107 Nagari Langki. Belum lagi puluhan truk yang berjejer, mengisi muatan bermacam jenis kayu balok di pinggiran  jalan yang sudah beraspal itu.

Pemandangan yang menurut saya tidak lazim,  namun menurut warga sudah berlangsung sekian lama. Tidak terlihat  rasa bersalah dan penyesalan di wajah para pemuda yang  sore itu memuat  kayu yang telah diolah dan dipotong di dalam hutan hingga menyerupai balok kayu yang kemudian diangkut dengan armada transportasi yang telah disiapkan.

Bagai berada di negeri tidak bertuan, itulah gambarannya. Bertolak belakang dengan komitmen yang telah disepakati para pemimpin di negeri ini. Padahal Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno bersama petinggi lainnya di Sumatera Barat telah berkomitmen menjaga alam sekitar dari aksi dan perilaku merugikan yang sewaktu-waktu menuai bencana alam, salah satunya ilegal logging atau pembalakan liar.  

Sebutan Sumatera Barat sebagai salah satu daerah  dengan tingkat kerawanan bencana  cukup tinggi bukan tidak didasari alasan dan bukti kuat. Bencana banjir dan longsor hampir setiap waktu melanda negeri tercinta. Perlu langkah antisipasi dan pencegahan sebelum bencana melanda berbagai daerah. Upaya pengurangan  risiko bencana dengan merangkul segenap potensi kearifan lokal adalah hal yang mesti diprioritaskan. Dengan demikian, petaka dapat dicegah, terutama ilegal logging yang berdampak vatal terhadap kehidupan masyarakat luas.

Di penghujung Maret 2020, kasus serupa terjadi di  Kabupaten Tanah Datar. Menyikapi kejadian tersebut, Kapolda Sumatera Barat, Irjen Polisi Toni Harmanto berkomitmen menindak tegas siapa pun yang terlibat aksi pembalakan liar tersebut. Sanksi hukuman yang ditimpakan tidak tebang pilih, tanpa terkecuali anggota yang ikut bermain muka,  membekingi kasus pembalakan liar yang kian meresahkan. Begitu tegasnya komitmen  pemimpin dan pemangku kebijakan di negeri ini, namun realita yang saya saksikan  di lapangan sungguh di luar dugaan sehingga perlu pengawasan dan komitmen  pemangku kebijakan ke depannya.

Jangan sampai program TMMD yang menyentuh nagari sekitar justru makin memuluskan aksi orang-orang yang berperilaku seperti monster pembabat hutan. Pembukaan jalan dan akses transportasi pendukung,  sepenuhnya teruntuk bagi kepentingan masyarakat,  bukan penjahat yang merugikan negara dan rakyat.

 Jalan yang telah dibuka prajurit TNI AD, jangan sampai menjadi titian bagi  para pembalak liar untuk lebih leluasa merambahi hutan sekitar. Intinya, komitmen pajabat negara dalam menjaga alam sekitar harus berimbang dan sejalan dengan  ketegasan yang senantiasa diutarakan.   

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00