Dalam Wabah Korona, Kumpulkan Donasi Bagikan Sembako untuk Buruh Harian

KRBN, Padang: Datangnya virus korona ke Sumatera Barat tidak saja menjadi wabah kesehatan, melainkan telah memukul sejumlah sendi kehidupan lainnya. Sebab dengan kondisi ini, pemerintah telah mengambil langkah belajar dari rumah bagi siswa, bekerja dari rumah bagi pegawai, dan beribadah di rumah. Kebijakan positif ini diambil untuk memutus mata rantai penularan korona melalui pembatasan dan pemberian jarak dalam kontak fisik. Aktivitas ekonomi menjadi salah satu yang terdampak. Kondisi ini kian dirasakan oleh orang-orang yang biasanya berkerumun di pasar untuk mendapat aliran rejeki, tukang becak motor, kuli angkut misalnya. Pemasukan harian mereka lenyap seketika.

“Apalagi yang mau dimakan kalau seperti ini kondisinya. Sembako sudah abis. Nggak tau gimana lagi,” ucap Mainar, Kamis (2/4/2020) yang sehari-hari menangkut barang di Pasar Raya Padang.

Keluhan dan jeritan warga ekonomi lemah itu tak bisa dielakkan. Pemerintah sudah memutuskan untuk memberikan bantuan pangan. Namun sampai hari ini masih dalam pendataan, siapa yang layak menerimanya.

Masalah perut sudah dirasakan, namun bantuan masih dalam pendataan. Sabar mesti harus ditanamkan. Dengan kondisi itu, ternyata tak sedikit warga di Kota Padang ini yang tergugah empatinya untuk mengambil peran meringankan beban yang dialami sesamanya. Meskipun, beban itu sebenarnya juga dirasakan secara menyeluruh. Salahsatunya, Bening Sari, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Komplek Nuansa Indah 3, Kawasan Aie Pacah, Kota Padang.

Sudah sepekan ini, Bening, begitu ia dipanggil, sibuk membungkus paket sembako yang akan diberikan pada tetangga-tetangganya yang memang mengalami masa pahit ekonomi akibat wabah korona.

“Bungkusannya ada telur, beras 3 kilo, ada gula merah, ada minyak. Pokoknya nilainya Rp100 ribu. Sudah 26 bungkus dibagikan,” ucapnya pada RRI, di Padang, Kamis (2/4/2020).

Pembagian sembako itu, ungkap Bening, bermula dari kegelisahan probadi melihat dan mendengar keluh kesah tetangga di sekitar lingkungannya yang terpukul secara ekonomi akibat wabah korona.

“Mereka bukan malas. Tapi mereka yang bekerja sebagai buruh harian ini sepi. Kalau seperti itu apa mau dikata. Sementara perut ini kan butuh makannya setiap hari. Ini yang menggugah saya,” bebernya.

Awalnya memberi sembako sedikit-demi sedikit dengan kantong pribadi. Lalu muncul ide Bening untuk mengumpulkan domasi melalui media sosial. Menyerukan pada kerabat, rekan sejawat untuk ikut mengambil peran membantu masyarakat yang sedang terpuruk secara ekonomi.

“Saya hubungi kerabat, teman-teman kuliah di grup WA. Alhamdulillah mereka merespon dengan mengirimkan donasi, lalu saya belanjakan dalam bentuk sembako. Kegiatan ini masih akan berlanjut,” ujarnya.

Bening mengungkapkan, alasan memberikan bantuan dalam bentuk sembako agar benar-benar bisa digunakan memenuhi kebutuhan pangan. Supaya bantuan tak disalahgunakan.

“Kalau saya salurkan dalam bentuk uang, yang bapak-bapak beli rokok. Anaknya beli paket data. Alangkah baiknya langsung ke sembako, benar-benar untuk dimakan,” tuturnya.

Bening berharap, masyarakat yang masih dalam kondisi mampu ikut mengambil peran dalam penanggulangan wabah ini. Apalagi, pembatasan sosial masih akan diberlakukan sampai wabah virus ini benar-benar selesai.

“Sudah dua pekan dilakukan pembatasan interaksi fisik dan sosial. Kemudian diperpanjang lagi. Kita memang tidak tahu nasib kita sendiri esok, tapi kalau saat ini mampu mari kita berikan apa yang bisa kita bantu,” ajaknya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00