Bank Nagari Syariah Wujud Nyata Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah

Oleh : Melati Oktawina (Wartawan RRI Padang)

Menjadi Syariah Sesuai ABS SBK

"Tidak ada kata terlambat, karena akan segera beralih ke syariah. Inilah langkah yang tepat". Itulah penggalan kalimat yang diucapkan Guru Besar Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Profesor Syafruddin Karimi ketika diminta komentarnya oleh RRI Padang tentang keputusan pemegang saham Bank Nagari, mengalihkan status bank daerah itu dari konvensional ke syariah.

Bank Nagari menyusul jejak Bank Aceh dan Bank Nusa Tenggara Barat sebagai bank daerah yang melakukan konversi menjadi bank syariah di Indonesia. Keputusan itu berdasar kesepakatan aklamasi Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) dan Rapat Pemegang Saham A Bank Nagari, di salah satu hotel di Padang, pada Sabtu 30 November 2019 lalu.

Menurut Prof. Syafruddin, dengan memilih menjadi syariah, menunjukkan Bank Nagari memahami keinginan pasar, sekaligus mendukung keberlangsungan jati diri Minangkabau dengan spirit dan pandangan hidup Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK)

“Masih ada waktu sampai 2021 untuk mematangkan persiapan menjadi bank syariah. Segeralah menyiapkan SDM yang punya kapasitas ilmu perbankan syariah, sehingga publik menjadi percaya, dan program yang ditawarkanpun benar-benar sesuai dengan sistem syariah," ucapnya pada RRI di Padang, Senin (2/3/2020).

Terkait kekhawatiran adanya nasabah yang berpeluang angkat kaki dengan keputusan konversi, menurut Prof. Syafruddin, hal tersebut tidak akan terjadi. Sebab, masyarakat Sumatera Barat yang menjadi pasar utama Bank Nagari, memang menginginkan sistem syariah ini. Apalagi, jika nantinya Bank Nagari benar-benar menjalankan prinsip syariah dan selalu menjaga kepercayaan nasabah, tidak akan nasabah yang menolak.

"Usaha perbankan itu tentang kepercayaan. Kalau produknya benar-benar syariah dan bisa meyakinkan masyarakat, tidak mungkin nasabah lari," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Profesor Duski Samad. Menurutnya, seluruh pihak di Sumatera Barat patut mendukung keputusan itu agar segera terwujud 2021 mendatang.

"Saya pikir ini sebuah langkah maju. Sesuai dengan nafas Minangkabau,  ABS SBK. Orang Minangkabau harus berani menegakkan norma syariah dan norma adat. Kalau ada yang memperlambat atau tidak setuju, justru patut dipertanyakan,” tegasnya, Senin (2/3/2020).

Nasabah Tak Akan Lari

Tak salah tenyata, apa yang diungkapkan Prof. Syafruddin Karimi dan Prof. Duski Samad ternyata sesuai dengan keinginan masyarakat di lapangan. Ulil Amri misalnya, mengaku sangat setuju dengan keputusan konversi.

“Setuju sekali, karena hal ini sudah lama dinanti sehingga tidak ada lagi riba,” ucap pria yang telah tergabung menjadi nasabah Bank Nagari sejak 11 tahun silam ini, pada RRI di Padang, Selasa (3/3/2020).

Ulil yang tercatat sebagai PNS di Pemko Padang ini berharap, agar program-program yang ditawarkan Bank Nagari nantinya benar-benar sesuai dengan sistem perbankan syariah.

Nasabah Bank Nagari lainnya, Sri Wahyu Rizki mahasiswi dari UNP menyebutkan, meski belum lama menjadi nasabah Bank Nagari baru pada 2017 lalu, pihaknya menginginkan agar Bank Nagari benar-benar hijrah menjadi bank syariah.

“Kalau sudah syariah tentunya akan dijauhkan dari bunga yang menurut agama kita itu tidak baik,” sebutnya.

OJK Kawal Konversi

Dukungan tak kurang lagi dari nasabah Bank Nagari untuk menyemangati bank daerah ini menuntaskan tahapan menjadi syariah. Sebab masih ada proses yang harus dilalui. Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Sumatera Barat Misran Pasaribu mengungkapkan, masih banyak tahap yang harus dilewati Bank Nagari agar menjadi Bank Nagari Syariah. Berbagai kesiapan pun harus dimatangkan seperti infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), sistem, standar operasional prosedur (SOP), termasuk yang paling penting adalah kesiapan nasabah. Secara umum, jika sudah dipastikan tidak ada nasabah yang berpindah bank setelah mengetahui rencana konversi, baru dapat dilakukan langkah-langkah lainnya.

“Harus dilakukan penelitian dan survei ke nasabah terkait rencana konversi ini. Harus ditanyakan kesiapan nasabahnya, karena itu penting untuk diketahui. Sebab nasabah yang menyimpan dananya di bank. Kalau mereka tidak setuju, tidak berkenan untuk berkonversi ke syariah takutnya ada penarikan dana. Nah ini yang harus diperhatikan dulu diawal,” tuturnya ketika ditemui RRI di ruang kerjanya, Rabu (4/3/2020).

Menurut Misran, OJK akan terus mengawal dan mengawasi rencana konversi yang dilakukan Bank Nagari. Setiap dua pekan, evaluasi selalu dilakukan untuk memantau sejauh mana perkembangan dari rencana tersebut. Apabila ada kendala-kendala yang ditemui maka akan segera dibicarakan dengan pihak Bank Nagari.

“Sejak disampaikannya  bisnis plan terkait konversi ini pada Februari lalu ke OJK, hingga saat ini kami belum melihat adanya kendala, masih berjalan sesuai dengan timeline yang telah mereka rencanakan. Kita akan pantau terus perkembangan dari bisnis plan yang sudah disampaikan pihak Bank Nagari,” ungkapnya.

DPRD Sumbar Tuntaskan Payung Hukum Bank Nagari Syariah Tahun ini

Anggota Komisi III Bidang Keuangan DPRD Sumatera Barat, Rahmat Saleh, menyampaikan, berdasar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) beberapa waktu lalu, semuanya sepakat untuk konversi Bank Nagari konvensional ke syariah. Kesepakatan RUPS artinya sesuai dengan keinginan masyarakat, agar Bank Nagari yang telah berusia 58 tahun segera hijrah menjadi Bank Nagari Syariah.

“Inikan sebuah momen bagi kita untuk menuruti keinginan masyarakat. Saya rasa sudah tidak ada alasannya DPRD Sumatera Barat  tidak menyetujui konversi ini,” ujarnya saat dihubungi RRI Padang, Kamis (5/3/2020).

Hal lain yang menjadi perhatian Rahmat Saleh adalah terkait keberkahan. Mengingat Bank Nagari adalah penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Sumatera Barat setiap tahunnya.

“Kalau kita ingin berkah, tentunya Bank Nagari harus segera menjadi Bank Nagari Syariah. Kalau masih konvensional saya rasa dari segi keberkahan agak kurang. Untuk itu, kita di dewan akan serius pula menuntaskan Perda konversi ini,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat Irsyad Syafar mengatakan, payung hukum atau regulasi akan segera dirampungkan tahun ini. Sebab Ranperda Konversi Bank Nagari Konvensional ke Bank Nagari Syariah masuk dalam 18 ranperda yang di bahas tahun ini.

“Segera akan kita bahas payung hukum terkait konversi ini,” sebutnya.

Ditambahkan Wakil Ketua Badan Pembentukan Perda (Bapemperda) DPRD Sumatera Barat, Sitti Izzati Aziz, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah memasukan nota pengantar terkait pembentukan Perda Konversi Bank Nagari Konvensional ke Bank Nagari Syariah. DPRD Sumatera Barat akan segera memasukannya dalam agenda Badan Musyawarah, sehingga diharapkan pada masa sidang kedua dapat dibahas.

“Sudah, sudah dimasukan bahannya oleh Pemprov, akan segera kita bahas. Kita targetkan tahun ini Ranperdanya dapat selesai sehingga jelas payung hukumnya. Karena Bank Nagari ini mengelola keuangan masyarakat mencapai triliunan tentunya harus jelas regulasi agar nantinya dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Merapikan Langkah Menjadi Bank Syariah

Tahapan panjang masih harus dilalui. Jika tak segera disiapkan, waktu yang tersisa tidak akan cukup. Masih ada waktu sampai November 2021 untuk membangun pondasi dan pilar kuat bagi Bank Nagari menjadi syariah. Menyikapi hal itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama Bank Nagari, Syafrizal, menjelaskan, Bank Nagari senantiasa memperkuat kemampuan dan kehandalan daya dukung berbasis teknologi. Bahkan, teknologi digital yang dibangun merupakan karya Bank Nagari sendiri.

“Saat ini kita mempersiapkan diri melangkah menjadi Bank Nagari Syariah. Sambutan positif nasabah jadi modal kita,” ujarnya, Jumat (6/3/2020).

Menurutnya, karakteristik sistem perbankan syariah dapat memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank. Menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan,serta menghindari kegiatan spekulatif saat bertransaksi keuangan.

“Kita optimis meskipun melakukan konversi menjadi Bank Syariah secara penuh tetap akan dapat berkembang dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi nasabah dan masyarakat Sumatera Barat,” tuturnya.

Syafrizal menambahkan, aset Bank Nagari pada 2019 telah mencapai Rp24,5 triliun, tumbuh 5,08% dari tahun sebelumnya. Sementara pinjaman yang disalurkan mencapai Rp18,9 triliun, tumbuh 7,71% dari tahun 2018.

“Laba bersih tercapai Rp383 miliar, tumbuh 10,37% dari tahun 2018. Begitu juga jumlah nasabah tabungan meningkat pesat mencapai lebih dari 1.7 juta rekening. Kinerja dan indikator rasio keuangan Bank Nagari saat ini menunjukkan trend kenaikan yang sangat positif,” sebutnya

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00