Harga Meroket Karena Corona, Operasi Pasar 8 Ton Bawang Putih Digelar Pekan Depan

KBRN, Padang: Harga bawang putih di sejumlah pasar di Kota Padang tiba-tiba melejit dua kali lipat beberapa hari terakhir. Komoditas umbi yang awalnya dibanderol Rp. 25 ribu per kilogram ini, naik menjadi Rp. 50 ribu per kilogramnya.

Kegelisahan di pasar akibat kenaikan harga itu sudah terbaca Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit bersama organisasi perangkat daerah beberapa hari lalu turun ke Pasar Raya Padang meninjau harga dan stok yang tersisa.

Nasrul Abit menjelaskan, melambungnya harga bawang putih terjadi secara nasional, bukan hanya di Sumatera Barat. Penyebabnya, terhentinya pasokan bawang putih impor asal China yang selama ini dikirim dari Belawan, Sumatera Utara. Penghentian impor itu juga merupakan kebijakan dari pemerintah pusat untuk mewaspadai penyebaran virus novel corona.

Menyikapi hal itu, Nasrul Abit, secara umum mengatakan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian guna meminta pasokan.

“Masyarakat tidak perlu cemas. Stok di pusat masih mencukupi sampai bulan Maret. Kita telah berkoordinasi agar ada tambahan stok,” ucapnya ketika meninjau harga dan stok bawang putih di Pasar Raya Padang pada 7 Februari lalu.

6 hari sudah, pasca peninjauan harga dan stok bawang putih oleh Pemprov Sumatera Barat, namun kejelasan pasokan tak kunjung terealisasi. Sementara stok yang ada semakin menipis. Pantauan RRI Padang di lapangan, harga terdongkrak naik kembali.

Hal itu diakui Tyas, pedagang bawang di Pasar Raya Padang. Ia mengatakan, pedagang terpaksa menaikkan harga karena tak ada pasokan bawang putih selama 3 pekan ini, sedangkan permintaan di pasar tetap konstan. Dengan kondisi itu, harga yang sudah naik di angka Rp 50 ribu, kini menjadi Rp 60 ribu per kilogramnya. Bahkan harga diprediksi masih mengalami kenaikan karena stok semakin miris.

“Naik harga karena memang tidak ada pasokan ke pasar. Ini terjadinya sejak 3 minggu lalu,” ucapnya.

Harga bawang putih yang melejit juga berimbas terhadap daya beli masyarakat. Hal itu diakui Tin, ibu rumah tangga yang rutin berbelanja di Pasar Raya Padang. Ia mengaku terpaksa mengurangi pembelian, menyisihkan uang untuk membeli kebutuhan lainnya.

“Biasanya membeli bawang putih satu kilogram, kini cukup setengah kilogram. Kalau beli 1 kilogram, uangnya tidak cukup untuk beli yang lain,” ungkapnya.

Tin yang juga berprofesi sebagai pedagang makanan ini menambahkan, kenaikan harga bawang putih ini juga membuatnya harus memutar otak. Lantaran, modal yang harus dikeluarkan untuk memproduksi makanan juga naik. Kendati naik, namun pihaknya tak bisa serta merta menaikkan harga jual makanannya, khawatir pembeli kabur ke tempat lain.

 Pedagang bingung, apalagi masyarakat sebagai konsumen yang harus merogoh saku lebih dalam demi mendapat bawang putih, yang merupakan bumbu wajib yang harus selalu ada. RRI Padang pun kembali meminta informasi ke Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat tentang kejelasan kapan dilaksanakan normalisasi pasokan bawang putih ke pasar. Berdasar keterangan Ir. Effendi, Kepala Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat, pekan depan dipastikan turun pasokan yang dikirim dari pintu impor di Medan. Jumlahnya mencapai 8 ton.

“Hari Minggu 16 Februari peluncuran operasi pasar di Toko Tani Indonesia Center di By Pass Aie Pacah. Setelah itu bawang ini disebar ke 10 kabupaten/kota. Mekanismenya, bawang putih dimaksud dikemas per setengah kilogram, kemudian langsung dijual Dinas Pangan ke masyarakat, tidak lagi melalui pedagang. Harga jualnya Rp 30 ribu rupiah per kilogram,” bebernya.

 Operasi pasar bawang putih akan dilakukan secara berkala, sampai pasokan benar-benar kembali lancar dan harga di angka normal. Ir. Effendi menambahkan, lonjakan harga bawang putih karena tutupnya pintu impor sebagai antisipasi penyebaran wabah virus merupakan pelajaran bagi masyarakat di Sumatera Barat, khususnya petani. Saat ini petani bawang putih lokal akan menerima laba besar. Harapannya, ke depan mereka memperbanyak produksi bawang putih, sehingga kebutuhan di daerah bisa dipenuhi dari produksi lokal, tak mengandalkan impor yang sangat rentan gangguan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00