Aset Laut Pulau Eksotis yang Menuai Dilema Berkepanjangan

KBRN, Padang : Penambangan terumbu karang yang dilakukan masyarakat di pelosok pedalaman Mentawai hingga detik ini masih menyisakan dilema. Ibarat makan buah si Malakama, pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai  seperti  dihadapkan pada tajamnya  dua sisi mata pisau. Dalam kenyataannya, memang  sulit bagi pemerintah daerah   menghentikan  kegiatan illegal  yang telah berlangsung ratusan tahun  itu.

Idealnya, masyarakat butuh tempat tinggal untuk pemenuhan kebutuhan pokok di daerah yang boleh dikatakan jauh dari  akses pelayanan.  Harga kayu yang relatif mahal dan dipicu persoalan klasik lainnya  yakni ketiadaan akses jalur darat pada sejumlah pulau  menyebabkan warga pedalaman  terobsesi  mengambil  terumbu karang untuk material membangun hunian.

Sementara di sisi lain, terumbu karang merupakan salah satu aset potensial kelautan  yang  keberadaannya dilindungi dan dilestarikan negara. Penambangan terumbu karang   selama bertahun-tahun  dapat menuai risiko vatal terhadap keberlangsungan ekosistem  laut,  sebagaimana ditegaskan Wakil Bupati Mentawai, Kortanius Sabaleke kepada RRI, Jumat, (4/09/2020).

“Dalam beberapa dekade ini, terjadi penyusupan terumbu karang yang  per tahunnya  mencapai 10 hingga 20 meter. Jika kondisi demikian tidak segera disikapi dengan memberikan solusi  tepat, dikhawatirkan aset yang untuk tumbuh dan berkembang  butuh waktu ratusan tahun  akan  punah dalam sekejap,”ujarnya.

Perairan Mentawai dengan aset bawah lautnya yang mempesona berikut   hanya tinggal cerita. Generasi penerus akan kehilangan aset laut yang menjadi masa depan bangsa. Menyikapi dilema tersebut, pemerintah  Kabupaten Kepulauan Mentawai  jelas Kortanius Sabaleke secara bertahap membuka akses dengan membangun jalur darat untuk pemenuhan kebutuhan material bangunan seperti pasir dan batu gunung. Akses ini baru dibuka pada  beberapa daerah, sementara daerah  lain seperti Pagai Utara, Pagai Selatan dan Siberut, masyarakatnya masih mempertahankan cara lama, menambang terumbu karang dalam jumlah  banyak.

Ia berharap, sosialisai dan pendekatan yang dilakukan petugas kepada  warga di peosok pedalaman secara bertahap  dapat menumbuhkan sikap peduli warga terhadap pentingnya upaya pelestarian aset kelautan untuk  masa depan generasi bangsa/

Hal senada dingkapkan Danlanal Mentawai,  Letkol Laut Anis Munandar. Maraknya kasus penambangan terumbu karang di Mentawai dalam beberapa bulan terakhir ini   menyorot perhatian berbagai kalangan. Terumbu karang yang semestinya dilestarikan sebagai salah satu kekayaan alam bawah laut secara terang-terangan dirusak tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.

Kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan menjadi salah satu penyebab  makin parahnya kerusakan terumbu karang di perairan  setempat.  Personil dari jajaran Lanal Mentawai jelas Anis telah dikerahkan untuk mengawal laut  Mentawai dengan sejuta aset lautnya yang  kini terancam punah.

“Pendekatan dan sosialisasi  dilakukan personil Lanal Mentawai  dari rumah ke rumah, terutama masyarakat pesisir pantai yang memiliki akses cukup dekat dengan laut.  Hasilnya cukup memuaskan, perlahan   masyarakat sudah mulai   melirik batu-batu gunung untuk pemenuhan kebutuhan pokok akan hunian yang layak,” ungkap Anis Munandar.

Bagi warga yang masih membandel dari aturan, personil mengambil langkah tegas dengan melakukan penertiban ke lokasi. Untuk proses  pembinaan, warga bersangkutan diserahkan kepada perangkat desa atau pemuka adat   dengan tujuan  memberi efek jera kepada yang lainnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00