Kisah Pilu Anak Suku Pedalaman : Ketika Ibu Tak Mampu Belikan Susu

KBRN, Padang : Perjalanan menuju Dusun Terekan Hulu, Siberut Utara, Mentawai memang berliku dan  memakan waktu yang cukup lama. Setelah menempuh empat jam perjalanan menggunakan kapal, tim sampai di Dermaga Siberut.

Dari dermaga ini,  kami masih harus  melanjutkan  perjalanan menggunakan jalur darat,   melewati jalanan dengan tanah merahnya yang berlumpur. Kanan kiri  jalan masih dipenuhi belantara yang  sepertinya belum dijamah  pemukiman warga. Karena sulitnya medan yang dijajaki, mobil yang ditumpangi tim  pun  terperosok di jalanan berlumpur.

Semangat di hari Kemerdekaan RI  tak melunturkan niat tulus,   mendatangi sesama yang membutuhkan pertolongan. Setelah menyeberangi sungai di penghujung belantara, tim akhirnya sampai di tujuan, tepatnya  Dusun Terekan Hulu.

Di dusun yang hanya di huni sekitar puluhan Kepala Keluarga – KK  itu, warga hidup diselimuti keterbelakangan. Ibu hamil dan balita  sehari-hari menjalani kehidupan apa adanya. Gangguan tumbuh kembang anak, hal yang  tak bisa dibantah adanya. Begitu mirisnya kehidupan warga pulau terluar sebagaimana  kenyataan pahit  yang diungkap ibu muda bernama Ambarita Keterbelakangan  menyebabkan ia  buta  dan  tak mengenal sama sekali susu formula, kegunaan dan  cara penyajiannya.

Kenyataan pahit  yang terpampang di depan mata menyadarkan  semua pihak.  Di pelosok pedalaman Mentawai, warga  belum menikmati arti  kemerdekaan yang sesungguhnya. Susu formula masih menjadi barang langka. Fisik anak – anak terlihat merana karena tumbuh kembang dan asupan gizi yang tak sempuna. Perasaan haru menyeruak di dada, sebagaimana yang dirasakan Mia Kunto Arief Wibowo, mantan Ketua Persit KCK Koorcab Rem 032 Wirabraja ketika menjajaki pilunya kehidupan anak-anak pulau yang  pada umumnya mengalami gangguan tumbuh kembang atau stunting.

Potensi stunting   yang mengancam kehidupan balita di pulau terluar tidak ditampik Mersen, Camat Sipora Utara. Kepada RRI,  ia menuturkan pentingnya pola penanganan kasus  yang cepat dan tepat dari tim medis, lingkungan dan stakeholder lainnya.                                                                                                                                                                                                                                            Dilema kehidupan masyarakat di daerah pedalaman harusnya lebih digali dengan segala keterbatasan yang  melilit  dari masa ke masa. Bagaimana bisa merawat anak-anak dengan fisik yang sehat, cukup asupan gizi jika tidak didukung oleh kemampuan  keluarga dari segi ekonomi.

Apalah jadinya mereka  jika masing –masing kita tidak berempati, menjawab apa yang disampaikan Ketua IIDI yang juga Tenaga Pengajar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr.dr. Rima Semiarti.

Kehidupan pahit yang dijalani Ambarita dan ibu lainnya tak akan mengambang  ke permukaan jika saja naluri pengabdian itu tumbuh nyata di kehidupan masyarakat pedalaman. Cerita pilu tentang susu fomula yang tak ubahnya barang langka  tak kan menodai  kemerdekaan yang selama ini didendangkan. Naluri dan sikap peduli dua kunci penting mengatasi ancaman stunting.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar