Sejuta Karya yang Menopang Asa di Balik Tembok Penjara

KBRN, Padang : Siapa bilang narapidana sampah masyarakat yang seterusnya hanya akan menjadi beban dan momok negatif bagi lingkungan  dan keluarga. Pandangan negatif tersebut tidak selamanya benar karena dalam kenyataannya, narapidana juga manusia, punya rasa dan keinginan untuk bisa diterima di lingkungan tempat tinggalnya dan  menata kehidupan yang lebih baik, terlepas dari dosa serta kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu.

Selaku kelompok minoritas yang keberadaannya  sejauh ini masih  dianggap aib bagi lingkungan  dengan sosoknya yang digambarkan menakutkan, tentu banyak kendala yang dihadapi ketika mereka berbaur di lingkungan sekitarnya. Keinginan untuk bisa diterima oleh keluarga, sanak saudara bahkan rekan-rekan yang dulunya dekat dan selalu ada,   menjadi mimpi dan harapan terbesar bagi seorang narapidana atau pun mantan narapidana. Seperti pengalaman yang pahit yang dirasakan Budi,  mantan narapidana asal Maninjau, Sumatera Barat   yang terjerat kasus narkoba dengan vonis hukuman 9 tahun 6 bulan penjara.

Pergaulan bebas telah menyeret lelaki kelahiran Maninjau, 32 tahun silam ini terpisah dari keluarga. Hujatan dan caci maki bertubi-tubi mendera kehidupannya,  Hal yang menyakitkan, ketika hari  kebebasan yang dinanti  datang, tidak satu pun keluarga bahkan teman – temen terdekat yang menunjukkan ketulusannya.

Ada rasa gamang ketika  ia melangkahkan kaki, meninggalkan gerbang Lapas Narkotika Sawahlunto yang telah bertahun-tahun membina akhlak dan kepribadiannya. Menjelang sampai ke rumah, di sepanjang perjalanan tidak satu pun orang yang dikenal merespon kebebasannya. Masyarakat bahkan teman dekat menjauh. Mereka mencibir karena opini negatif tentang  mantan narapidana sebagai  sampah masyarakat sulit untuk dihapus begitu saja.

“ Ada rasa putus asa yang saya rasakan ketika itu. Jangankan masyarakat dan teman terdekat, anak, istri bahkan orang tua saya sendiri  ragu menerima kehadiran  saya kembali ke rumah. Ada rasa ketakutan dan rasa tidak percaya,  saya  berubah sepenuhnya,” ungkapnya kepada RRI, Kamis, (18/8/2022),  sembari mengenang  pengalaman pahit yang telah menghancurkan masa depannya.

Beruntung, pembinaan yang diperoleh selama berada di lapas mampu menguatkan bathinnya. Dengan penuh keikhlasan, Budi  berusaha  tegar  menerima olok-olo dan cemoohan dari tetangga dan lingkungan sekitarnya.

“ Betapa menyakitkan ketika itu, di saat diri sudah  mau berubah, justeru ujian dan cobaan datang bertubi-tubi. Satu tekad yang bulat yang tertanam di hati, saya ingin merubah diri dan membuktikan kepada mereka, bahwa naraipdana bisa berubah dan berbuat hal-hal berguna  yang mereka  tidak pernah  pikirkan sebelumnya,” ungkap Budi.

Berbekal pengalaman dan keterampilan yang diperolehnya di lapas selama lebih kurang  9 tahun, ia memulai usaha produksi kasur dan bantal dari nol. Penghasilan dan  sedikt tabungan selama berkarya di lapas dijadikan modal awal untuk memulai usaha tersebut.

“Saya buang jauh  perasaan bimbang dan gamang yang menghantui pikiran. Satu per satu kasur dan bantal , saya kerjakan dengan tangan sendiri. Produk yang sudah jadi,  saya pajang di kios kecil yang saya sewa tidak jauh dari rumah. Menangis bathin ini karena selama tiga bulan pertama, bantal dan kasus yang saya pajang,  tidak satu pun yang dibeli orang. Jangankan menawar produk, mendekati kios  saja, orang tidak sudi,” ujarnya mengenang kesedihan masa lalu.

Beruntung hubungan baik dan komunikasi  Budi dengan pihak lapas tetap mengalir. Dalam suatu kesempatan, tanpa diduga, pihak lapas menghubunginya dan berminat memasarkan produk karya yang diproduksi mantan narapidana, binaan lapas.

“ Ini anugerah terindah yang saya rasakan sebagai mantan narapidana, ternyata Tuhan punya cara untuk menjawab taubat dan doa-doa saya selama ini,” ujarnya  bahagia.

Pengalaman pahit menjalani kehidupan sebagai narapidana juga dirasakan, Rijal yang tidak lain narapidana asal Kota Bukittinggi  yang divonis 6 tahun 4 bulan. Bapak dua anak ini tidak pernah mengira, di usianya yang sudah menapak 45 tahun, justeru ia dijauhi oleh keluarga, anak dan istri.

Bertahun menjalani masa pembinaan di Lapas Narkotika Saswahlunto dan beruntung ia di kelilingi oleh orang-orang yang peduli akan masa depannya.

“ Sudah dua tahun saya di sini, dan sejauh ini,  tidak satu pun keluarga terdekat  yang peduli  akan nasib saya. Ada rasa putus asa awalnya, namun di lapas ini saya mendapatkan support yang luar biasa,” ujarnya kepada RRI, Kamis, (18/8/2022).

Waktu luang yang tersisa dimanfaatkan dengan kegiatan produktif, yakni memproduksi aneka kerajinan lapas seperti sofa dan lainnya. Tidak hanya berproduksi,  bapak tiga anak ini  juga  berbagi ilmu dan pengalaman  dengan rekan sesama narapidana. Sebelum terjerat kasus narkoba,  ia dulunya adalah pengusaha sofa.

Bermacam sofa dan kerajinan tangan dihasilkan di lapas setempat dan secara  bertahap produk tersebut dipasarkan ke berbagai kota dan kabupaten di Sumatera Barat.

Berbekal keseungguhan dan keinginan menata kehidupan yang lebih baik, Rijal dan rekan sesama narapidana, gigih berproduksi, menunjukkan ketekunannya menggeluti usaha dari balik jeruji besi. Hasilnya tidak sia – sia, produksi terus berjalan meski pandemi melanda negeri dalam dua tahun terakhir ini.

Begitu mulia pemikiran seorang Rijal yang dulunya  dikenal dan dicap negatif  masyarakat sebagai pecandu narkoba.

Namun setiap orang bisa berubah. Seburuk  dan sehina apa pun masa lalu seseorang, ada waktunya untuk  bisa merubah diri. Cap buruk tidak selamanya melekat pada diri seseorang karena sejatinya tidak ada satu pun manusia yang sempurna di dunia ini. Kesempatan untuk merubah diri terbuka setiap waktu, sebagaimana pernyataan yang diutarakan  Kepala Lapas Narkotika Sawahlunto, Nasir kepada RRI, Kamis, (18/8/2022).

“Negara memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk warga binaan pemasyarakatan bisa merubah perilaku dan meningkatkan kualitas diri melalui berbagai upaya dan kegiatan yang sifatnya produktif, seperti halnya pengembangan keterampilan yang terus bergulir di Lapas Khusus Narkotika Sawahlunto,” paparnya.

Untuk saat ini,  bermacam produk hasil kerajinan lapas setempat telah dipasarkan, diantaranya kasur, bantal, sofa dan lainnya. Sebagian bahan baku didatangkan dari Pulau Jawa. Pandemi  Covid19 tidak menyurutkan semangat warga binaan untuk tetap berkarya, justeru di masa ini, kesungguhan dan keuletan mereka dalam menghasilkan produk – produk berdaya saing sangat diharapkan.

Dalam kenyataannya, produk yang dihasilkan narapidana telah diterima di lingkungan masyarakat. Kualitasnya tidak kalah bersaing dengan produk lainnya, sebagaimana pengakuan Bella, konsumen yang telah beberapa kali memesan produk dari lapas setempat.

Menurut  tenaga medis yang bekerja pada salah satu rumah sakit di Sumatera  Barat ini, sofa dan kasur yang dibelinya bertahan lama. Kualitas bahan tidak diragukan dan sebagai konsumen ia tidak menghiraukan latar belakang orang yang memproduksi produk.

“Justeru selaku masyarakat,  kita harus mengapresiasi karya-karya mereka. Narapidana adalah manusia biasa, mereka bisa berbuat kesalahan, namun di lain sis,  mereka juga bisa berkarya seperti yang lainnya. Saya sih percaya, seseorang bisa berubah,” ujar Bella.

Perubahan dalam diri seseorang bisa terjadi kapan saja. Pintu taubat selalu terbuka untuk siapa saja yang mau merubah diri. Bukan saatnya lagi, membaca dan mengurut kesalahan atau pun dosa yang pernah diperbuat seseorang,  sebagaimana ditegaskan Ketua Dewan Mesjid Indonesia – DMI Sumatera Barat, Buya Duski Samad.

“ Narapidana adalah manusia biasa, pada suatu waktu,  mereka bisa saja melakukan kesalahan dan kekhilafan. Namun hidayah bisa mendatangi siapa saja, pada saat itulah timbul keinginan untuk bertaubat dan merubah diri,” ungkap Duski.

Sudah sehausnya lingkungan mendukung keberadaan dan itikad mereka untuk merubah diri. Jangan sampai ada upaya-upaya mengucilkan mereka. Mantan narapidana  butuh dukungan dan rangkulan dari lingkungan untuk  bisa berbaur dan menjalani kehidupan  secara  normal di lingkungan masyarakat.

Dukungan dari lingkungan dan peran aktif organisasi keagamaan  merangkul mereka tetap  tegar menjalani kehidupan sangat dibutuhkan, terutama bagi mantan narapidana yang dari nol memulai kehidupan di luar lingkup penjara. Tak ada sukses dan keberhasilan, tanpa dukungan dari lingkungan sekitarnya. Seburuk-buruknya narapidana, dalam kenyataannya  kaum minoritas  ini juga  butuh wadah dan pengakuan  untuk mereka bisa bergerak leluasa, menghasilkan karya-karya yang diakui lingkungan di sekitarnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar