Hujan Air Mata yang Terpayungi Sudah

KBRN, Padang : Suasana siang itu masih tampak ramai. Anak - anak berseragam sekolah masih berlalu lalang, digandeng mesra ayah dan bunda,  menuju kelas sang juara. Begitulah kebahagian  yang terpampang di raut wajah gadis kecil bernama Dara (nama samaran).

Pelajar kelas dua pada salah satu Sekolah Dasar di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang ini baru saja menerima rapor semester dua. Kegigihan yang ditunjukkan putri semata wayang dari pasangan Ina dan Ramal ini  tidak sia-sia. Kasus kekerasan seksual yang dialami bocah malang itu  nyatanya tak menyurutkan semangat kedua orang tuanya untuk menyekolahkan putri tercinta.

Padahal jauh di relung sanubari, perasaan mereka hancur berkeping- keping setiap kali mengenang peristiwa naas itu.Tak pernah terpikirkan oleh kedua orang tua Dara jika suatu ketika putrinya menjadi korban kekerasan seksual dari  seorang lelaki yang ternyata masih terikat hubungan keluarga.Kedekatan hubungan keluarga nyatanya tak membuat pelaku mengurungkan niat jahatnya. Justeru inilah kesempatan bagi pelaku kekerasan seksual lebih mudah mendapatkan mangsa.

Di usianya yang masih kanak- kanak,  Dara sudah menjalani sisi buruk kehidupan yang begitu menyakitkan.Namun beruntung Dara masih memiliki orang tua yang begitu menyayanginya dan lingkungan yang ramah dan peduli padanya.Di saat seorang anak terpuruk dalam trauma yang begitu dalam, keluarga mengulurkan perhatian  yang luar biasa.Menenangkan jiwa si anak agar tak nestapa menjalani hati-hari. Perlindungan dan perhatian dari lingkungan adalah obat mujarab untuk anak bisa pulih dari trauma yang mendera kehidupannya.Begitulah perhatian yang selalu ditunjukkan  Ina kepada putri kesayangannya.

"Dalam setiap waktu, saya selalu ada bersamanya dan menempatkan diri senyaman mungkin. Kesemua itu kami lakukan  demi masa depan putri yang selama ini saya banggakan," ungkap ibu rumah tangga ini ditemui di kediamannya, Jumat, (24/6/2022).

Tanpa disadari, setetes bening menitik di sudut mata perempuan yang sehari-hatinya bekerja sebagai  buruh tani.

" Cukup lama saya menahan perih, karena hati ini selalu menolak setiap kali mencoba berdamai untuk  ikhlasmenerima kenyataan ," tambahnya.

Namun beruntung Ina dan Ramal tidak sendiri. Dukungan dari keluarga dan sanak famili di kampung menguatkan hati pasangan suami istri itu. Seiring berjalannya waktu, keluarga kecil ini, berupaya memantapkan hati dengan saling melengkapi dan tidak menyalahkan satu sama lain. Namun bukan berarti, mereka tidak peduli sama sekali akan masa depan putri tercinta.

" Hukum tetap harus dikawal dan ditegakkan, tidak peduli siapa pun pelakunya," ujar Ramal, ayah satu anak ini kepada RRI, Jumat, (24/6/2022).

Demi masa depan Dara dan kebaikan anak lainnya, keluarga ini menuntut keadilan untuk putrinya. Tanpa menunggu waktu lama, proses hukum bergulir di ranah pengadilan dengan  tetap mempertimbangkan aspek psikologis dan  perlindungan hukum anak- anak korban kekerasan seksual.Singkat cerita, si pelaku berhasil dibekuk aparat. Vonis hakim di pengadilan menempatkannya harus mendekam dl penjara untuk rentang waktu yang terbilang lama.

Pada akhirnya, hukumnya menunjukkan taring yang sesungguhnya dan idealnya, kekuatan hukum  memberi efek jera pada yang lainnya agar tidak berbuat hal yang sama. Belum lagi hukum adat di nagari yang membuatnya terpaksa meninggalkan kampung halaman karena kesalahan terbesar yang pernah diperbuat kepada bocah kecil yang semeatinya dilindungi, bukan dizalimi.Zaitul, tokoh masyarakat setempat menyatakan, kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan dan anak kian memprihatinkan. Masyarakat tidak boleh menyerah. Kepedulian dan tanggugjawab terhadap lingkungan harus selalu ditanamkan.

"Tak ada sejengkal pun ruang  di Ranah Minang untuk pelaku kejahatan seksual bisa bersemayam. Kami tak rela, tanah kelahiran dilumuri dosa yang menyebabkan keturunan kami merasa tak  nyaman hidup di negeri sendiri," ungkap Zaitul ditemui di kediamannya belum lama ini.

Tidak berlebihan sekiranya jika mulai detik ini, orang tua mengencangkan ikat pinggang, mengawal keberadaan anak di lingkungan luar rumah.Keberadaan anak semestinya tetap dipantau. Hal - hal yang tidak diinginkan berpeluang terjadi kapan dan dimana pun. Tak ada salahnya meningkatkan kewaspadaan sebelum musibah mengincar orang - orang yang disayangi.Tak hamya anak, perempuan pun seringkali menjadi objek pelampiasan kebejatan moral pelaku kekerasan seksual.

" Perlu sikap waspada masyarakat memantau perkembangan situasi lingkungan, terlebih pada mereka yang memang berpotensi menjadi pelaku dan juga korban kekerasan seksual," ujar Irman, Ketua RT setempat.

Menurut Ketua RT dua periode ini, kekerasan seksual pada umumnya dilakukan orang- orang terdekat. Kepekaan dan sikap peduli tetangga dekat sangat diharapkan untuk mencegah petaka moral tidak bertambah.Ada baiknya melakukan tindakan pencegahan dan penyelamatan dibanding mencari keadilan untuk perbuatan yang  yang sudah terlanjur diperbuat. Di sinilah pentingnya sikap saling peduli antar sesama dan jangan melakukan pembiaran untuk hal - hal yang pada dasarnya menghancurkan masa depan bangsa. Perempuan dan anak harus dilindungi setiap waktu dan jangan biarkan kejahatan moral makin melebarkan sayap.Fifi, salah seorang korban kekerasan seksual yang tidak mendapatkan penanganan hukum tuntas dari aparat. Tidak sekali ia dizalimi dan pada saat ia berjuang mendapatkan keadilan, lingkungan sekitar malah mencercanya.Apa dikata, niat hati mendapatkan keadilan malah berbuah kekecewaan.

" Hukum tak menunjukkan keberpihakannya, saya merasa benar- benar sendiri," ungkapnya memendam rasa kecewa.

Baik Fifi maupun Dara sama- sama insan yang harus dilindungi. Tak ada alasan untuk memilah perlakuan. Hukum harus menempatkan diri di posisi adil karena sejatinya tak ada celah untuk menetapkan pilihan yang tanpa didasari koridor hukum.

Senada dengan pernyataan yang disampaikan mantan pengurus P2TP2A Sumatera Barat, Quartita kepada RRI. Menurutnya, transparansi dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan dan anak harus ditanamkan. Hal yang mesti didudukkan, jangan sesekali memberi ruang pelaku kejahatan mudah dan leluasa melakukan perbuatan bejatnya secara berulang. Efek jera harus diutamakan untuk menyelamatkan masa depan anak dan perempuan di ranah tercinta.

"Dari kasus yang bergulir, umumnya pihak keluarga korban  berupaya menyembunyikan  kasus dengan alasan pertimbangan tertentu. Tanpa disadari hal inilah yang menyebabkan pelaku kejahatan seksual tak pernah merasa kapok atau jera," paparnya.

Sementara ruang dan potensi orang berbuat kejahatan seksual terbuka demikian luas. Pengaruh lingkungan di era digitalisasi kian gencar mencuci otak pelaku  kejahatan untuk tidak lagi bisa membedakan siapa lawan dan siapa kawan.  Benteng iman dan pengendalian diri kian melemah.

Bencana moral menyeruak di setiap celah dan mengusik nurani untuk menyakiti pihak lemah yang semestinya dilindungi.Belajar dari berbagai kasus kekerasan seksual yang telah banyak menorehkan luka  dan trauma, perlu sikap bijak lingkungan dalam  mengawal UU TPKS Nomor 12 Tahun 2022. Sudah selayaknya masyarakat mengawal langsung  realisasi UU TPKS demi tegaknya keadilan hukum untuk anak dan perempuan yang menjadi korban kejahatan para predator.

Dara dan Fifi hanya bagian kecil dari contoh kasus kekerasan seksual yang mengapung ke ranah publik.Dalam kenyataannya,  ribuan bahkan jutaan kasus yang terpendam di sanubari hingga tertelan begitu saja di perut bumi.Tak ada keadilan untuk mereka yang terpuruk duka. Jiwa peduli kadang dibunuh mati demi aib yang didewakan.Sudah waktunya kaum perempuan bicara, beraksi di berbagai forum demi masa depan anak yang terlahir dari rahim seorang ibu yang sejatinya perempuan yang harus dipayungi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar