LAPEK BARAJUIK, MAKANAN TRADISIONAL NAGARI PAKANDANGAN

KBRN, Padang : Sumatera Barat punya banyak ragam penganan tradisional. Banyak yang memiliki cita rasa khas dan hanya bisa ditemukan di daerah tertentu. Salah satunya adalah lapek barajuik atau disebut juga dengan lapek kampuang Aro yang merupakan makanan tradisional dari Kampuang Aro, Nagari Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat.

Bahan dan rasa lapek ini sama dengan jenis lapek kebanyakan. Dibuat dari adonan tepung ketan, tepun beras, dan pisang sibatu. Isiannya, parutan kelapa dan gula merah. Tapi keunikannya yaitu cara penyajiannya. Usai dibungkus dengan daun, lapek diikat dari satu ke satu lainnya. Biasanya pada 1 rajutan berisi 10 buah lapek.

One Rat, salah seorang penjual makanan tradisional Lapek Barajuik di Pasar Pakandangan Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung Padang Pariaman menuturkan, makanan ini memiliki cita rasa manis dan dibungkus menggunakan daun pisang yang kemudain diikat satu sama lain dengan bentuk memanjang.

Satu ikat lapek barajuik dijual seharga Rp. 10.000. Tidak banyak yang tahu makanan ini karena hanya dapat ditemukan di beberapa lokasi saja. Misalnya di Pasar Pakandangan yang dijual setiap hari Kamis, Pasar Pauah Kamba setiap Sabtu pagi, dan Pasar Sicincin setiap hari Jumat.

“Lapek Barajuik ini adanya pada hari hari tertentu saja, Kalau Kamis di Pasa Pakandangan, Sabtu di Pasa Pauh Kamba dan Jum’at itu di Pasa Sicincin. Harganya Cuma 10 ribu rupiah dan isi 10 buah,”tutur One.

Sudah 10 tahun One Rat menjajakan lapek barajuik. Ia dulunya berprofesi sebaga petani. Berkisah tentang lapek barajuik, One Rat mengungkapkan, Uniang Maili adalah orang yang pertama kali membuat lapek barajuik ini. Beliau sudah meninggal dunia, namun usaha itu masih dilanjutkan anak-anaknya.

“Memang dulu ada seorang yang awalnya membuat Lapek Barajuik ini, karena sudah meninggal dunia, anak anaknya melanjutkan usaha ini,”tambah One Rat.

Ratnawita, salah seorang penikmat lapek barajuik mengatakan, makanan tradisional dari Nagari Pakandangan ini masih diminati masyarakat. Tidak saja masyarakat di Padang Pariaman, namun para perantau dan masyarakat luar Sumatera Barat.

“Kalau pulang kampung tidak lengkap rasanya jika tidak memakan lapek barajuik ini. Selain itu karena bisa tahan lama dapat dijadikan oleh-oleh. Rasanya yang khas dan juga enak membuat makanan ini digemari oleh beberapa orang,” ungkap Ratnawita.

Hal senada juga di utarakan Nurmalis, makanan tradisional lapek barajuik ini juga menjadi suguhan pada kegiatan tertentu. Misalnya dalam acara adat, penganan ini juga disajikan bersama makanan lainnya dalam bentuk Jamba.

“Saya sering beli Lapek Barajuik ini untuk isi acara adat, mandoa dan membuat Jamba,”ujar Nurmalis.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman berkomitmen untuk tetap melestarikan keberadaan makanan tradisional yan masih eksis dan diminati masyarakat. Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Padang Pariaman Jhon Kenedy menjelaskan, dari 103 nagari di Padang Pariaman, masing-masingnya memiliki keunikan dan citra rasa  makanan yang berbeda.

Makanan seperti ini harus kita lestarikan, karena makanan ini banyak dicari oleh para perantau, selain itu dalam kegaitan kegaitan pemerintah, makanan Lapek Barajuik ini juga hadir sebagai makanan ringan bagi tamu. Lapek barajuik, satu dari sekian banyak kue tradisional di Sumatera Barat yang patut dilestarikan. Salahsatu caranya dimanfaatkan sebagai penunjang kuliner wisata. Dijajakan di lokasi-lokasi wisata

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar