Kebaikan yang Tak Berhenti Mengalir

KBRN, Padang : Wangi bunga menyebar mengikuti arah  angin yang membawanya, namun kebaikan  yang diperbuat  seseorang,  sejatinya  akan  menyebar ke penjuru dunia. Kata-kata bijak itu mewakili kondisi yang terjadi di Mentawai saat ini.  Sekian lama hidup dalam kondisi memprihatikan, jangankan untuk pemenuhan kebutuhan hidup yang memerlukan  biaya nyata, untuk kebutuhan pokok layaknya air bersih saja,  mereka sudah kewalahan.  Mau tidak mau, suka tidak suka mereka bergantung hidup pada ketersediaan air payau dan air hujan.

TNI dengan segala cara pun  berupaya mencari solusi. Untuk memenuhi atau pun mencukupi kebutuhan masyarakat akan air bersih tersebut.  Mantan Danrem 032 Wirabraja yang kini menjabat Panglima Divisi Infanteri 3 Kostrad, Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo kepada RRI  Selasa, (5/10/2021) menyatakan, kekeringan yang melanda  daerah pulau terluar menyebabkan warga hidup dengan kondisi apa adanya.

“ Air yang dipergunakan untuk berbagai kebutuhan hidup kondisinya tidak layak kosumsi dan rawan penularan wabah penyakit. Namun  karena keadaan, mereka tidak peduli akan  hal-hal yang membahayakan kesehatan,” ujar Kunto.

Hingga suatu ketika, inovasi prajurit TNI yakni  Korem 032 Wirabraja mengarah pada penggunaan teknologi sederhana. Prajurit Korem 032 Wirabraja ketika itu berhasil mengembangkan mesin penjernihan air DAG Filter yang mampu mengolah air tidak layak  kosumsi  menjadi air sehat yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan  masyarakat di  pedalaman Mentawai.

Mayjen TNI Kunto Arief  Wibowo menuturkan, pada awalnya, inovasi ini murni teruntuk bagi prajurit TNI yang sedang bertugas di daerah sulit air.

Teknologi DAG Filter  ini kemudian dikembangkan untuk  masyarakat pulau terluar di Sumatera Barat, yakni Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kondisi alam daerah yang dijuluki Bumi Sikerei ini memang berbatasan langsung dengan lautan hingga menimbulkan dilema yang menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan sumber air bersih.

“ Alat penjernih DAG Filter mampu menyaring limbah dan air laut menjadi air sehat dan  cara kerjanya  telah melalui serangkaian uji coba laboratorium. Hasilnya,  air yang diproduksi melalui alat penjernih ini terbukti layak, sehat dan bisa langsung diminum dengan kadar PH 7,” papar Kunto.

Gayung bersambut, ketulusan dan itikad menyelamatkan kehidupan warga pedalaman dari prahara dan bencana disambut haru masyarakat pedalaman yang lama merindukan sumber air  yang layak dan menyehatkan. Christine, warga Desa Simatalu,  Siberut ini sangat terbantu dengan adanya mesin  penjernih air tersebut. Ibu dua anak ini mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pemerintah, khususnya TNI yang telah berbuat   untuk kehidupan masyarakat di daerah pulau  terluar.

“ Selama ini kami sangat bergantung hidup pada ketersediaan air payau dan air hujan. Jika kemarau melanda desa, warga kesulitan mendapatkan sumber air sehingga tidak tepikirkan lagi penyakit yang mengancam kesehatan keluarga, terutama anak-anak yang sering mengeluhkan sakit,” ujarnya kepada RRI.

Hal senada diungkapkan Balat, warga lainnya. Kehadiran satu unit mesin penjernih air di Mentawai harusnya  dapat memancing kreasi lain  untuk berkiprah nyata, membantu kesulitan masyarakat di daerah terisolir.

“Masyarakat secara bertahap mulai  membangun sisi kemandirian dan tidak harus bergantung pada pemerintah. Mesin penjernih air yang ada saat ini sebatas pancingan untuk  yang lain  bisa berbuat lebih dari inovasi  yang sudah ada,” ujar tokoh masyarakat tersebut.

Apa yang diperbuat prajrit TNI, boleh dikatakan  inovasi pancingan  untuk yang lainnya bisa berbuat lebih. Dalam kenyataannya, masyarakat juga dituntut peka dalam memaksimalkan  potensi yang ada untuk mereka bisa bangkit dan  meningkatkan kualitas kesehatan serta peluang ekonomi  di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda ini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00