Dermaga Labuan Bajau, Urat Nadi Kehidupan Anak-Anak Pulau

KBRN, Padang : Pagi meretas mimpi,  seiring senandung anak-anak pulau yang  kala itu memandang dermaga penuh harap. Beragam keinginan terlintas di pikiran. Terbayang seketika, kemajuan  yang lama dirindukan yang ditandai  lalu lalang kapal   atau biduk yang tidak semata mengumbar cerita kehidupan anak nelayan di pulau – pulau. Terlintas di pikiran, sekiranya  negeri yang jauh dari sentuhan kemajuan ini suatu ketika dilirik para pejabat negeri. Perlahan namun pasti. Tak ubahnya suasana yang terpampang di Dermaga Labuan Bajau Mentawai ketika itu.  

Meski tidak seramai Pelabuhan Teluk Bayur, namun pelabuhan umpan regional yang berada di Siberut Barat ini cukup menjanjikan dan membuka sejuta peluang bagi masyarakat daerah. Kendati masih dalam suasana berbenah, namun antusias masyarakat memanfaatkan jasa kepelabuhan patut diapresiasi dan ditindaklanjuti dengan keseriusan pemerintah yang  secepatnya mengoperasikan dermaga umpan tersebut.

Untuk saat ini, nelayan di pulau terluar tidak lagi terfokus pada satu dermaga. Kapan saja mereka bisa mengangkut hasil pertanian untuk dipasarkan ke berbagai pulau,  bahkan kota dan kabupaten lainnya melalui Dermaga Bajau Mentawai, sebagaimana  pernyataan yang diutarakan  Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat, Heri Nofiardi kepada RRI, Minggu, (19/09/2021).

“ Keberadaan Dermaga Labuan Bajau besar artinya bagi masyarakat daerah yang selama ini terkendala pemasaran hasil panen  berupa pisang, keladi, durian, kelapa dan lainnya.  Hasil pertanian yang melimpah itu dapat segera diangkut ke dermaga yang selanjutnya didistribusikan ke berbagai daerah di Sumatera Barat. Dengan begitu, pemasaran hasil pertanian dapat menghidupi  keluarga nelayan yang kehidupannya rata-rata masih jauh dari kata layak,” ujar Heri Nofiardi.

Sebelumnya aktifitas perekonomian masyarakat di Pulau Siberut masih  dikungkung keterbatasan. Keinginan bisa leluasa menjual hasil pertanian ke berbagai daerah untuk capaian penghasilan yang memadai hanya sebatas mimpi, sebagaimana rasa haru yang diungkapkan Sababalat, warga Desa Sigapokna, Siberut Barat yang  berharap bisa menuai pendapatan lebih dari dermaga tersebut.

“Dermaga ini besar artinya bagi kami katakanlah  penduduk pulau yang lama dikungkung keterbelakangan. Dermaga ini bisa menjadi urat nadi untuk  pengembangan sektor ekonomi masyarakat pedalaman karena ke depannya tidak ada lagi pisang yang terbuang karena membusuk dan menumpuk di kebun. Begitu juga buah kelapa yang siap panen,  dapat segera di pasarkan ke luar Mentawai,” ujar Sababalat kepada RRI.

Awaludin Lubis, Petugas Syahbandar Wilayah Kerja Tuapeijat kepada RRI menuturkan, tidak hanya memperlancar lalu lintas barang, Dermaga Labuan Bajau juga membuka  jalur transportasi dari Mentawai ke Sibolga dan sebaliknya.

“Berikutnya pemasaran hasil pertanian  tidak  lagi bergantung ke Pelabuhan Teluk Bayur di Kota Padang karena dari Mentawai nantinya bisa langsung menembus Sibolga atau pun Bengkulu,” ungkap Awaludin Lubis.

Banyak kemudahan dan  penghematan biaya yang diperoleh dari keberadaan Dermaga Labuan Bajau, apalagi jika jalan Trans Mentawai sudah rampung,  otomatis biaya  transportasi barang ke pulau  lebih murah karena akan sangat mudah membawa barang dari daerah lain menuju  Mentawai.

“Setelah kapal sampai di dermaga, langsung diangkut dengan mobil atau pun truk melalui jalur darat Trans Mentawai. Tidak terbayangkan kemajuan  dan kebanggaan anak-anak negeri yang diberi kesempatan menikmati hasil pembangunan,” ujar Awaludin.

Di tempat terpisah, Bupati Mentawai Yudas Sabagallet menyatakan sikap optimisnya kelak Dermaga Labuan Bajau  berkontribusi nyata untuk pembangunan negeri. Menurutnya, Mentawai ibarat surga dunia, segalanya dimiliki negeri yang dijuluki Bumi Sikerei itu. Hanya saja dalam upaya pemberdayaan sumber daya alam, masyarakat daerah terkendala fasilitas dan sarana prasarana pendukung aktifitas, seperti halnya dermaga yang jumlahnya masih terbilang langka dan belum menjawab sepenuhnya kebutuhan masyarakat daerah.

Menurutnya tidak  ada yang tidak mungkin. Mentawai punya peluang yang sama dengan daerah lainnya. Secara bertahap, keberadaan Dermaga Labuan Bajau akan mendongkrak pendapatan masyarakat daerah yang ditandai memadatnya aktifitas di perairan.

Lalu lalang kapal yang mengangkut aneka barang kebutuhan menjadi saksi untuk perubahan yang segera diciptakan. Tidak ada lagi pisang dan keladi yang membusuk di ladang karena semuanya bisa dijadikan uang. Rupiah perlahan menggelinding ke Mentawai dan  saat itulah dapat dirasakan arti penting pembangunan dermaga yang sejatinya adalah urat nadi penopang kebahagiaan masyarakat yang diawali dengan peningkatan taraf kesejahteraan hidup warga di pulau-pulau.

Sementara itu,  Pengurus Kadin Sumatera Barat, Rahim Mardanis menuturkan, Labuan Bajau Mentawai  sangat membantu masyarakat daerah dalam pemasaran hasil pertanian. Selama ini, hasil panen dan hasil tani dari Mentawai hanya tertumpuk di pulau-pulau.

Dengan dibangunnya Dermaga Labuan Bajau, hasil panen dapat dipasarkan ke berbagai daerah. Masyarakat memperoleh sumber pendapatan yang selama ini jarang atau sama sekali tidak pernah dirasakan.

Awalnya bisa saja hasil pertanian dari Mentawai sebatas untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat pada beberapa daerah di Sumatera Barat. Namun kelanjutannya siapa yang bisa mengira. Pencapaian berikutnya bisa melebihi prediksi awal dan kesemua itu tergantung usaha dan kinerja yang diterapkan pemerintah daerah dalam mengoptimalkan fungsi dermaga  untuk kepentingan bersama.  

Bukan hal  mustahil  jika ke depannya  pelabuhan pengumpan regional selevel Dermaga Bajau Mentawai menjelma menjadi ruang ekspor impor barang dengan kualitas pelayanan yang menandingi pelabuhan berskala internasional layaknya Pelabuhan Teluk Bayur. Karenanya dalam setiap waktu, dermaga harus senantiasa berbenah diri  dengan menata  layanan sehingga pencapaiannya tidak mengecewakan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00