Sensasi Mak Itam Berkelindan di Pusaran Badai Pandemi

KBRN, Padang : Pagi merebak,  menebar harapan baru  di hamparan  rel bergerigi yang sudah berusia ratusan tahun. Masih di lokasi yang sama, tepatnya di  Museum Kereta Api Sawahlunto,   kisah  kejayaan  Mak Itam, sebutan kereta api barang  di masa silam  seakan tak pernah berhenti mengalun, hadirkan decak kagum orang-orang yang peduli akan sosoknya.

Dengan kondisinya kini yang tertunduk  lemah dan pasrah, tak seorang pun yang menyangka,  sosok Mak Itam adalah primadona di masanya. Beruntung,     keberadaan bangunan tua yang selanjutnya  beralihfungsi menjadi  Museum Kereta Api makin mengukuhkan sejarah panjang  dunia perkeretaapian Sumatera Barat yang tak lekang oleh putaran zaman. Daerah yang  berjuluk Kota Arang  ini masih  menyimpan serpihan demi sepihan kenangan yang mengingatkan dunia akan kejayaan Kota Arang  yang didukung ketangkasan Mak Itam sebagai satu-satunya alat transportasi  pengangkut bahan tambang batu bara pada masa itu.

Perjalanan waktu pada akhirnya menghadapkan manusia pada banyak pilihan. Perlahan Mak Itam  dilupakan bahkan ditinggalkan, seiring menipisnya ketersediaan arang di Kota Tambang. Sekian lama, Mak Itam terkubur dalam kenangan.  

Namun pandemi Covid19  sepertinya mengingatkan orang – orang akan album kenangan yang lama tertutup debu. Inovasi pemimpin negeri  sekan  menekankan  kepada  generasi muda, pentingnya  menghargai  sejarah  yang tidak  terbeli oleh tumpukan intan dan berlian. Walikota Sawahlunto, Deri Asta berinovasi untuk menghidupkan kembali jejak Mak Itam  di Ranah Minang.

“ Lokomotif hitam atau lebih dikenal dengan sebutan Mak Itam ini  terakhir dioperasikan tahun 2012, bersamaan dengan penyelenggaraan event tahunan Tour de Singkarak. Setelah  kegiatan itu,  Mak Itam lebih memilih bungkam. Cidera yang diderita Mak Itam menyebabkannya bungkam selama beberapa tahun,” ujar Deri Asta kepada RRI, Sabtu, (11/09/2021).

Setelah sekian lama berdiam diri di pojok museum, terbersit keinginan  untuk membangkitkan lagi masa kejayaan lokomotif hitam yang bernomor seri E1060 itu. Lokomotif tua yang ikonik tersebut  menurut Deri Asta adalah bagian penting perjalanan sejarah yang  mengukuhkan  Sawahlunto sebagai Kota Tambang di masa kejayaannya. Batu bara Ombilin menorehkan rentetan kisah panjang  perjuangan anak-anak negeri  dalam mewujudkan  mimpi, yakni  menjadikan Kota Arang sebagai warisan budaya dunia.

Kini setelah semua dapat diwujudkan, akankah kenangan  yang tersisa dilepas begitu saja. 50 tahun lamanya Mak Itam mengabdi untuk Ranah Minang. Tak sekali pun kata lelah terucap. Berton-ton batu bara diangkut setiap harinya ke Pelabuhan Emmahaven yang sekarang dikenal dengan nama Teluk Bayur.  Perjalanan panjang melintasi lembah dan perbukitan terjal,  tak pernah diragukan Mak Itam. Cidera yang diderita pun tak semestinya dijadikan alasan untuk melupakan jasa dan pengorbanan lokomotif tua itu.

 “Revitalisasi jalur kereta api adalah salah satu cara untuk membangkitkan kembali kenangan tentang lokomotif legendaris itu. Di saat nestapa menyelimuti berbagai destinasi tanah air karena pandemi yang tidak kunjung berakhir, Kota Sawahlunto                     justeru meniti asanya di sela badai Corona. Kita bangkitkan kembali sosok Mak Itam di Ranah Minang, bukan lagi sebagai kereta pengangkut barang, namun kereta penumpang  untuk  perjalanan wisata  yang  lebih menyenangkan,” papar Deri Asta.

Terbayang seketika sensasi berwisata menaiki kereta api tua dengan gerbongnya yang unik dan klasik. Perjalanan  terasa makin menyenangkan, ketika Mak Itam melesat membelah lembah di jalur kereta api bergerigi. Sensasi inilah yang menjadi  salah satu pertimbangan Pemerintah Kota Sawahlunto tidak pernah jera melirik pesona Mak Itam, sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto, Nova Erizon, Jumat, (10/09/2021).

“Pandemi Covid19 telah menginspirasi anak-anak negeri untuk tidak pernah berhenti berkreasi. Bagaimana mengoptimalkan pandemi,  bisa  menjadi ruang adaptasi  untuk menampung ragam kreasi anak-anak negeri,” paparnya kepada RRI.

Menurutnya, tidak mudah mempertahankan apa yang ada sekarang ini. Pengakuan internasional yang mengukuhkan Kota Arang sebagai warisan budaya dunia adalah tantangan yang sarat dengan perjuangan.

Memang tidak mudah membangun ruang pariwisata di masa ini, apalagi untuk keinginan merangkul  wisatawan  dalam jumlah banyak. Namun satu hal yang menurut Nova Erizon perlu disadari, inovasi tidak mengenal istilah patah hati. Celah dan peluang selalu terbuka sepanjang orang – orang  mau berusaha yang  salah satunya  dengan membangkitkan  kembali sensasi kerata api  masa silam melalui metode kolaborasi  untuk pembaharuan yang sifatnya  menyesuaikan dan kekinian. Mak Itam diyakini mampu  menjawab harapan tersebut.

Harapan senada disampaikan Mardambin, sesepuh Ranah Minang yang dulunya pernah menyaksikan kejayaan Mak Itam di masa lampau. Menurut lelaki asal Kota Serambi Mekkah ini,  Mak Itam adalah sarana transportasi kebangggaan masyarakat Minangkabau yang  bersifat adaptif.

“ Wajar kiranya jika Pemerintah Kota Sawahlunto tidak mau melepas aset berharga itu. Rencana memberdayakan Mak Itam untuk mendukung program pariwisata Kota Arang patut didukung, terlebih di masa pandemi yang umumnya  menggerus destinasi wisata di  tanah air,” ujar lelaki paruh baya kelahiran tahun 1951.

Keinginan mengabadikan aset daerah penuh sejarah juga diungkapkan Nila, mewakili kaum milenial lainnya. Pelajar kelas I SMA Muara Kalaban ini mengaku bangga dengan pemikiran positif  para  pemimpin negeri yang tak henti berinovasi.

Dengan mengaktifkan kembali operasional Mak Itam yang diawali dengan keinginan merevitalisasi jalur kereta api Sumatera Barat, otomatis sejarah perekeretaapian tetap terkenang. Kaum milenial dapat merasakan era kejayaan dunia perkeretaapian Sumatera Barat melalui kolaborasi yang menyatukan  pemikiran dari masa ke masa.

“Umpama peribahasa, sekali mendayung perahu, dua tiga pulau terlampau,”ungkap Nila yang ketika itu sedang berwisata ke Museum Kereta Api Sawahlunto.

Di samping  tujuan awal  merangkul minat kunjung  wisatawan  dari berbagai penjuru dunia,  revitalisasi dan pengoperasian Mak Itam sekaligus mengukuhkan komitmen Pemerintah Kota Sawahlunto yang tidak sejengkal pun rela terkubur sejarah. Sejarah adalah bagian penting dari rentang kisah yang mengantarkan anak manusia meniti  puncak peradaban melalui  rangkaian proses yang indah dan menggugah.   

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00