Memotret Keberagaman Lewat Tradisi Muanggau

KBRN, Padang : Pantai Mapadeggat yang terletak di Desa Tuapeijat, Kabupaten Kepulauan Mentawai kala itu tampak demikian bersinar. Berbinar diterpa cahaya bulan purnama. Tepatnya di bulan Agustus 2018, pantai ini menjadi saksi penyelenggaraan event budaya, Tradisi Muanggau yang dilaksanakan sekali dalam setahun.  

Malam itu, suasana pantai terlihat begitu ramai. Perburuan sudah dimulai dan setiap orang yang datang ke lokasi kegiatan pun sudah  siap dengan peralatan tradisional  yang  dipergunakan untuk berburu anggau, sejenis kepiting endemik  yang dipanen sekali dalam setahun.

Di antara peburu anggau, terlihat sosok lelaki setengah baya, Sababalat. Dengan atribut lengkap di tubuhnya yang dipenuhi tiktik yakni sebutan  untuk tato Mentawai,   warga  Desa Sikabaluan itu menengadahkan  kepalanya ke langit. Sababalat yang datang bersama dua anak lelakinya berharap, perjalanan panjang menelusuri pantai berpasir putih di malam itu berbuah hasil yang maksimal. Bisa mengumpulkan anggau sebanyak-banyaknya adalah harapan setiap peserta yang ikut dalam Festival Muanggau ketika itu. 

Tanpa menunggu lama, Sababalat  dan dua putranya segera bergabung dengan peburu anggau lainnya, satu per satu anggau yang  melata di hamparan pasir  dijepit  dengan sigapnya mempergunakan alat  yang terbuat dari bambu yang bagi masyarakat pedalaman Mentawai  dinamakan  lap-lap.

Anggau yang sudah terjepit lap-lap selanjutnya  dimasukkan ke  dalam sebuah wadah yang disebut opah. Berbekal obor di tangan, Sababalat  bersama peburu lainnya bekerja keras mengumpulkan anggau  dalam jumlah banyak untuk cadangan makanan di musim badai.     

“Kami yang ikut Tradisi Muanggau ini berasal  dari berbagai pulau  dan  dusun yang berbeda. Namun jika sudah berada di lokasi perburuan anggau ini, semua sama, semua bersaudara, saling bantu untuk tujuan yang sama,” ungkap Sababalat kepada RRI.   

Untuk diketahui,  Mentawai terdiri dari gugus pulau. Masing-masing pulau  dihuni masyarakat dari bermacam  ras, suku bangsa, agama dan aliran kepercayaan yang masyarakat setempat menyebutnya Arat Sabulungan.

Jika dalam  keseharian, untuk memudahkan komunikasi dan aktifitas, warga sudah membentuk komunitas sendiri, namun jauh beda suasananya jika mereka sudah berada di lokasi perburuan anggau. Tradisi adat ratusan tahun ini  menepis segala macam perbedaan   yang menjurus  pada perpecahan.

Komunitas-komunitas kecil disatukan berbaur menjadi satu keluarga besar. Pada momen berbahagia itu, masyarakat pedalaman  yang berasal  dari berbagai pulau  dengan ragam kepercayaan yang berbeda bersatu padu, menikmati momen kebersamaan untuk beberapa waktu lamanya. Seperti diungkapkan Bupati Mentawai yang juga Tokoh Adat Mentawai, Yudas Sabagallet.

Momen kebersamaan yang terangkum pada  tradisi berburu anggau tidak jarang berlanjut  pada hubungan kekerabatan yang lebih serius yakni jenjang perkawinan.  Berhari-hari lamanya berburu anggau di pulau, tidak menutup kemungkinan jelas Yudas,  timbul rasa suka kepada pasangan lawan jenis.

Tradisi Muanggau menepis jauh perbedaan sehingga perkawinan beda agama dan  beda suku  tetap  bisa diselenggarakan dengan catatan,  tidak menodai kesakralan nilai – nilai  adat yang dijunjung tinggi pada saat penyelenggaraan tradisi dimaksud.

“Inilah salah satu keistimewaan tradisi leluhur yakni Muanggau. Tradisi ini  menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang kehidupan sosial, budaya dan agama melalui sebuah ikatan perkawinan yang bagi masyarakat daerah dianggap suci,” ujar Yudas.

Pengalaman Sabaleike dan Christine

Pengalaman bertemu pasangan hidup di arena perburuan anggau  dialami Sabaleike dan Christine. Dua sejoli beda suku dan keyakinan ini awalnya tidak  mengira jika Tradisi Muanggau yang berlangsung bulan Agustus 2018  menyatukan perasaan dua sejoli yang berbeda keyakinan dan status sosial ini.

Awalnya ada semacam kekhawatiran, kesulitan mendapatkan restu perkawinan dari masing-masing pihak keluarga, baik dari calon mempelai laki-laki maupun calon mempelai wanita. Namun kekhawatiran tersebut terbantahkan stelah melihat kerukunan  dan hubungan baik yang terbina antar keluarga  ada momen indah  Muanggau.

Kebersamaan  yang dirasakan  saat menjalani tradisi memuluskan niat suci  dua sejoli beda agama dan kultur budaya ini  melangkah mulus ke jenjang perkawinan.

Christine tidak lain seorang  Nasrani dari keluarga terpandang. Sementara lelaki yang menjadi pasangan hidupnya berasal dari keluarga sederhana yang masih meyakini ritual adat yang erat kaitannya dengan penghormatan terhadap alam dan leluhur atau lebih dikenal dengan istilah Arat Sabulungan.

“Saya dan istri hingga kini telah dikarunia  putra dan putri. Hubungan dua keluarga  tetap  berjalan harmonis tanpa mengusik perbedaan yang terpampang nyata dalam biduk rumah tangga,” ujar Sabaleike.

Sementara itu, Sosiolog Universitas Andalas,  Elfitra menjelaskan, kasus perkawinan beda agama/keyakninan, kultur sosial  budaya bisa terjadi kapan dan di mana saja.  Untuk Sumatera Barat, Mentawai  memang satu-satunya daerah  yang sarat dengan nuansa keberagaman, namun memegang teguh konsep kerukunan dengan  toleransi hidup beragama,  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sudah dipupuk sejak zaman nenek moyang .

Perbedaan  dan  nuansa heterogen  tidak lantas menjadikan masyarakat suku pedalaman Mentawai terbelenggu konflik yang menjurus pada perpecahan.

Menilik ritual adat pada penyelenggaraan Tradisi Muanggau, menurut Elfitra  terpampang nyata keluwesan berpikir  para  leluhur di masa lampau.

“Dulunya tidak ada  pendidikan formal  yang mengarahkan  leluhur suku pedalaman Mentawai paham dan memaknai sepenuhnya  nilai tolerasi dalam kehidupan. Mereka hidup di pelosok pedalaman dengan fasilitas hidup yang jauh dari kata layak.  Namun hal yang patut dibanggakan,  cara berpikir  nenek moyang dan leluhur suku pedalaman lebih maju dibanding kita yang sekarang ini hidup dengan teknologi dan pendidikan yang memadai,” ujar Elfitra.

Masyarakat suku pedalaman Mentawai menurut  Elfitra  sudah lebih dulu memahami makna keberagaman dan menerapkannya dalam sebuah tradisi budaya leluhur untuk tujuan mendapatkan keberkahan bagi banyak orang.

Intinya, jauh sebelum Indonesia merdeka, nenek moyang  suku pedalaman  Mentawai  yang menempati gugus pulau terluar memahami pentingnya menerapkan toleransi  dan  kerukunan  hidup antar  sesama.  Hingga kini,   Tradisi Muanggau masih terpelihara dengan baik dan tetap lestari di kehidupan masyarakat suku pedalaman.

Mempromosikan Muanggau

Pilongi, warga Pagai Selatan  hingga kini tetap kukuh dan meyakini kesakralan Tradsi Muanggau. Menurut wanita muda ini, tradisi Muanggau menyatukan semua perbedaan sekaligus menghapus persepsi negatif masyarakat luar Mentawai terhadap kebudayaan lokal tersebut.

Cukup beralasan  jelas Pilongi jika Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai   gencar mempromosikan Tradisi Muanggau ke berbagai penjuru dunia, bahkan menatanya dalam kegiatan rutin kepariwisataan daerah.  Sebelum pandemi Covid19 melanda berbagai negeri,  pemerintah kabupaten setiap tahunnya  menyelenggarakan Pameran Muanggau. Tradisi ini tidak hanya melibatkan masyarakat adat, namun pengunjung dari  luar Mentawai hingga  turis-turis mancanegara.

Selama ini, tradisi Muanggau kerap dipandang negatif. Namun, asumsi ini memicu rasa penasaran orang – orang dari luar Mentawai untuk datang ke daerah yang dijuluki Bumi Sikerei itu. Pada bulan Agustus, perburuan anggau dimulai dan untuk mengobati rasa penasaran,  tidak sedikit pendatang luar Mentawai yang berduyun-duyun datang ke pulau untuk mengetahui secara detail konsep  penyelenggaraan Muanggau itu sendiri.

“Setelah mengikuti rangkaian kegiatan  mencari anggau, baru mereka paham. Muanggau sarat dengan pesan moral  dan tidak seperti yang digambarkan sebelumnya. Anggapan negatif  yang menjurus pada perilaku  terlarang  muda-mudi  di musim anggau terbantahkan,” ujar Pilongi.

Kepada  RRI, Pilongi bercerita tentang  rasa bangganya terhadap  tradisi warisan nenek moyang itu. Tradisi turun temurun inilah yang telah mengubah nasib Pilongi dan anak pulau lainnya.

Mengubah Nasib Anak-Anak Mentawai

Tidak pernah terbayangkan oleh Pilongi, anak kelima dari tujuh bersaudara ini, jika kehadirannya pada  event Muanggau beberapa tahun silam adalah   batu loncatan untuknya bisa mengenal dunia luar dengan fasilitas pendidikan yang ditawarkan secara gratis.

“Dulunya saya hanya anak pulau yang buta huruf, tidak bisa tulis baca dan berhitung.  Bahkan ada rasa pesimis yang dipendam   anak-anak suku pedalaman yang orang tuanya masih menganut kepercayaan kepada alam  dan roh  leluhur,” ujar Pilongi.

Namun semua itu terbantahkan, Tradisi Muanggau membuka mata pemerintah kabupaten, terutama  pejabat di daerah   bahwa di pelosok pedalaman Mentawai,  jutaan anak belum  mendapatkan hak dasar berupa  pendidikan  secara layak. Akses pendidikan terputus selama puluhan tahun  dan fakta tersebut terungkap dari penyelenggaraan Tradisi Muanggau yang menghadirkan potret nyata anak-anak pulau buta aksara.

Setelah Tradisi Muanggau, Pilongi mendapatkan beasiswa dari pemerintah kabupaten untuk melanjutkan sekolah. Karena itu ia harus meninggalkan dusun kelahiran dan berpisah dengan keluarganya.

“Sebagai anak suku pedalaman dengan aliran kepercayaan monoteistik, saya merasa bangga karena  mendapat perlakuan  sama dengan anak sebaya lainnya,” ujar Pilongi yang kini sudah merintis masa depannya pada salah satu perusahaan di Yogyakarta.

Sesekali Pilongi pulang ke dusun kelahirannya dan menyakinkan generasi di bawahnya,  negara sejatinya tetap memberikan ruang dan kesempatan bagi anak-anak suku pedalaman untuk  meniti masa depan.

Di hadapan anak-anak suku pedalaman, Pilongi yang sudah menetap di Kota Pelajar itu seringkali mencontohkan keberadaan dirinya ketika masih menetap di pulau. Satu hal yang selalu ditekankan, Muanggau memberikan ruang kebersamaan yang tidak berbatas dan  mewujudkan  mimpi  anak-anak pedalaman  pada sebuah kenyataan.                         

Nasib mujur juga  dialami  Supiati,   perempuan  asal  Pagai Utara yang  menganut agama monoteistik yakni Baha’i. Keikutsertaannya pada momen Muanggau telah mengantarkan Supiati kecil ke bangku pendidikan formal.

Pada tahun 1991, ia meningalkan Mentawai dan tinggal bersama pamannya di Kota Padang. Di kota yang berjarak sekitar 174 kilometer dari Mentawai ini, Supiati  mulai  berbaur dengan lingkungan barunya, termasuk sekolah dasar  yang merupakan dunia baru baginya.

Dari pengalaman masa kecilnya itu, Supiati menyimpulkan,  kesempatan untuk penganut agama Baha’i mengecap pendidikan layak  sudah terimplementasi jauh sebelumnya.  Pada tahun 1992, Supiati yang kini berstatus ibu rumah tangga menamatkan bangku pendidikan  Sekolah Dasar dan melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP dan SMA. Beberapa tahun kemudian, Supiati tumbuh menjadi sosok mandiri, berbekal pengetahuan yang dimiliki dan memutuskan kembali ke pangkuan keluarganya di Mentawai.

Petualangan  Supiati  menembus dunia  penuh perbedaan  agaknya belum berakhir. Pada tahun  2010, masih dari arena  perburuan Anggau, ia bertemu dengan Fadli,   mahasiswa asal Jakarta yang  pada waktu itu melakukan penelitian tentang asal muasal Tradisi Muanggau.

Pada tahun yang sama, Supiati  yang merasa ada kecocokan dengan Fadli, memutuskan menikah dengan lelaki muslim  itu. Restu dari kedua keluarga mengiringi perjalanan biduk rumah tangga pasangan yang awalnya berbeda keyakinan  dan kultur budaya itu.

Supiati kini  telah dikarunia dua buah hati dan  tetap meyakini kesakralan Tradisi Muanggau bahkan  menjadi saksi hidup,  indahnya kebersamaan  yang terangkum selama berlangsungnya musim anggau.

Pengalaman pribadi Supiati, Pilongi, Sabaleike dan anak pulau lainnya menekankan kepada publik, Tradisi Muanggau sarat akan banyak pesan. Tradisi Muanggau menepis segala macam perbedaan dan menyatukannya dalam nuansa kebersamaan yang membingkai nyata kemajemukan anak bangsa. 

***

Liputan ini merupakan bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mainstream yang    digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) bekerjasama dengan Norwegian Embassy untuk Indonesia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00