PMI Jelajahi Pulau Terluar untuk Edukasi Tiada Henti (PHBS)

KBRN, Padang : Sinar matahari menyapu pantai berpasir putih di sisi barat Pulau Sipora, pulau cantik dengan daya tarik  wisata yang tiada dua. Itulah Pantai Jati, pantai yang jaraknya tidak  begitu jauh  dari  ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai ini nyatanya mampu merebut hati para peselancar dari berbagai negara di dunia. Meski dalam situasi pandemi Covid19, aktifitas selancar tetap mengalir di pantai  cantik ini.

Hal itulah yang mendorong pemerintah daerah, termasuk Palang Merah Indonesia – PMI  tidak  pernah berhenti menggencarkan  edukasi dan sosialisasi. Amat disayangkan jika keelokan pantai justeru membawa petaka bagi pengunjung atau masyarakat di sekitarnya. Melalui relawannya yang tersebar di berbagai daerah, PMI Sumatera Barat bersinergi melebur kebiasaan hidup anak-anak suku pedalaman yang boleh dikatakan masih jauh dari sentuhan Perilaku Hidup Bersih Sehat – PHBS.

“Pandemi Covid19 sejatinya menuntut masyarakat  lebih peka dan sadar  pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat, salah satunya dengan menerapkan protokol kesehatan yakni, menggunakan masker,  rajin mencuci tangan dan menjaga jarak,” ungkap  Ketua PMI Sumatera Barat, Aristo Munandar kepada RRI, Senin, (23/08/2021).

Jika menilik kehidupan warga di Kabupaten Kepulauan Mentawai khususnya  di daerah pedalaman, boleh dikatakan masih jauh dari standar kesehatan yang sesesungguhnya. Untuk hal-hal sederhana seperti mencuci tangan misalnya,  mereka masih merasa terbebani. Begitu pun ketika petugas atau pun relawan PMI melakukan pendekatan kepada warga di pulau-pulau terkait penggunaan masker, tidak serta merta warga bisa memahaminya.

Pada pulau-pulau tertentu yang memang jauh dari jangkauan pelayanan pemerintah kabupaten sebut Pulau Siberut, kehidupan masyarakatnya masih dikungkung keterbatasan sehingga perlu kerja keras petugas untuk merangkul masyarakat, mengenal dan menerapkan  perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungannya terutama di masa pandemi Covid19 ini.

Citra, salah seorang relawan PMI di Kabupaten Kepulauan Mentawai menuturkan, edukasi dan sosialisasi Covid19  telah menyita perhatian  berbagai pihak. Awalnya perkembangan virus Corona di Mentawai boleh dikatakan melandai. Namun dalam dua bulan terakhir ini, pemerintah menetapkan PPKM level 3 pada 18 kabupaten dan kota di Sumatera Barat, termasuk di dalamnya Kabupaten Kepulauan Mentawai.

“Dengan demikian, cukup besar peluang bagi Covid19  ini berkembang di daerah kepulauan   sehingga relawan PMI   harus bekerja keras, menyingsingkan lengan baju dengan  menelusuri pulau demi pulau hanya untuk menyampaikan edukasi dan pemahaman kepada warga,  pentingnya menerapkan PHBS pada  situasi pandemi dalam bentuk kesadaran mematuhi protokol kesehatan yakni menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak,” ujarnya kepada RRI, Minggu, (22/08/2021).

PMI melalui relawannya berupaya  memasuki perkampungan-perkampungan warga, membagikan masker dan handsanitizer serta menjelaskan kegunaan dari masing-masing peralatan tersebut.

Menurut Citra, sebagian besar warga di pedalaman Mentawai tidak memahami penggunaan dan manfaat dari peralatan yang dibagikan. Relawan PMI dengan kesabarannya menjelaskan satu per satu kegunaan alat  tersebut.

“Bahkan pada salah satu dusun terisolir yang kami datangi, beberapa warga menentang dan menolak edukasi yang kami lakukan dengan alasan yang tidak masuk akal. Namun  relawan PMI tidak pernah menyerah. Upaya lain dilakukan melalui pendekatan kepada tokoh adat dan pemuka masyarakat  setempat  hingga  akhirnya sosialisasi protokol kesehatan di dusun setempat diterima masyarakat,” papar Citra.

Hal senada diungkapkan Defri,  relawan PMI yang sehari-harinya mengabdikan diri di daerah yang dijuluki Bumi Sikerei itu.

“Butuh waktu dan pengorbanan dalam proses edukasi tersebut karena merubah pandangan hidup  warga di daerah 3 T  bukan perkara mudah. Sementara PHBS harus disosialisasikan sebagai bagian dari upaya pemerintah memutus rantai penularan Covid19 yang diawali dengan ketaatan  menerapkan  prokes dalam  keseharian,” ujar lelaki yang sudah satu dekade ini berjuang, menjalankan tugas kemanusiaan di kepulauan setempat.

Menurutnya,  tidak mudah merubah segala sesuatu  yang sudah menjadi kebiasaan dalam komunitas. Konflik dan perlawanan dari lingkungan sekitar  tentunya bukan hal yang mengejutkan. Namun kerja keras yang dilakukan petugas dan relawan PMI di berbagai medan, nyatanya tidak mengingkari hasil yang diperoleh. Indah dan menakjubkan adanya, sebagaimana diungkapkan warga Sikabaluan, Uma Nanti.

Perempuan muda ini awalnya berat menerima perubahan di sekitarnya. Kedatangan petugas dan relawan PMI menelusuri hutan belantara hingga sampai ke dusun kelahirannya menimbulkan bagi dirinya pribadi.

Namun pembelajaran yang didapat dari sosialisasi berkelanjutan tanpa disadari telah membuka pemikirannya.

“Saya mulai yakin, apa yang pemerintah hadirkan buat kami di sini adalah hal terbaik. Awalnya kami tidak tahu apa itu Corona, bahaya dan cara mencegahnya,” ujar Uma Nanti.

Tidak satu pun manusia di muka bumi ini yang tahu pasti, kapan ajal menjemputnya. Hal terpenting  yang mesti dilakukan bagaimana waktu yang tersisa, dapat dimanfaatkan dengan sebaiknya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat salah satu cara manusia menghargai kehidupannya dan pandemi Covid19 kian mengukuhkan,  pentingnya ketaatan dalam mematuhi protokol kesehatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00