Raga dan Asa yang Tergilas Hempasan Badai Pandemi

KBRN, Padang : Tidak seperti biasa, Klinik Pijat Netra  yang beralamat di Anduring, Kota Padang ini tampak sepi. Tidak  terlihat aktifitas yang setiap harinya bergulir, tepatnya sebelum pandemi Covid19 melanda berbagai daerah. Siang itu, Arisman  yang tidak lain pemilik klinik pijat massage dan shiatsu  duduk termenung di bagian depan bangunan klinik. Pandangannya menerawang jauh,  seakan berupaya menepis beban yang menggelayuti pikirannya.

Rona gelisah tidak bisa ia sembunyikan,  tersirat jelas  di wajah lelaki kelahiran 15 Desember 1979 itu. Pandemi Covid19 telah memupus harapan ayah tiga anak yang kesehariannya memang menggantungkan hidup dari  jasa pijat klinik yang telah 16 tahun menghidupi keluarganya. Tidak hanya pemasukan yang menurun drastis, beberapa rekan kerja yang juga  sesama penyandang disabilitas  terpaksa ia rumah sementawa waktu,  disebabkan ketidaksanggupannya membayar gaji karyawan.

“Pandemi Covid19 ini telah membuat kami kehilangan sumber mata pencarian hidup. Untuk biaya hidup sehari-hari, penyandang netra yang memiliki kemampuan memijat tentunya sangat berharap bisa tetap beraktifitas.  Namun sayangnya, pemerintah belum sepenuhnya memikirkan nasib orang-orang yang bekerja pada sektor informal seperti saya ini,” ujar Arisman kepada RRI, Sabtu, (31/07/2021).

Menurut bungsu dari 11 bersaudara ini, sebelum pandemi melanda negeri, ia dan beberapa karyawan yang dipekerjakan bisa  beraktifitas dengan nyaman. Pasien yang membutuhkan layanan pijat umumnya pelanggan yang jadwal pijatnya sebagian sudah terjadwal. Namun kini apa dikata, klinik sepi, orang - orang ketakutan keluar rumah karena khawatir terpapar Covid19. Belum lagi PPKM bertingkat yang diberlakukan pemerintah yang makin  mengikat ruang gerak masyarakat  beraktifitas mencari sesuap nasi.

“Bagaimana  bisa membiayai sekolah anak, menafkahi keluarga  jika kondisinya masih seperti ini. Pemerintah tidak kunjung memberikan kelonggaran untuk masyarakat bisa berusaha dengan nyaman,” ujarArisman.

Hal senada diungkapkan Ketua Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia - PPDI Kota Padang, Icun Zulhadi kepada, Jumat, (30/07/2021). Menurutnya, pandemi yang telah menggerus aktifitas masyarakat selama lebih kurang dua tahun terakhir ini ibarat pukulan telak yang memprorak-porandakan kehidupan masyarakat khususnya kelompok marjinal yang memiliki keterbatasan dalam berusaha.

“Mereka ini hanya punya keterampilan terbatas untuk bisa menafkahi keluarganya, salah satunya pijat. Nah kondisi yang terjadi sekarang ini justeru  mengusik mimpi dan harapan mereka untuk berusaha dengan rasa nyaman. Jika beralih ke bidang lain, kecil kemungkinan mereka bisa bertahan sehingga perlu bagi pemerintah memikirkan kelangsungan hidup kelompok marjinal ini. Bagaimana aturan tetap bisa dijalankan tanpa merongrong kebebasan orang berusaha menafkahi keluarganya,” tegas Icun.

Sementara itu,  tidak jauh dari lingkup kehidupan penyandang disabilitas, tepatnya  di Panti Sosial Bina Netra - PSBN Tuah Sakato yang beralamat di Jalan By Pass, Simpang Taruko, Kalumbuak, penghuni panti juga merasakan hal yang sama. Sudah beberapa tahun ini, panti yang berjarak 6,8 kilometer dari pusat Kota Padang ini tidak lagi menyelenggarakan aktifitas pembelajaran yang mengasah keterampilan anak-anak penyandang netra. Alasan utamanya tidak lain pandemi Cocvid19 yang menyebabkan pemerintah  menempuh kebijakan dengan  menghentikan apa pun macam pembelajaran tatap muka.

Kesempatan anak-anak penyandang netra  mengecap pendidikan yang  layak seakan  sirna digerus pandemi yang entah kapan akan berakhir. Padahal anak-anak ini sangat membutuhkan wadah strategis untuk mereka mendapatkan pembinaan yang layak untuk  bekal menjalani kehidupan di masa depan. Namun apa yang terjadi, anak-anak penyandang netra di panti kehilangan kesempatan mendapatkan pembinaan yang maksimal sebagaimana ditegaskan Erma, Kasi Pembekalan Keterampilan dan Kecakapan PSBN Tuah Sakato Padang.

“Waktu terus berjalan tanpa ada hal-hal berarti yang bisa mereka perbuat. Kalaupun masih ada solusi yang ditawarkan melalui metode belajar online, hasilnya pun boleh dikatakan tidak  maksimal karena terkendala  berbagai persoalan klasik yang tidak terbantahkan, sebut saja masala biaya beli pulsa atau paket internet, kemampuan menyerap materi daring yang tidak bisa disamaratakan pada masing-masing anak dan lainnya,” ujar Erma.

Hal lain yang membebani kehidupan anak-anak panti adalah aturan pemerintah yang selama pandemi melarang instansi atau pun pelaku usaha  menggelar aktifitas ekonomi seperti bazaar, pasar murah, pameran dan lainnya.

Padahal melalui wadah ini, penyandang disabiltas di PSBN Tuah Sakato  Padang dapat menyalurkan kreatifitasnya, bahkan mendapatkan rupiah dari hasil kerajinaan tangan yang dipasarkan. Selama pandemi, kreatifitas mereka seakan terputus, kemampuan berinovasi tergilas badai pandemi yang  secara perlahan-lahan menumpulkan kreasi  dan inovasi kelompok marjinal ini.

Ibarat makan buah simalakama, gesekan yang terjadi tidak bisa dihindari sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, Jumaidi. Di satu sisi, kebijakan  dan pembatasan yang diberlakukan pemerintah selama pandemi Covid19 bertujuan baik yakni menyelamatkan kehidupan banyak orang. Namun tanpa disadari,  gerus pandemi telah merongrong  pemenuhan hak dan kebutuhan dasar kelompok marjinal yang mestinya dijamin pemerintah. Jumaidi menyebutkan,  beberapa kebutuhan dasar penyandang disabilitas yang urung dipenuhi pemerintah selama pandemi, diantaranya pelatihan-pelatihan keterampilan yang mengikutsertakan penyandang disabilitas bisa  berkompetisi di luar Sumatera Barat.

“Penyandang disabilitas yang  memiliki kemampuan lebih diberi kesempatan mengasah diri pada ruang  yang lebih bergengsi. Beberapa diantaranya adalah penyandang disabilitas dari PSBN Tuah Sakato yang mendapat kesempatan memperdalam kemampuan pijat di Kota Kembang, Bandung. Namun sejak pandemi, kegiatan positif itu terhenti begitu saja  karena alasan Covid19,” ungkap Jumaidi.

Pada sisi lainnya, keluarga atau orang tua dari anak-anak penyandang disabilitas juga terkena imbasnya. Seorang ibu misalnya, tentu tidak akan membiarkan masa depan anaknya yang terkendala fisik yang terbatasterlantar begitu saja. Upaya lain pun dilakukan demi kemajuan dan perkembangan si buah hati, salah satunya  dengan merangkul anak kembali ke pangkuan keluarga.

Dalam kenyataannya tidak semua orang tua khususnya ibu yang mampu memenuhi kebutuhan anak-anak penyandang disabiiltas. Wadah pembinaan  yang terbatas dan  diperparah  kemampuan serta pendidikan orang tua yang belum memadai menimbulkan masalah baru dalam keluarga.

Akibatnya muncul rasa jenuh orang tua menghadapi situasi dan kondisi anak yang seharusnya mendapatkan penempaan pada wadah yang memadai sebut saja sekolah ataun pun panti.  

Muara  dari sikap jenuh tersebut pada akhirnya memancing suasana menjadi tidak kondusif.  Emosi ibu yang tidak terkendali memicu perilaku dan kekerasan yang tidak seharusnya anak dapatkan. Kondisi tersebut dialami Sakinah, orang tua dari salah seorang anak penyandang disabilitas yang merasakan penurunan kualitas belajar anak selama pandemi Covid19.

“Tidak semua orang tua yang siap menghadapi kondisi pandemi ini. Adalah beban bagi seorang ibuy seperti saya yang setiap hari menyaksikan anaknya tidak bisa berbuat apa pun. Pemerintah harusnya peka, jangan lagi membebani kami,  kaum perempuan dan juga ibu lainnya dengan hal-hal yang sesungguhnya bisa dicarikan jalan keluarnya. Kasihan anak-anak kami, mereka butuh pendidikan yang layak dan tanggungjawab ke arah itu tidak seharusnya dilimpahkan kepada  orang tua semata,” ujar Sakinah.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan masyarakatnya dari paparan virus mematikan itu.  Namun di balik upaya yang dilakukan, terdapat kekurangan-kekurangan yang merugikan banyak kepentingan. Penanganan Covid19 tidak semestinya mengorbankan aspek kehidupan lain yang dari segi prioritas harus lebih  lebih diutamakan. Idealnya penanganan Covid19 tetap merangkul kepentingan lain dengan tidak menggilas pemenuhan hak dan kebutuhan dasar kelompok marjinal layaknya penyandang disabilitas.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00